Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Menghadapi Keterpurukan Cinta
Menghadapi Keterpurukan Cinta
0 Komentar | Dibaca 574 kali

Penulis : ZaidBuri Prahastyo (Terapis NLP dan Hipnoterapi Guru BK SMK Darussalam Makassar)

“Mas, jadi bagaimana?”
Seorang kawan baru saja menceritakan bagaimana ia kemudian jatuh cinta.
Prosesnya biasa saja, bagai kisah roman picisan, hanya saja kawan saya itu sudah berkeluarga. Di situlah titik komplikasinya.

Tentu rasa cinta tersebut menabrak tata nilai di masyarakat, namun mengabaikannya begitu saja justru hanya membuat rasa itu menjadi sebuah bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Dibutuhkan teknik NLP (Neurology Language Programming) untuk mengalihkan rasa tersebut ke arah yang tepat kemudian menetralkannya secara alami.

Kebanyakan orang yang menerima penjelasan seperti ini akan cenderung langsung konfrontasi, berantipati, sehingga masalah yang pada dasarnya dapat diselesaikan dengan komunikasi justru ditransformasi menjadi bom waktu. Padahal masalah hanya dipergilirkan saja, saat ini menimpa orang lain, boleh jadi suatu waktu kita lah yang mengalaminya, merasakannya, kemudian kebingungan, dan mengambil langkah yang tidak tepat. Jadilah pendengar yang baik. Jika tidak mampu, segera saja sarankan ke orang lain, sebab melawan diri sendiri memang sebuah Jihad Besar, perjuangan level dewa. Terlebih lagi misal dalam kisah saya di atas, sang istri masih ada hubungan kerabat.

Pertemuan pertama, dengan kemampuan mendengarkan yang baik ditambah kemampuan mengeksplorasi, Puji Tuhan kawan saya bisa melepaskan semua beban yang dirasakannya, kebingungannya tampak mereda, terlebih setelah saya memberikan sudut pandang yang tepat atas dilema yang dirasakannya. Segera setelahnya ia mampu menarik kesimpulan dan merumuskan beberapa tindak lanjut yang paling tepat untuk dilakukannya.

Pertemuan kedua dan ketiga, kami sudah terlibat dalam diskusi-diskusi yang dalam dan tajam, mengupas satu demi satu langkah-langkah yang menjadi pilihan, melihat kemungkinan-kemungkinan efek sampingnya, dan sebagainya. Pada pertemuan keempat, kawan saya sudah dengan penuh percaya diri memutuskan langkah yang akan dia lakukan dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Saya memberinya dukungan penuh dan meyakinkannya bahwa dia tidak sendirian, bahwa selalu ada orang yang siap menjadi tempatnya bertukar pikiran.

Beberapa minggu kemudian dia memberitakan sebuah kabar yang sangat menyenangkan. Hubungannya dengan sang Istri kini semakin berkualitas setelah kejadian tersebut.

Alhamdulillah. Sallu ala nabi wa alihi.</