Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Cerpen KADO ULTAH GURUKU
Cerpen KADO ULTAH GURUKU
0 Komentar | Dibaca 1306 kali
SAHABUDDIN @elsah
31 December 2014

DSCN3259

Guruku duduk sendirian di sudut sekolah terseyum-senyum ketika melihat layar HPnya,rekan di kota mengabarkan bahwa calon Bupati yang didukungnya menang.”Alhamdulillah semoga ini pilihan Allah untuk memajukan daerah ini”,batin Pak Rahmat lalu mengenang jalan hidupnya yang terlempar ke gunung gara-gara salah dukung pada pilkada 5 tahun yang lalu.
Pak Rahmat adalah mantan kepala sekolah yang sekarang menjadi menjadi guru biasa yang mengajariku PKN, orangnya sederhana dan selalu mengajarkan nilai-nilai agama dan budi pekerti. Guru PKNku ini tidak kaku pada tuntutan kurikulum,aktif melatih kami Pramuka dan PMR di sekolah.Dalam mengajar guruku lebih banyak menanamkan nilai agama dan budi pekerti dari pada materi-materi yang ada di buku paket.”Untuk apa kita belajar demokrasi yang baik, kalau bapak-bapak atas yang seharusnya kita contoh mempraktekkan demokrasi yang buruk”,”Untuk apa kita mendalami materi korupsi kalau para pejabat yang seharusnya kita contoh mempratekkan korupsi itu”,ujar Pak Rahmat di hadapan para siswa.
Yang ditanamkan adalah bahwa Allah bersama kita,melihat dan mengawasi apa yang kita lakukan,mencatat dan akan membalas perbuatan kita, Sekecil apapun perbuatan dosa yang kita lakukan Allah akan membalasnya dengan neraka,siksa neraka yang teringan adalah iabarat kita disuruh memakai sepatu besi yang sudah dipanasi sampai merah yang membuat otak meleleh. Sebelum memulai pelajaran guru PKN ini selamanya memimpin siswa untuk berzikir,beristigfar lalu berdoa di dalam hati karena Allah Maha Mengetahui isi hati kita.
Pak Rahmat adalah sosok guru yang profesional.Mutasinya ke gunung tidak dipandangnya sebagai hukuman karena tidak mendukung calon bupati yang menang,melainkan dianggap sebagai penambah pengalaman.Lagian Pak Rahmat sejak dari awal bersedia di temapatkan di manapun dalam wilayah negara ini.Sehingga di gunung pun Pak Rahmat tetap bersemangat menjalankan tugasnya.Pak Rahmat menyadari bahwa dirinya diangkat dan digaji oleh negara maka tidak pantas bermalas-malasan kalau cuma dimutasi ke tempat yang jauh.Kepada negaralah Pak Rahmat mempertanggungjawabkan tugasnya,bukan kepada pejabat bupati yang menyingkirannya.
Sejak bertugas di salah satu SMP di daerah gunung, Pak Rahmat amat disukai oleh masyarakat lingkungannya.Kompetensi sosialnya bagus.Dia dekat dengan masyarakat, apalagi dia suka berdakwah, dia selalu diundang untuk ceramah Ramadhan, Khukbat Jumat/dan Khutbah lebaran dan kadang pula diundang membawakan Taziah,ataupun acara barzanji.Diapun aktif membina remaja masjid dan membina masyarakat mengenal teknologi pertanian.
Mengetahui bahwa Pak Rahmat mempunyai pengaruh di daerah pengunungan yang terdiri dari beberapa desa, maka oleh Bupati, dengan kepentingan politiknya,memanggilnya ke rumah jabatan dengan maksud untuk diangkat menjadi kepala SMP di tempatnya mengajar.”Terima kasih atas kepercayaan Bapak” namun Pak Rakmat menolaknya dengan halus,Pak Rahmat tidak mau lagi menerima jabatan atas dasar balas jasa bukan karena kompetensi,karena balas jasa itu kelak bisa berubah menjadi balas dendam seperti yang telah dialaminya selama lima tahun ini.Menolak tawaran pimpinan maka selanjutnya Pak Rahmat menuai tekanan dan intimidasi.
