Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME
PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME
0 Komentar | Dibaca 1512 kali
SUSANDI @susandispd06
06 February 2015

A. PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME


1. Pengertian Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pemikiran pelajar. Pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh pelajar itu sendiri dan tidak diterima secara pasif dari orang disekitarnya. Hal ini bermakna bahwa pembelajaran merupakan hasil dari usaha pelajar itu sendiri dan bukan hanya ditransfer dari guru kepada pelajar. Hal tersebut berarti siswa tidak lagi berpegang pada konsep pengajaran dan pembelajaran yang lama, dimana guru hanya menuangkan atau mentransfer ilmu kepada siswa tanpa adanya usaha terlebih dahulu dari siswa itu sendiri.
Di dalam kelas konstruktivisme, para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya yang berada dalam diri mereka. Mereka berbagi strategi dan penyelesaian, debat antara satu dengan lainnya, berpikir secara kritis tentang cara terbaik menyelesaikan setiap masalah. Dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anaknya bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong (encourage) siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Pada saat siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa (dalam Suherman, 2003)
Merrill mengemukakan asumsi-asumsi konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman;
2. Pembelajaran adalah sebuah interpretasi personal terhadap dunia;
3. Pembelajaran adalah sebuah proses aktif yang di dalamnya makna dikembangkan atas dasar pengalaman;
4. Pertumbuhan konseptual datang dari negosiasi makna, pembagian perspektif ganda, dan perubahan bagi representasi internal kita melalui pembelajaran kolaboratif;
5. Pembelajaran harus disituasikan dalam seting yang realistis; pengujian harus diintegrasikan dengan tugas dan bukan sebuah aktivitas yang terpisah.

Steffe dan Kieren (1995) mengungkapkan beberapa prinsip pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme diantaranya bahwa observasi dan mendengar aktivitas serta pembicaraan matematika siswa adalah sumber yang kuat dan petunjuk untuk mengajar, untuk kurikulum, dan untuk cara-cara dimana pertumbuhan pengetahuan siswa dapat dievaluasi.

2. Ciri – Ciri dan Karakteristik Pendekatan Konstruktivisme
Dalam konstruktivisme proses pembelajaran senantiasa “problem centered approach” dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang mempunyai makna matematika. Ciri-ciri tersebutlah yang akan mendasari pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme. (dalam Suherman, 2003).
Menurut Hudojo (dalam Hermayani, 2008), ada tiga ciri yang harus dimunculkan dalam proses pembelajaran matematika menurut pandangan konstruktivisme yaitu sebagai berikut:
1. Pembelajar harus terlibat secara aktif dalam belajarnya.
2. Pembelajar belajar materi matematika secara bermakna dengan bekerja dan berpikir;
3. Informasi baru harus diikutsertakan dengan informasi lama sehingga menyatu dengan struktur kognitif yang dimiliki oleh pembelajar;
4. Orientasi pembelajarannya berdasarkan pemecahan masalah.

3. Prinsip Pendekatan Konstruktivisme
Prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Mohammad (2004:4) prinsip utama dalam pembelajaran konstrutivisme adalah:
1) Penekanan pada hakikat sosial dari pembelajaran, yaitu peserta didik belajar melalui interaksi dengan guru atau teman,
2) Zona perkembangan terdekat, yaitu belajar konsep yang baik adalah jika konsep itu berada dekat dengan peserta didik,
3) Pemagangan kognitif, yaitu peserta didik memperoleh ilmu secara bertahap dalam berinteraksi dengan pakar, dan
4) Mediated learning, yaitu diberikan tugas komplek, sulit, dan realita kemudian baru diberi bantuan.

Pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa pendekatan konstruktivisme lebih menekankan keaktifan dan peran serta peserta didik dalam pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator sebagaimana yang dituntut oleh kurikulum.

