Artikel Kategori // Opini & Ide
Tidak diragukan lagi bahwa iman kepada Allah SWT adalah inti ajaran Islam yang bisa mengantarkan pelakunya masuk ke dalam surga-Nya. Iman menurut devinisi para ulama dapat disimpulkan sebagai meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan (lidah) dan mempraktekkannya dengan perbuatan. Sehingga seseorang ketika menyatakan keimanannya kepada Allah SWT, maka yang bersangkutan siap menerima segala konsekuensinya yaitu menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah SWT. Lantas apakah seseorang yang melanggar perintah Allah SWT secara otomatis termasuk orang-orang yang tidak beriman? Para ulama Suni menyatakan termasuk pelaku dosa besar, dan tidak termasuk orang yang tidak beriman.
Iman itu sendiri, dalam penerapannya tidak mesti termanifestasikan melalui perbuatan-perbuatan jasmaniah. Seperti, bila seseorang meyakini bahwa ibadah shalat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan setiap waktunya, maka perbuatan jasmaniahnya adalah melalui gerakan-gerakan shalat yang dimulai dengan takbir sampai gerakan menoleh (salam) lengkap dengan gerakan bibir dan lidah dalam membaca bacaan shalat. Namun, di sisi lain, ada juga bentuk iman yang yang tidak mesti (tidak dapat) dimanifestasikan dalam perbuatan-perbuatan jasmaniah seperti contoh shalat di atas. Misalnya, keimanan kita tentang pahala dan dosa seseorang sebagai akibat dari perbuatannya. Yang kesemuanya itu tidak dapat diekspresikan melalui perbuatan-perbuatan jasmaniah. Dan jika seseorang bersedih karena sadar akan dosa karena perbuatan maksiatnya. Atau bahagia karena sadar akan mendapatkan pahala karena perbuatan baiknya, merupakan bentuk ekspresi jasmaniah dari perbuatan baik dan buruknya, maka hal ini membuktikan bahwa yang bersangkutan, meskipun terjerumus dalam perbuatan-perbuatan maksiat sekalipun, ia tetap mengimani bahwa perbuatan maksiatnya itu akan diganjar dengan dosa dari Allah SWT. Di mana hal tersebut merupakan bentuk lain keimanan seseorang kepada Allah SWT.
Kalau setiap ekspresi keimanan seseorang kepada Allah SWT baik jasmaniah maupun rohaniah diganjar dengan pahala, maka pelaku maksiat yang tetap meyakini perbuatan maksiatnya itu akan mendapatkan dosa dari Allah SWT dan setiap pendosa diganjar dengan neraka, maka pelaku maksiat tersebut juga berhak mendapatkan pahala dari Allah SWT karena keimanannya itu. Meskipun ia juga mendapatkan dosa karena perbuatan jasmaniahnya melakukan maksiat kepada Allah SWT.
Yang tidak mendapatkan pahala sama sekali alias pelaku maksiat murni tanpa mendapatkan pahala adalah tatkala sesorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat secara jasmaniah namun ia menganggapnya sebagai perbuatan yang sah-sah saja tanpa mendapatkan ganjaran dosa. Wallahua'lam.
Related articles across the web
Artikel Terkait
Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang
Penulis Lainnya

hernakantor
Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya- Makanan Pendukung Kesehatan Mata Selain Wortel 27 July 2018 - 01:59
- Makanan Pembangun Tulang Rawan 27 July 2018 - 01:52
- Rahasia Kopi Hijau Dalam Menurunkan Berat Badan 04 July 2018 - 09:20
Komentar Terbaru
- Etos Kerja Guru PNS yang Buruk 10 Tahun yang lalu
- Cetak Kartu Digital NUPTK/PegID 9 Tahun yang lalu
- Bangga memiliki email user@madrasah.id 8 Tahun yang lalu
- Syarat Mengikuti Verval Inpassing 8 Tahun yang lalu
- KITAB SIAP PADAMU NEGERI v1.0 9 Tahun yang lalu
Kategori
- Lain-Lain (984)
- Pendidikan (446)
- Informasi Umum (360)
- Opini & Ide (218)
- Tips & Trik (192)
- Teknologi (94)
- Internet & Media Sosial (83)
Kaitan Populer