Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / SEBUAH HARAPAN UNTUK PENGURUS PGRI
SEBUAH HARAPAN UNTUK PENGURUS PGRI
0 Komentar | Dibaca 1372 kali
SAHABUDDIN @elsah
25 December 2014

1558426_690415200980271_384342068_n

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 memberi pengakuan bahwa guru adalah sebuah profesi, maka untuk menegaskan sekaligus juga memenuhi ciri dari suatu profesi maka guru membentuk Organisasi Profesi Guru, yang ketentuannya PP No. 74 Tahun 2008 memberi peluang bagi guru untuk membentuk organisasi guru atau memilih menjadi anggota salah satu organisasi guru yang dikehendakinya yang bisa mengurus kepentingannya dan memberi kemaslahatan bagi pendidikan di tanah air ini.Berdasarkan Peraturan perundang-undangan tersebut maka Guru di Indonesia telah membentuk berbagai profesi guru,diantaranya yang namanya telah lama dikenal oleh masyarakat adalah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI),sebagai organisasi profesi guru yang tertua di Indonesia yang setiap tanggal 25 Nopember , sejak terbitnya Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, diperingati sebagai hari lahir PGRI atau sebagai Hari Guru Nasional. Kehadirannya dapat menjadikan guru-guru di Indonesia lebih profesional dan sejahtera, dan memberi kemaslahatan bagi masyarakat luas, sebagaimana diisyaratkan dalam tridarma organisasi profesi, yaitu: (1) ikut serta mengembangkan ilmu dan teknologi profesi; (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan profesi; dan (3) menjaga kode etik profesi.
Beberapa waktu yang lalu beberapa PGRI kabupaten telah menggelar Konferensi Kabupaten PGRI,antara lain angendanya adalah pemilihan pengurus baru.Ada di antaranya memilih ketua PGRI dari kalangan guru aktif dan ada pula-misalnya-PGRI Gowa memiliki Wakil Bupati Gowa menjadi Ketua Umum PGRI.Siapapun yang menjadi PGRI,apatah guru aktif baupun guru yang sudah tidak aktif tidak menjadi masalah bagi PGRI,yang penting para pengurus bisa menjadikan PGRI sebagai organisasi perjuangan juga,bukan perjuangan kepentingan kelompok tertentu.Segabai organisasi profesi,PGRI diharapkan mampu membangun organisasi ini sebagai pejuang,antara lain memperjuangkan agar guru menjadi semakin professional dalam melaksanakan tugasnya,bisa menjaga kehormatan dirinya melalui penerapan kode etik guru,terjaminnya keamanan dan ketenangan dalam melaksanakan profesi dan yang yang tak kalah pentingnya adalah memperhatikan kesejahteraan guru,termasuk guru honorer yang selama ini kesejahteraan yang diperoleh dari profesinya masih jauh dari Upah Minimun.

