Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / AMBIGUITAS K13, MENAKAR PERSOALAN DAN SOLUSI ALTERNATIF
AMBIGUITAS K13, MENAKAR PERSOALAN DAN SOLUSI ALTERNATIF
2 Komentar | Dibaca 1817 kali
Ali Harsojo @aliharsojo
21 November 2014

AMBIGUITAS K13, MENAKAR PERSOALAN DAN SOLUSI ALTERNATIF
Oleh
Ali Harsojo, M.Pd.
Guru SDN Pajagalan 2 Kecamatan Kota Sumenep
alee.harsojo@yahoo.com

A. Implementasi Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 yang dikenal sebagai K13 telah diterapkan sejak tahun lalu di beberapa sekolah percontohan (tahun ini diterapkan secara menyeluruh). Kondisi itupun tetap menyisakan pro dan kontra, khususnya di kalangan para praktisi pendidikan itu sendiri. Hal ini terjadi karena banyak asumsi berkembang (dan tidak ada yang menyanggah) bahwa kebijakan pemerintah terkait lahirnya K13 tidak sesuai dengan harapan dan kondisi nyata yang ada di lapangan. Masih banyak ditemukan para guru (yang ditunjuk) sebagai pelaksana kurikulum merasa bingung dengan diterapkannya kurikulum 2013 ini.
Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya adalah problem based learning, project based learning, dan discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do yang dielu-elukan dalam kurikulum 2013.
Pada pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku siswa dan buku guru. Masih dalam kebingungan yang belum usai, guru juga sangat direpotkan dengan lambannya pemerintah menghadirkan buku ajar maupun buku pegangan guru. Sejatinya, buku memang bukan sumber belajar segalanya, akan tetapi buku guru dan buku siswa menjadi wajib adanya sebagai dasar membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, instrumen penilaian dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Keadaan inilah yang memantik kegelisahan guru dalam mengajar dan melaksanakan kegiatan evaluasi pembelajaran.
B. Ambiguitas dan Persoalan K13
K13 yang diterapkan, tetap dijalankan ditengah kebingungan yang mendera sejumlah guru (apalagi guru dengan keterbatasan kemampuan IT) dengan beragam persepsi yang bermuara pada ketidakpuasan terhadap K13 itu sendiri. Beberapa hal penting yang menjadi akar persoalan pelaksanaan K13 dapat diketahui melalui beragam sumber informasi yang dihimpun sebagai berikut :
1. Kesulitan Guru dalam memahami Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Kesulitan yang juga menjadi keluhan serta kebingungan para guru adalah mengenai pemahaman tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Kebingunan memuncak ketika guru diberi PR untuk menganalisis KD serta muatan pelajaran pada setiap pembelajaran yang termasuk pada sub tema dan tema pembelajaran tertentu. Di samping itu guru diminta untuk menganalisis indikator setiap KD, merumuskan analisis kegiatan pembelajaran inti sebagai jabaran dari tujuan dan kegiatan pembelajaran yang tercantum dalam buku guru. Sebenarnya hal ini adalah tugas guru, akan tetapi melakukan analisis terhadap seluruh KD, indkator, buku guru dan buku siswa adalah bukan pekerjaan yang mudah dan instan cepat selesai. Analisis tersebut membutuhkan waktu tenang, keseriusan dan kecermatan. Hal inilah yang menjadi kesulitan bagi para guru.
2. Belum maksimalnya pelatihan yang serius terhadap guru pengajar
Para guru merasa kebingungan dalam melaksanakan K13 karena belum maksimal mendapat pelatihan terkait implementasi K13 ini. Pelatihan yang dilakukan sebagian hanya dapat dikatakan bersifat formalitas. Hal ini dapat dilihat dari tetap bingungnya banyak guru dalam melaksanakan K13.
3. Tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam
Para guru merasa bahwa hadirnya K13 bukan atas dasar riset atau observasi yang melibatkan langsung guru sebagai pemangku kepentingan utama KBM. Hal ini yang menjadi sesuatu yang disayangkan oleh para guru. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merekomendasi K13 untuk diterapkan.
4. Menitikberatkan siswa
Pada penerapannya K13 banyak “menyengsarakan” siswa dengan beragam tuntutan yang harus dipenuhi dengan pendekatan scientific. Siswa di sekolah tertentu mengeluh dengan banyaknya tugas dan tuntutan yang harus dilakukan mulai dari awal pembelajaran sampai di rumah harus bekerjasama dengan orang tua menyelesaikan materi ajar yang terporsi dan harus dikerjakan dengan orang tua.

5. Ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak
Sebagaian guru berasumsi, K13 terkesan mendadak diberlakukan sebelum secara utuh semua guru memahami alur, prosedur dan mekanisme penerapannya, termasuk ketidaksiapan guru dalam merespon hadirnya K13 dari berbagai aspek, salah satunya kesiapan kemampuan analisis dan IT.
6. Tematik lebih cocok di kelas rendah
KTSP diakui sementara sebagai kurikulum yang cukup representatif. Pada era ini tematik cukup diterapkan di kelas rendah (SD kelas 1,2, dan 3). Hal ini cukup relevan karena taraf berpikir anak masih pada pola pikir abstrak. K13 yang diberlakukan untuk kelas tinggi dapat menghilangkan substansi asal keilmuannya. Siswa tidak bisa membedakan lagi dari mana asal muasal materi ajar tersebut.
7. Rumitnya Penilaian K13
Hal utama yang membedakan K13 dengan Kurikulum sebelumnya adalah terletak pada cara dan prosedur penilaiannya. Beragam penilaian yang diberlakukan menjadi PR tersendiri bagi guru, karena tidak memungkinkan jika guru melakukan penilaian pada setiap momentum KBM, walaupun seharusnya hal itu yang harus dilakukan. Penilaian KI-1 – KI-4, penilaian diri, penilaian antar teman dan lain sebagainya menambah kerumitan evaluasi setiap anak. Beragam aplikasi muncul dan bersebaran dengan konsep yang nyaris tidak sama, menambah ambigu bagi guru (apalagi yang belum memahami IT). Keterbatasan kemampuan yang beragam, memunculkan persoalan tersendiri dalam kegiatan penilaian ini.
8. Tidak memperhatikan konteks sosiologis keIndonesiaan
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan beragam jenis budayanya tidak dapat dipersamakan keadaan sosiologisnya dengan kota kelahiran K13 Jakarta. K13 yang diciptakan di kota metropolitan, bukan berarti dapat diterapkan dengan persis sama di lain daerah, apalagi dipelosok negeri kepulauan ini.

C. Solusi alternatif
Sebagai guru, kita tetap berharap ada jalan lain menuju Roma untuk menyelesaikan problematika K13 yang sedang dirasakan. Pada kenyataannya, karena adanya perbedaan kemampuan dan pengetahuan guru, belum semua guru mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengamati fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan materi pelajarannya.
Hal inilah salah satunya yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Berdsarkan persoalan tersebut, ditawarkan solusi alternatif yang mungkin dapat dilakukan secara bersama-sama, antara lain:
1. Lesson study ataupun workshop yang membahas tuntas cara mengajarkan kegiatan pembelajaran yang dimaksudkan dalam kurikulum 2013. Menurut Sudrajat (2008) lesson study merupakan satu upaya meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru. dengan berkolaborasi guru mampu mengembangkan bagaimana siswa belajar dan bagaimana membelajarkan siswa. Selain itu melalui lesson study guru dapat memperoleh pengetahuan dari guru lainnya atau narasumber.
2. Memaksimalkan program pendampingan implementasi K13. Hal itu dimaksudkan karena di beberapa tempat masih ada kesan formalitas pelaksanaan pendampingan K13. Hal ini diperoleh melalui adanya umpan balik dari anggota lesson study. Sehingga kemampuan guru semakin hari semakin bertambah baik dengan melakukan contoh kemudian dikritisi ataupun dari memperhatikan contoh kemudian mengkritisi.
3. peningkatan kompetensi kepala sekolah, pengawas dan pihak terkait terhadap K13. Tidak hanya guru yang dituntut memahami K13 secara utuh, sementara pihak lain yang berkompeten justru merasa tidak punya tanggung jawab terhadap pelaksanaan K13. Ini yang dimaksud dengan paradoks. Guru diminta bertanggung jawab untuk melaksanakan K13 secara utuh, pihak lain hanya meminta laporan pelaksanaannya.
4. realitas di lapangan banyak dijumpai, ada indikasi beberapa guru yang ditunjuk untuk mendalami K13, hanya hafal pada tataran teori, tetapi secara empiris, tidak banyak ditemukan guru yang berpengalaman itu benar-benar melakukan K13 secara mandiri dan utuh. Oleh karena itu perlu peningkatan peran serta para Instruktur Nasional, Guru Pendamping maupun pihak lain yang berkompeten untuk menyamakan persepsi, setidaknya dalam satu kabupaten pemahaman K13 ini sama dan sejalan serta menggunakan format yang seragam.

Daftar Pustaka
Sudrajat, Akhmad. 2008. Tentang Lesson Study. Diakses melalui http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untuk-meningkatkan-pembelajaran/
http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/08/sejumlah-masalah-dalam-kurikulum-2013-549347.html
http://edukasi.kompas.com/read/2014/01/02/1611598/Penerapan.Kurikulum.2013.Hanya.Sekadar.Formalitas
http://www.tempo.co/read/kolom/2013/07/10/762/Problematika-Implementasi-Kurikulum-2013

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Terdapat 2 Komentar pada "AMBIGUITAS K13, MENAKAR PERSOALAN DAN SOLUSI ALTERNATIF"

  1. ABDUL RAHMAN

     |
    November 22, 2014 at 7:47 am

    terima kasih, cukup mewakili Relevansi analisa lapangan yang kami alami di Madrasah, terutama pemberlakuan Thematik integratif di kelas tinggi, membingungkan Guru-guru kami walaupun kami jalani apa adanya. Apresiasi kepada penulis untuk wacana ini.

  2. Ali Harsojo

     |
    February 5, 2015 at 11:04 am

    terima kasih, mari kita terus berupaya memajukan mutu pendidikan kita, mohon kritik sarannya

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Gipsy Marpaung

Hanya seorang mahasiswa yang peduli akan pendidikan di Indonesia, terutama dibagian pelosok daerah yang mas ...
Daftar Artikel Terkait :  1

Kategori

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0