Masyarakat pegunungan tahu bahwa Pak Rahmat mendapat ancaman dari salah satu calon bupati, maka masyarakat satu kecamatan mengancam bupati tak akan mendapat suara untuk calon yang didukungnya bila Pak Rahmat diganggu.”Kami tidak setuju kalau pilkada ini diwarnai dengan tekanan dan intimidasi”,demikian salah satu bunyi surat protes masyarakat pegunungan kepada bupati.
Pak Rahmat adalah guru idolaku di sekolah dan tokoh masyarakat yang disegani di kampung.Pak Rahmat selalu mendakwakan pemilihan yang bersih, menanamkan pada masyaraat bahwa penyogok,disogok dan perantaranya akan masuk neraka, kalau calon menyogok agar menang,maka setelah memangku jabatan dia akan mencari uangnya maka dilakukanlah korupsi,membuka penerimaan pegawai dengan sogokan dan cara lain untuk meraup keuntungan diri dan keluarganya.”Pilihlah sesuai hati nurani,karena Allah akan memimpin kita melalui hati nurani untuk memilih calon pemimpin yang dikehendaki-Nya.Memilih karena nafsu uang hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan penyesalan”,kata Pak Rahmat di depan jemaah.Oleh karena itu,rakyat dipengunungan tak ada yang mau disogok atau menjadi perantara para penyogok. Mereka memilih pemimpin yang bermain bersih sesuai pilihan hati nuraninya.
Tanggal 25 Nopember adalah hari ulang tahun guruku yang tercinta.Kami seluruh siswa bermaksud melakukan perayaan hari Ulang Tahun Pak Rahmat. Rencana ini saya sampaikan kepada Kepala Sekolah dan juga kepada ayahku yang kebetulan adalah pejabat Kepala Desa di desaku.Kepala sekolah dan Kepala desa sangat mendukung rencana kami sehingga kami selaku pengurus OSIS mempersiapkan segala sesuatunya.
Pesta ulang tahun Pak Rahmat berlangsung dengan meriah.Pesta ini dimerahkan dengan berbagai lomba olah raga dan seni selama seminggu dan puncak perayaan dihadiri oleh calon bupati pemenang pilkada yang lalu.”Siapa yang mengundang Pak Ilham di pesta ini”,tanya beberapa teman panitia.”Ayahku yang mengundangnya,ayahku adalah team suksesnya di desa ini”,jawabku.Acara puncak diisi dengan penampilan kreasi seni sekolah kami,antara lain tari,menyanyi,dancing dan puisi.Semua yang ditampilkan adalah kreasi asli buatan siswa sekolah kami.Semuanya dibuat khusus untuk ulang tahun Pak Rahmat.
Usai aku menyampaikan laporan ketua panitia,giliran Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutan dilanjutkan dengan sambutan ayahku selaku kepala desa.Baik kepala sekolah maupun kepala desa menyampaikan apresiasi atas kinerja Pak rahmat di sekolah maupun dalam masyarakat.”Selama Pak Rahmat berada di sekolah ini,prestasi-prestasi sekolah semakin meningkat”,ungkap Pak Karim,kepala sekolah kami.”Saya memandang bahwa Pak Rahmat adalah sosok guru yang ideal,selain menjadi panutan siswa di sekolah,beliau juga adalah panutan masyarakat.Selama berada di desa ini,masyarakat semakin memiliki kesadaran hidup bermasyarakat.Para pemuda yang sebelumnya nganggur,kini telah giat berusaha”,ungkap ayahku.
Pembicara terakhir adalah calon bupati terpilih.Walau tidak teragenda dalam acara ultah ini,namun Kepala Sekolah menambah acara dengan mempersilahkan beliau untuk melengkapi acara.”Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat desa ini kepada saya untuk memimpin daerah ini lima tahun ke depan.Saya sangat terharu pada masyarakat desa ini karena 90 % memilih saya”ungkap Pak Ilham disambut tepukan oleh hadirin.”Saya menyampaikan rasa bangga saya atas prestasi yang telah diukir oleh Pak Rahmat selama bertugas di daerah gurung ini.Sosok seperti inilah yang sangat kita harapkan dimiliki oleh seluruh aparat negara dan abdi masyarakat.Tidak seperti pegawai lainnya yang telah kelihangan jabatan,mereka kecewa dan melakukan aksi malas kerja,padahal siapa yang rugi tentunya negara yang memberi gaji,masyarakat yang menbayar pajak dan dirinya sendiri karena kelak di negeri akhirat mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kebolosannya selama kehilangan jabatan.Padahal seharusnya kita tidak demikian.”tambah Pak Ilham disambut tepukan hadirin,”Hidup Pak Ilham !!!: teriak beberapa hadirin.
