Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Internet & Media Sosial

Beranda / Internet & Media Sosial / Jual Beli Lewat Internet Hukum Dalam Islam
Jual Beli Lewat Internet Hukum Dalam Islam
0 Komentar | Dibaca 880 kali

ZAMAN sekarang ini semuanya telah serba canggih. Salah satunya dalam hal jual beli. Kini, jual beli tidak perlu bertatap muka, melainkan dalam jarak jauh pun bisa. Ya, melalui internet semua itu dapat dilakukan.

Selain memudahkan jual beli, tentu jual beli lewat internet ini memiliki banyak kelemahan. Dalam Islam jual beli perlu melakukan muamalah. Nah, dapatkah kita melakukan hal itu sedangkan jarak menjadi penghalang. Dan bagaimanakah posisi hukum ijab dan qabulnya? Menurut sosiolog Islam, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya (l/54) bahwa manusia berkarakter dasar sebagai makhluk sosial dan berperadaban yang membutuhkan pergaulan sosial. Ha ini memunculkan konsekuensi adanya transaksi muamalah serta pertukaran barang dan jasa. Muamalah ini memerlukan prinsip-prinsip hukum samawi yang mengatur semuanya itu agar sesuai dengan sunnatullah, keharmonisan dan keadilan social.

Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut (Imam Asy-Syathibi dalam al-Muwafaqat, II/7, 259, Imam al Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, II/59, Ibnu ‘Asyur dalam Muqashid Asy-Syariah, hal. 176 dan Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam al-Halal wal Haram fil Islam, hal-137).

Pertama: Asas kerelaan dari semua pihak yang terkait (‘An Taradhin). (QS. an-Nisa’: 29). Hadits nabi SAW, “Sesungguhnya transaksi jual beli itu harus atas dasar kerelaan,” (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Majah dan al-Baihaqi). Oleh karena itu, menurut Imam al-Qurthubi, setiap transaksi yang dilakukan karena unsur paksaan dan tekanan tidak sah (Tafsir al-Qurthubi, II/ 32) kecuali jika kepentingan umum atau negara membutuhkan adanya transaksi jual-beli barang atau jasa dengan harga standar terutama karena adanya faktor pelanggaran etika bisnis seperti penimbunan sembako. (Imam Ibnul Qayyim dalam Ath-Thuruq al-Hukmiyah, hal. 279).

Kedua: Larangan praktik penipuan, kecurangan dan pemalsuan. Hal ini termasuk memakan harta orang lain secara batil, maka transaksinya batal demi hukum. (QS. al-Muthaffifin: 1-5, Al-Anfal: 27, An-Nisa’: 29). Oleh karena itu, Nabi SAW sangat mengecam parktik berbagai kecurangan tersebut dalam segala bentuk dan media bisnisnya dengan sabdan