Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Antara Skorsing vs Kriminalisasi Guru
Antara Skorsing vs Kriminalisasi Guru
2 Komentar | Dibaca 830 kali

Beberapa minggu belakangan, santer terdengar kasus kriminalisasi menghiasi media kita. Ibarat pepatah bagai jamur di musim penghujan. Kasus terhangat adalah yang menimpa Ibu Retno Listyarti, Kepala SMA Negeri 3 Setiabudi Jakarta yang dilaporkan salah satu orang tua siswa dengan dugaan diskriminasi. Kasus yang melibatkan Ibu Retno Listyarti, Kepala SMAN 3 Setiabudi Jakarta, agaknya harus menjadi refleksi bagi para pendidik dan juga orang tua.

Guru sebagai pendidik dan profesi sudah seharusnya mendapatkan perlindungan dan bantuan hukum yang memadai. Apalagi apabila kasus yang menimpanya berkaitan dengan tugas dan pengabdiannya. Guru dalam melakukan tugasnya jelas memiliki paying hokum perundangan yang legitimate, yaitu Undang-undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. Pasal 33 menyatakan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.

Perlindungan hukum bagi seorang guru mutlak diperlukan. Guru merupakan profesi bukan lagi pekerjaan atau pengabdian. Tugas guru sebagai garda terdepan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kegiatan persekolah sering kali bersinggungan dengan permasalahan yang terkadang harus melibatkan hukum. Kasus hukum yang dapat menimpa seorang guru bisa berkaitan dengan masalah pribadi maupun berkaitan dengan tugas mengajar. Sudah sepatutnyalah pemerintah ataupun organisasi guru berpikir untuk memberikan perlindungan bagi guru, khususnya perlindungan hukum secara terstruktur dan tersistem, tidak hanya pada kasus-kasus tertentu saja.

+ Reward and Punishment

Proses pembelajaran merupakan proses yang terintegrasi, tidak sekedar transfer ilmu pengetahuan tetapi juga transfer nilai dan karakter. Guru sebagai leader sekaligus manajer dituntut mampu melakukan pengelolaan sekolah. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kompetisi dan motivasi belajar di sekolah.

Untuk itu diperlukan usaha guru melalui pemberian penghargaan (reward) dan pemberian sanksi (punishment). Kedua hal ini harus diberikan sesuai porsi dan proporsinya. Reward akan diberikan kepada sisw