“Banyak pegawai atau guru yang khawatir atas kemenangan saya.Mereka khawatir atas budaya cuci gudang,balas jasa dan balas dendam politik.Pada kesempatan ini saya kembali menegaskan bahwa dalam kepemimpinan saya tidak ada istilah cuci gudang,balas jasa maupun balas dendam.Saya akan memilih pembantu-pembantu saya orang-orang yang berkompetensi,kalaupun ada dari keluarga atau pun team sukses saya yang mendapat jabatan,itu karena pertimbangan kompetensi atau prestasinya”,lanjut Pak Ihlam disambut tepukan hadirin”Seperti halnya Pak Baso,kepala desa Moncong ini karena bukan PNS jadi tidak mungkin saya akan beri jabatan sebagai kepala dinas walau beliau adalah team sukses saya.Tetapi Pak Rahmat,mungkin sangat cocok kalau saya percayakan sebagai kepala sekolah atau kepalanya kepala sekolah,setujuuu ?”.”setujuuuuu !!!” serentak hadirin menjawab.”Pak Rahmat sangat cocok menduduki jabatan di pendidikan karena beliau sarjana pendidikan dan guru yang berprestasi, yang sarjana ekonomi kita tempatkan di bagian ekonomi,yang sarjana pemerintahan kita tempatkan di pemerintahan,karena menempatan sesuatu yang bukan pada tempatnya adalah suatu kebodohan dan pemborosan”.”Betuuulll !!!”,sambut hadirin.
Usai sambutan dilanjutkan dengan tiup lilin oleh Pak Rahmat dan pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan oleh Kepala Sekolah lalu diserahkan kepada Pak Ilham,kemudian aku selaku ketua OSIS mewakili teman-teman menyampaikan sebuah bingkisan kepada Pak Rahmat,isinya tentu yang berhubungan dengan kebutuhan Pak Rahmat sebagai guru.Terakhir Pak llham menyerahkan bingkisan pula kepada Pak Rahmat dan sebuah amplop.Amplop inilah yang menjadi tanda tanya hadirin,apakah berisi uang atau apa ya ?.
Usai membuka amplop Pak Rahmat melangkah ke depan lalu berkata: “Kalau jabatan ini diberikan padaku sebagai balas jasa maka berikan saja kepada yang lain yang lebih berjasa,karena saya tidak merasa membantu Bapak dalam pilkada, karena esok lusa Bapak akan mencopotnya lagi bila saya tidak lagi mendukung Bapak bila keluar dari kebenaran, tapi bila jabatan ini karena suatu amanah maka saya akan menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan saya sampaikan kepada bapak bahwa Saya tidak mau jabatan ini kelak membuat kemerdekaan saya dirampas lalu dipermainkan dan dijadikan alat politik, saya mau menikmati kemerdekaan diriku bebas mengurusi anak didikku, saya tidak mau lagi merasa terjajah oleh kepentingan politik,kujalankan tugas negara sesuai aturan yang berlaku. Saya tidak mau pada jam kerja berada di lapangan mengikuti kampanye atau mengikuti pertemuan politik lalu pekerjaan di sekolah yang menjadi tanggungjawab saya terlantar.Saya tidak mau melalaikan tugasku yang nantinya Allah menghukumku demi ambisi politik orang lain. Saya tidak mau ditekan apalagi diancam-ancam. Saya ini pendidik.Pekerja professional,yang kerjanya disekolah,bukan berkeliling di masyarakat untuk mencari suara.Saya tidak mau dijajah oleh siapapun”,ungkap Pak Rahmat,”Betuuull” seru hadirin.Nampak Pak Ilham bertepuk tangan diikuti hadirin lainnya.”Oke,Pak Rahmat !!,makanya guru jangan terlalu menonjolkan diri dalam permainan politik”,Jawab Pak Ilham singkat.(Palajau,Nopember 2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Galang Adhi Wirasto

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  3

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0