Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Tunjangan Daerah Terpencil, Menggiurkan Sekaligus Mengecewakan
Tunjangan Daerah Terpencil, Menggiurkan Sekaligus Mengecewakan
0 Komentar | Dibaca 1200 kali
ASYUNI KELEDAR @keledar01
02 February 2015

Siapa sih yang tidak mau menerima Tunjangan Daerah Terpencil (TDT)? Apalagi dengan jumlah yang begitu besar. Beberapa guru yang mendapatkan tunjangan yang menggiurkan tersebut mengaku menerimanya sampai mencapai angka lebih dari Rp. 20.000.000,- setiap tahun. Sungguh sangat luar biasa. Penulis mewakili para pegawai yang menerima TDT untuk mengucapkan terima kasih buat Pemerintah yang telah membuat program khusus bagi pegawai (teruatama guru-guru) yang bertugas di daerah terpencil.

TDT adalah Tunjangan yang diberikan oleh Pemerintah yang peruntukkan bagi pegawai yang bertugas di daerah terpencil. Daerah terpencil adalah daerah yang jauh dari pusat kota dan tidak dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan darat. Dengan demikian maka Provinsi Papua Barat secara umum dan Kabupaten Fakfak secara khusus yang terdapat banyak perkampungan dan tersebar di pulau-pulau kecil yang jauh dari pusat kota adalah termasuk dalam kategori daerah terpencil. Bahkan beberapa tempat di Kabupaten Fakfak dianggap sebagai tempat pembuangan karena jauhnya dan aksesnya yang hanya dilalui dengan kendaraan longboat atau perahu Johnson, tidak ada listrik, tidak ada akses informasi.

Penulis sendiri sejak diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Guru, tepat pada Tanggal 16 November 2011 sudah menginjakkan kaki di Distrik paling Timur di ujung Kabupaten Fakfak tepatnya di Pulau Karas atau Tamisen, Pulau paling ujung Timur di Kabupaten Fakfak. Tidak ada akses kendaraan darat, satu-satunya alternative untuk sampai ke daerah tersebut hanya dengan menggunakan kedaraan laut Johnson. Banyak dari pegawai terutama Guru yang ketika SK-nya di Pulau tersebut merasa sedih, menjerit dan berharap bisa secepatnya pindah dari tempat tersebut. Apa yang membuat mereka merasa ketakutan? Tidak lain adalah perjalananannya yang melelahkan karena jauhnya perjalanan (kurang lebih 4 jam) dan harus berhadapan dengan ganasnya ombak dan angin yang kadang tidak seimbang dengan kendaraan yang ditumpangi. Beberapa di antaranya pernah tenggelam berhadapan dengan gelombang laut yang mengganas. Alhamdulillah meskipun banyak yang tewas dalam perjalanan dari dan ke distrik tersebut, (sepengetahuan penulis), belum ada Guru yang tewas dalam perjalanan dari dan ke tempat tugasnya.