Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Kenapa Mencuri ???
Kenapa Mencuri ???
1 Komentar | Dibaca 1304 kali

Penulis : ZaidBuri Prahastyo (Terapis Hipnoterapi dan NLP terapi, Guru BK SMK Darussalam Makassar)

Pagi itu cuaca sangat cerah, lalu lalang kendaraan di jalanan cukup lancar, kecepatan pengendara menunjukkan kondisi jalan yang lenggang dan keinginan para pengguna jalan untuk disiplin tepat waktu tiba di tujuan masing-masing.

Seperti biasa, seluruh siswa Apel tiap hari jam 7 pagi di masing-masing jurusannya. Setelah sedikit pesan yang ditutup dengan doa yang berisi harapan untuk hari itu, Apel selesai pukul 7.15, masih ada waktu 15 menit untuk bersiap-siap sebelum pelajaran pertama dimulai.

Saya senang mengisi pagi dengan bertegur sapa, mengunjungi kelas-kelas, memberi semangat dan pujian, berharap hari ini ada siswa yang terinspirasi dan tercerahkan hari-harinya selamanya. aamiin.

Beberapa guru pelajaran pertama tampak bergegas memasuki ruang kelas sesaat sebelum bel 7.30 berbunyi. Saya kembali ke ruang BK, membuka agenda hari itu, membuat beberapa persiapan dan memulai pekerjaan menganalisa.

Tiba-tiba seorang guru produktif mendatangi saya, “Pak, semalam saya mendapat laporan dari Melati, katanya ATMnya hilang, pagi ini dia call saya dari bank, katanya tabungannya sudah ludes.”
Saya menyimak dengan baik, secara otomatis tubuh saya melakukan mirroring, menjadi pendengar yang baik adalah syarat mutlak.
“Semalam sebelum hilang dia ingat Bunga menanyakan pinx, tapi karena seperti main-main dan mereka sementara dalam perbincangan kelompok, si Melati tanpa curiga memberi tahu,” katanya lagi, “Sebelum tidur kebetulan dia mau menyimpan sesuatu di dompetnya, begitu melihat kartu ATMnya tidak ada, Melati langsung ingat percakapan sore itu si Bunga menanyakan pin ATM. Bagaimana nih Pak?”

Begitu pembicaraan diserahkan kepada saya, saya langsung melakukan tes gelombang pikiran, saya condongkan badan saya ke depan. Seketika itu juga rekan guru produktif juga mencondongkan badannya ke depan mengikuti gerakan saya (mirroring). “Baik Bu, saya akan panggil Melati dan Bunga, kemudian kita berikan penjelasan kepada orang tua masing-masing, menengahi mereka, mudah-mudahan mereka dapat mensepakati jalan keluar,” ujar saya.

Proses berlangsung segera, tanpa kesulitan saya berhasil menghadirkan orang tua Bunga dan Melati.

Mediasi segera saya berikan, sesuai strategi yang sudah saya rumuskan beberapa saat sebelumnya. Saya memberikan pemandangan umum tentang pendidikan, banyak mengutip kalimat-kalimat Ayah Edy dan Mario Teguh, mempersiapkan para orang tua untuk tetap bersikap dewasa terhadap kejadian ini, melakukan ice breaking berkali-kali, melakukan mirroring kelompok, kemudian bercerita tentang kisah-kisah legenda yang kejadiannya mirip dengan kejadian sebenarnya yang kemudian saya ceritakan setelahnya.

Setelah saya bercerita kemudian saya meminta Melati bercerita, kemudian gantian Bunga yang tentu saja menolak dianggap mengambil ATM tersebut.

Saya kemudian memberikan beberapa alternatif solusi, meminta tanggapan masing-masing orang tua, dengan selalu mengingatkan mereka bahwa kejadian ini adalah untuk melatih orang tua bersabar dan lebih perhatian kepada anak, mendampingi mereka dan menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam keluarga.

Saya sampaikan juga bagaimana kejadian ini apabila dibawa ke ranah hukum (polisi), dan menyelesaikan secara baik-baik adalah lebih utama demi masa depan anak.

Uang dalam ATM Melati tidaklah seberapa, tidak lebih banyak dari harga gadget yang dipakai Bunga. Tetapi efek yang ditimbulkannya, rasa malu yang mendera, adalah tak ternilai harganya.

Keluarga harusnya hadir dalam perilaku anak. Demikian pula Sekolah. Orang tua dan guru harus mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak. Dampingi anak dalam menonton televisi, berikan penjelasan setiap kali keinginan anak tidak mampu orang tua dan guru penuhi. Didik anak untuk bisa memahami kehidupan, mengisi hidupnya dengan kebaikan terus menerus.

Yang kita miliki hanyalah Nama Baik, maka jagalah nama itu baik-baik. (Anies Baswedan)

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "Kenapa Mencuri ???"

  1. Eduard Simamora

     |
    December 6, 2014 at 1:48 pm

    KENApa upaya ???

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Dropship Tas

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  2

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0