Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / PENTINGNYA KETELADAN DALAM MENDIDIK
PENTINGNYA KETELADAN DALAM MENDIDIK
0 Komentar | Dibaca 1048 kali
SAHABUDDIN @elsah
31 December 2014

10313621_480732628726960_3607977038179227100_n

Setiap orang tua tentu menginginkan anak yang baik,yang saleh,yang kelak bisa berbakti kepada orang tua,masyarakat,agama,bangsa dan Negara.Yang pertama diinginkan oleh orang tua adalah anak yang patuh,yaitu patuh pada orang tua dan patuh pada agama.Berbagai cara yang dilakukan orang tua untuk membentuk anaknya seperti ayang diimpikannya,antara lain menanamkan kedisiplinan,menanamkan nilai agama atau menyekolahkan di pesantren.Namun,tidak semua usaha orang tua berhasil,antara lain faktor penyebabnya kegagalan adalah orang tua itu sendiri.
Ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh,yang alim dan rajin shalat.Mereka selalu menyuruh anaknya mengaji (rutin membaca Al Quran),belajar agama dan selalu menyuruh ke masjid untuk shalat berjamaah.Tetapi yang menjadi masalah adalah orang tuanya tidak mampu menyuruh dirinya sendiri untuk melakukan apa yang diperintahkan kepada anaknya.Berbagai alasan yang dikemukakan kepada anaknya agar dibenarkan bila tidak rutin mengaji atau shalat sendirian di rumah.Hasilnya adalah seperti yang ada pada orang tuanya.
Adapula orang tua yang selalu memarahi bahkan menghukum anaknya bila merokok,main kartu (judi),menonton film forno atau minum minuman keras,tetapi sayang,orang tua selalu memperlihatkan tontonan yang dilarangnya terhadap anaknya.”Mengapa melarang anak merokok sedang kamu sendiri merokok ?”,maka jawabnya”Belum saatnya merokok nanti bisa cari uang sendiri”.Mengapa melarang menonton film forno ?,jawabnya belum pantas baginya menonton film forno karena belum punya istri.”Ini tontonan orang dewasa,tidak boleh bagi anak-anak karena berbahaya bagi anak-anak”,jawabnya kala anaknya protes.Anak-anak justru mencari kesempatan karena penasasan,apa bahayanya,kalau ternyata menurutnya tidak berbahaya maka anak akan mencap orang tuanya sebagai pembohong.
Begitupun halnya guru-guru di sekolah,banyak yang menginginkan anaknya disiplin,tetapi guru sendiri tidak mampu memberi contoh kepada siswanya bagaimana itu disiplin ?.Yang terlambat datang atau yang cepat pulang atau yang suka bolos ?”.Maka kesdidiplinan siswapun akan seperti model kedisplinan gurunya.
Memberikan perintah atau nasehat tanpa disertai dengan keteladan adalah membuang-buang kata.Melarang orang lain tanpa sanggup melarang diri sendiri juga membuang-buang kata.Maka alangkah indahnya cara mendidik Rasulullah SAW yang setiap perintah dan larangan yang disampaikan kepada umatnya selamanya diikuti dengan cantoh/teladan.Rasulullah SAW memberi contoh pelaksanaan ibadah,contoh pelaksanaan hidup sederhana,contoh berdagang yang benar,dan sebagainya.Oleh karena itu,tidak ada perintah melaksanakan suatu ibadah kalau Rasulullah SAW tidak pernah memberinya contoh/teladan.Tidak ada larangan dalam agama kalau Rasulullah SAW tidak meninggalkannya.
Maka begitupula yang diinginkan anak pada orang tuanya.Wahai ayah,berilah contoh terhadap apa yang engkau perintahkan kepadaku,bagaimana itu rutin mengaji,bagaimana itu shalat berjamaah,atau bagaimana itu bersedekah,dan sebagainya.Anak tentu akan bertanya,kalau ayah melarangku merokok,lalu mengapa ayah merokok ?,kalau melarangku berjudi,mengapa ayah berjudi ?,kalau melarangku minum minuman keras,mengapa ayah yang minum minuman keras ?,kalau melarangku berbohong,lalu mengapa ayah berbohong.
Pemberian perintah dan larangan tanpa disertai keteladanan akan membuat perintah dan larangan itu tidak abadi,karena anak menerimanya secara terpaksa,dan kelak anak akan melanggarnya bila orang tuanya tak ada di tempatnya.Sebaliknya kalau disertai keteladanan maka perintah dan larangan akan abadi karena menganggap perintah dan larangan itu bersumber dari teladan hidupnya.Satu keteladan itu lebih berarti daripada seratus nasehat.Orang tua yang suka memerintah dan melarang anaknya tanpa disertai dengan contoh/teladan maka kelak akan dituntut oleh Allah,seperti halnya seorang ustaz yang gemar menceramahi orang lain,namun dia sendiri tidak seperti dengan apa yang diceramahkan itu.Yang diceramahi masuk surga sedangkan penceramahnya masuk neraka.Bisa-bisa anaknya masuk surga sedangkan orang tuanya masuk neraka.(Palajau,31 Desember 2014).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Mohammad Harmanto

Guru Matematika dan IPA SMPLB
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0