4.Pembelajaran Matematika Dalam Paradigma Konstruktivisme
Menurut Hudojo (1998:6) pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivisme adalah membantu siswa membangun konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi dan transformasi dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip itu sehingga terbangun kembali menjadi konsep/prinsip baru. Oleh karena itu, pembelajaran matematika merupakan suatu proses aktif dalam upaya membantu siswa membangun pemahaman.
Alexander & Murphy (dalam Kauchack, 1998:9) mengajukan 5 pertanyaan umum tentang belajar dan mengajar yang sejalan dengan pendapat Good & Grophy, yaitu:
– Pengetahuan awal siswa mempengaruhi belajarnya
– Siswa perlu memikirkan strategi belajarnya
– Motivasi berpengaruh kuat pada belajar
– Perkembangan dan perbedaan individual mempengaruhi belajar
– Kontek sosial di dalam kelas mempengaruhi belajar

Berdasarkan karakteristik konstruktivisme dan pernyataan umum tentang belajar mengajar yang disebutkan itu, terdapat kesesuaian yang khas dalam belajar matematika untuk mengorganisasikan dan menstrukturkan pengetahuan. Pertama, adalah karakteristik yang mengatakan bahwa belajar yang baru bergantung pada pemahaman sebelumnya. Hal ini berkenan dengan pengetahuan prasyarat untuk belajar yang terlepas dari sifat struktur matematika itu sendiri.
Di dalam belajar matematika, seseorang yang mempelajari konsep B sebelum memahami konsep A atau suatu konsep yang lebih tinggi tingkatannya (higher-order concept) hanya dapat dipahami melalui konsep yang lebih rendah tingkatannya (lower-order concept) (Hudojo, 1990:4). Kedua, adalah pernyataan tentang perkembangan dan perbedaan individual. Siswa pada tahap berpikir konkrit akan kesulitan apabila matematika disajikan dalam bentuk abstrak. Karena itu, memerlukan penyesuaian pembelajaran yang menyajikan sebagai bentuk representasi konsep matematika untuk membantu siswa agar dapat memudahkan belajarnya. Sebagai contoh, konsep tentang perkalian bilangan cacah akan sulit atau mungkin tidak dapat dipahami oleh siswa yang belum memahami penjumlahan, fakta dasar bilangan, fakta dasar penjumlahan, fakta dasar perkalian dan yang lainnya. Sebaliknya, konsep perkalian dapat direprestasikan dari bentuk abstrak-simbolik ke bentuk konkret sebagai penjumlahan berulang untuk memudahkan siswa memahaminya.
Kauchack & Eggen (1998:192-193) mengemukakan bahwa pembelajaran untuk memfasilitasi konstruksi pengetahuan memuat 4 aspek penting sebagai berikut.
– Pembelajaran berfokus pada penjelasan dan jawaban siswa atas masalah atau pertanyaan.
– Penjelasan dan jawaban datang dari siswa
– Penjelasan dan jawaban bersumber dari representasi konsep
– Guru membantu siswa mengkonstruk pengetahuan dengan mengarahkan interaksi sosial dan menyediakan representasi konsep.

Karakteristik lingkungan belajar yang sesuai dengan pandangan konstruktivisme,dikemukakan oleh Indrawati (1999), sebagai berikut:
– Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan serta dapat merespon situasi pembelajaran dengan membawa konsepsi awal sebelumnya.
– Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin melibatkan proses aktif siswa dalarn
mengkonstruksi pengetahuan yang sering kali melibatkan negosiasi interpersonal.
– Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal dan sosial.
– Seperti siswa, guru juga membawa konsepsi awal ke dalam situasi pembelajaran, baik mengenai materi pelajaran, dan pandangan mereka tentang pembelajaran.
– Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas serta tatanan pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpikir secara ilmiah.
-Kurikulum bukanlah sesuatu yang sekedar dipelajari melainkan seperangkat program
pembelajaran, materi, sumber, serta pembahasan yang merupakan titik tolak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan.

5. Keuntungan Dan Kelemahan Pembelajaran Dengan Pendekatan Konstruktivisme
Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme ini akan memberikan keuntungan kepada siswa, yaitu dapat membiasakan siswa belajar mandiri dalam memecahkan masalah, menciptakan kreativitas untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan kreatif, terjalinnya kerja sama sesama siswa, dan siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatan, dan dapat menciptakan pembelajaran menjadi lebih bermakna karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep yang sedang dipelajari dan siswa akan bangga dengan hasil temuannya, serta melatih siswa berpikir kritis dan kreatif. Sedangkan kelemahannya adalah siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ahli matematika, hal ini dapat mengakibatkan salah pengertian (miskonsepsi).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....
Tags :  

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Syafrudin

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0