Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / HIKMAH DI MULUT PENGEMBALA BEBEK
HIKMAH DI MULUT PENGEMBALA BEBEK
0 Komentar | Dibaca 1024 kali
SAHABUDDIN @elsah
26 December 2014

Pak Gilang termasuk pejabat yang kebal di daerahnya.Walau berapa kali diberitakan penyelewengannya di koran,majalah atau tabloid yang beredar di daerahnya namun belum ada yang bisa membuktikan kebenaran berita tentangnya.Sebelumnya sempat didemo oleh guru-guru bersama komite sekolah karena dinilai menyelewengkan dana bantuan sekolah.Tetapi aksi demo itu gagal karena tuntutan pendemo agar sepak terjang Pak Gilang disekolahnya di periksa secara hukum tidak dilakukan.Pak Gilang hanya dipindahkan ke sekolah lain yang lebih subur.Di sekolah barunya, Pak Gilang kembali di demo warga karena dianggap menyelewengkan dana BOS.Lagi-lagi Pak Gilang tidak diperiksa secara hukum,justru dinaikkan jabatannya.Sedangkan guru yang ketahuan memprovokasi warga untuk melakukan aksi demo di mutasi ke daerah pegunungan karena dipersalakhan tidak loyal terhadap pimpinan dan sempat menikmati udara ruang tahanan polisi karena dituduh melakukan pencemaran nama baik.
Di jabatan barunya yang lebih tinggi dari kepala sekolah,Pak Gilang tidak bisa berbuat apa-apa,karena ditempat kerja barunya,Pak Gilang hanya bisa menikmati lahan yang kering.Tidak ada yang bisa ditanam atau dinikmati dilahan yang kering.Tidak lama kemudian-entah bagaimana usahanya-setelah Pilkada Pak Gilang menempati lahan yang basah.Pak Gilang semakin leluasa menjalankan aksinya tanpa peduli bahwa yang dilakukannya itu termasuk merugikan negara.Hingga suatu ketika,sewaktu pulang dari sebuah permandian,Pak Gilang melihat segerombolan bebek yang sedang digiring oleh seorang pemuda.Bebek itu berjumlah sekitar ribuan ekor.Kegemarannya makan bebek bakar membuat Pak Gilang menyuruh sopirnya mengehentikan mobil di dekat bebek-bebek itu.
“Banyaknya bebekmu anak muda, bisa saya beli satu ?”,tanya Pak Gilang pada pengembala bebek.”Bukan bebek saya Pak,Bebeknya Haji Rahman saya cuma disuruh mengurusnya”,jawab pengembala itu dengan acuh tak acuh.”Memangnya kenapa ?,saya tak peduli siapa pemiliknya,saya hanya ingin membeli satu ekor saja,dan saya lihat bebek-bebek ini banyak sekali dan juraganmu pasti orang kaya,dia tidak akan persoalkan kalau kehilangan seekor bebeknya”,kata Pak Gilang berusaha membujuk pengembala bebek.”Tidak bisa Pak,saya takut”,jawab pengembala.”Kau katakan saja pada juraganmu bahwa seekor bebek mati dimangsa anjing atau musang,pasti juraganmu percaya”,bujuk Pak Gilang.
Merasa terus dibujuk,pengembala itu memandang Pak Gilang yang berpeci putih dengan tatapan aneh,pengembala itupun berkata,”Benar Pak,bebek ini memang sangat banyak dan Haji Rahman pemiliknya orang yang kaya di desa ini,jika aku berbohongpun dia tidak akan tahu walau kujual sepuluh ekor.Tapi Pak,di tempat kita ini ada Allah yang melihat kita,kita tidak bisa berbohong dihadapan Allah.Apalah artinya uang dari seekor bebek kalau kita berbohong di hadapan Allah yang ada bersama kita”.
Pak Gilang terdiam mendengar perkataan pengembala itu.”Ketakutanku kepada Allah adalah keimananku,itulah harga diriku Pak,menemukan iman tidaklah mudah.Sepuluh tahun aku menjadi pengurus bebeknya Haji Rahman dan di sinilah aku memperoleh iman,ketakutan dan kesabaran.Di sinilah aku merasa bertemu dan berteman dengan Allah.Gajiku mengurus bebek tidak seberapa dibanding nilai iman yang kudapatkan”. sambung pengembala.Mendengar jawaban pengembala itu terguncang tubuh Pak Gilang dan menetes air matanya.Terasa ada tetesan embun yang membasahi hatinya.”Ya,Allah betapa mulianya pengembala ini dibanding aku yang tidak memiliki rasa takut kepada-Mu”,batin Pak Gilang dan langsung menyuruh sopirnya melanjutkan perjalanan tanpa membeli bebek.
Sepulang ke rumah,usai shalat Pak Gilang memohon ampun,bertaubat kepada Allah dan berjanji tidak akan melakukan kecurangan lagi dalam mengelola uang negara yang menjadi tanggung jawabnya.Setelah kejadian itu Pak Gilang tidak berani lagi melakukan penyelewengan dana.Pak Gilang sudah takut kepada Allah,yang memang begitulah seharusnya bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah, “Janganlah kamu takut kepada sesama manusia,tetapi takutlah kepada-Ku”(QS.Al Maaidah:44)“Allahlah yang berhak kamu takuti,jika kamu benar-benar orang yang beriman”(QS.Taubah:13)“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar”(QS.Al Mulk:12).Mengaku beriman tetapi tidak takut kepada Allah sama dengan bohong.Mengaku takut kepada Allah tetapi suka melakukan kecurangan dihadapan Allah juga adalah bohong sebagai ciri orang yang munafik.
Untuk kita renungi: Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang paling takut kepada-Nya dan tidak takut kepada sesame manusia.Dan orang yang paling hina adalah orang yang takut kepada manusia dan tidak takut kepada Allah.(Ella’).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Riana Soraya

Personal blogger yang peduli pendidikan, silahkan lihat tulisan terbaru saya di http://berandasehat.com/tip ...
Daftar Artikel Terkait :  9

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0