Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Pahala Di Balik Perbuatan Maksiat
Pahala Di Balik Perbuatan Maksiat
0 Komentar | Dibaca 703 kali
ASYUNI KELEDAR @keledar01
03 February 2015

Tidak diragukan lagi bahwa iman kepada Allah SWT adalah inti ajaran Islam yang bisa mengantarkan pelakunya masuk ke dalam surga-Nya. Iman menurut devinisi para ulama dapat disimpulkan sebagai meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan (lidah) dan mempraktekkannya dengan perbuatan. Sehingga seseorang ketika menyatakan keimanannya kepada Allah SWT, maka yang bersangkutan siap menerima segala konsekuensinya yaitu menjalankan semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah SWT. Lantas apakah seseorang yang melanggar perintah Allah SWT secara otomatis termasuk orang-orang yang tidak beriman? Para ulama Suni menyatakan termasuk pelaku dosa besar, dan tidak termasuk orang yang tidak beriman.
Iman itu sendiri, dalam penerapannya tidak mesti termanifestasikan melalui perbuatan-perbuatan jasmaniah. Seperti, bila seseorang meyakini bahwa ibadah shalat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan setiap waktunya, maka perbuatan jasmaniahnya adalah melalui gerakan-gerakan shalat yang dimulai dengan takbir sampai gerakan menoleh (salam) lengkap dengan gerakan bibir dan lidah dalam membaca bacaan shalat. Namun, di sisi lain, ada juga bentuk iman yang yang tidak mesti (tidak dapat) dimanifestasikan dalam perbuatan-perbuatan jasmaniah seperti contoh shalat di atas. Misalnya, keimanan kita tentang pahala dan dosa seseorang sebagai akibat dari perbuatannya. Yang kesemuanya itu tidak dapat diekspresikan melalui perbuatan-perbuatan jasmaniah. Dan jika seseorang bersedih karena sadar akan dosa karena perbuatan maksiatnya. Atau bahagia karena sadar akan mendapatkan pahala karena perbuatan baiknya, merupakan bentuk ekspresi jasmaniah dari perbuatan baik dan buruknya, maka hal ini membuktikan bahwa yang bersangkutan, meskipun terjerumus dalam perbuatan-perbuatan maksiat sekalipun, ia tetap mengimani bahwa perbuatan maksiatnya itu akan diganjar dengan dosa dari Allah SWT. Di mana hal tersebut merupakan bentuk lain keimanan seseorang kepada Allah SWT.
Kalau setiap ekspresi keimanan seseorang kepada Allah SWT baik jasmaniah maupun rohaniah diganjar dengan pahala, maka pelaku maksiat yang tetap meyakini perbuatan maksiatnya itu akan mendapatkan dosa dari Allah SWT dan setiap pendosa diganjar dengan neraka, maka pelaku maksiat tersebut juga berhak mendapatkan pahala dari Allah SWT karena keimanannya itu. Meskipun ia juga mendapatkan dosa karena perbuatan jasmaniahnya melakukan maksiat kepada Allah SWT.
Yang tidak mendapatkan pahala sama sekali alias pelaku maksiat murni tanpa mendapatkan pahala adalah tatkala sesorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat secara jasmaniah namun ia menganggapnya sebagai perbuatan yang sah-sah saja tanpa mendapatkan ganjaran dosa. Wallahua'lam.