PGRI adalah merupakan organisasi profesi guru yang tertua di Indonesia,pada 25 Nopember 2014 guru-guru di seluruh Indonesia memperingatinya yang ke-69.Organisasi ini telah memiliki bergudang-gudang pengalaman dan peran dalam kelangsungan hidup bangsa dan negara.Dengan usia yang demikian dewasa itu,tentunya para komunitas guru masih menaruh harapan yang besar kepada PGRI sebagai wadah perjuangan dan penyalur aspirasi guru. Sebagai bagian dari pekerja pendidikan,melalui tulisan ini penulis menyampaikan beberapa harapan guru kepada organisasi PGRI,terutama pada PGRI Kabuapten Jeneponto,antara lain:
1. PGRI harus menyentuh urat nadi para pendidik di daerah. Bukan sebagai politis untuk menyiapkan seseorang menjadi kepala sekolah, kepala dinas pendidikan atau anggota legislatif. Bukan sekedar organisasi menarik iuran-iuran wajib yang akhirnyapun dikorupsi. PGRI diharapkan mampu memperjuangkan nasib guru terutama guru-guru honorer yang dalam kenyataan di sekolah-sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dengan guru PNS,bahkan kadang dimanfaatkan oleh guru PNS yang suka berkeliaran.
2. PGRI diharapkan pula mampu turun ke dunia nyata untuk membereskan kerusakan moral anak bangsa termasuk pula kerusakan moral guru yang kerjanya cuma keluyuran dan melalaikan tugas. PGRI jangan hanya menjadi kumpulan para resi yang bertapa di kahyangan, namun sudah saatnya turun ke bumi merealisasikan pemikiran-pemikirannya dalam mengatasi demorasisasi para pelajar.
3. Diharapkan peran PGRI dalam membina dan merekomendasi guru-guru yang layak menjadi kepala sekolah.Jangan hanya karena uang atau karena jasanya dalam pilkada sehingga seseorang diangkat menjadi kepala sekolah padahal sebenarnya belum siap (kompetensi) menjadi kepala sekolah.PGRI diharapkan perannya pula memberi rekomendasi kepada penentu kebijakan untuk menonaktifkan pejabat yang sudah tidak layak menjadi kepala sekolah atau tidak bisa membawa perubahan pada sekolah yang dipimpinnya,apalagi yang tersangkut suatu masalah.
4. Diharapkan PGRI jangan melibatkan guru dalam politik praktis untuk mendukung salah satu calon kepala daerah,karena bisa mengganggu tugas-tugasnya di sekolah,lagi pula melanggar aturan netralisasi PNS dalam Pilkada.Melibatkan guru dalam politik untuk mendukung seseorang bisa membuat kebebasan guru terganggu,apalagi kalau dibumbuh dengan intimidasi “mutasi” maka bisa membuat guru merasa tertekan,akhirnya meninggalkan tugas-tugasnya di sekolah demi keamanan dirinya.Bagaimana guru bisa mendisiplinkan siswa kalau pada saat jam mengajar berada di luar sekolah mengikuti kampanye salah satu peserta kompetisi Pilkada. Terpenting juga adalah organisasi guru bukan wadah untuk beraliansi secara politis atau arena politik praktis bagi para guru. Konsekuensinya adalah organisasi guru haram untuk berafiliasi dengan partai politik apapun.
5. PGRI harus mengetahui kenyataan di lapangan bahwa selama Ujian Nasional menjadi penentu kelulusan siswa,perhatian pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan hanya tertuju pada mata pelajaran yang diujiannasionalkan.Kegitan pelatihan guru ataupun MGMP hanya marak dilakukan pada mata pelajaran tersebut,sedangkan mata pelajaran lainnya seakan-akan dilupakan.Yang paling dianaktirikan adalah mata pelajaran muatan lokal.Begitupun sikap siswa di sekolah perhatiannya terhadap mata pelajaran non-UN beda dengan mata pelajaran UN,akhirnya gurupun masa bodoh,”santai saja” mengajar karena tidak ada beban “lulus atau tidak lulus”.
6. Satu hal yang juga penting adalah PGRI mesti bukan tempat pelarian para tokoh, pejabat & mantan pejabat, politisi dan pensiunan untuk berorganisasi. Bukan pula tempat untuk penyucian dosa agar dilihat bermanfaat bagi masyarakat. Atau arena bagi mereka yang orientasinya ingin populer dan dikenal oleh publik agar kelak bila pensiun bisa terpilih menjadi anggota legislatif.PGRI harus benar-benar menjadi tempat bagi tokoh pendidik untuk memperjuangkan nasib pendidik dan pendidikan di daerah ini.Oleh karena itu,idealnya yang menjadi Pengurus PGRI adalah guru yang masih aktif dalam jabatan fungsional atau guru yang memegang jabatan struktural.

Kita semua tentu berharap bahwa PGRI bukan hanya sekedar organisasi yang kegiatannya hanya Nampak bila ada perayaan Ulang Tahun PGRI seperti PORSENI PGRI atau upacara perayaan hari guru,melainkan dapat menampakkan diri pada arena-arena lainnya yang bermanfaat bagi komunitas guru.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

DIDIT MAULANA

Saya adalah seorang anak laki-laki dari tiga bersaudara yang kedua saudara ku semuanya perempuan, aku anak ...
Daftar Artikel Terkait :  4
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0