Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Gadget

Beranda / Gadget / Perlukah siswa di Indonesia belajar Coding?
Perlukah siswa di Indonesia belajar Coding?
0 Komentar | Dibaca 595 kali

Microsoft merupakan salah satu perusahaan besar menguasai hampir sebagian besar lahan software di dunia.  Perusahaan ini lebih dikenal dengan produknya Windows. Beberapa produknya juga tetap merajai dunia seperti Ms.Words, Ms.Excel, Ms.Access dan juga Ms.Powerpoint.  Akan tetapi ternyata perusahaan ini tidak bergerak dalam komputasi PC saja.  Bahkan saat ini mereka juga tengah merambah lahan smartphone dengan produknya Windows phone dengan brand LUMIA.

Meluasnya ekspansi penggunaan smartphone LUMIA membuat Microsoft berfikir cepat untuk menambah aplikasi di Windows store mereka.  Oleh karena itu peranan para pengembang aplikasi sangat diperlukan agar komunitas LUMIA dapat terus mendapatkan aplikasi terbaru berbasis sistem operasi Windows.  Tentu saja dengan bertambahnya varian applikasi windows, akan membuat komunitas LUMIA semakin terasa dimanjakan.  Sayangnya, para pengembang aplikasi saat ini masih senang berkutat dengan sitem operasi Android yang juga telah lebih dulu eksis.  Nah, sistem pengembangan aplikasi seperti ini yang saat ini sedang di galakkan oleh Microsoft, yaitu dengan menggiatkan para pengembang, bisa siapa saja,  untuk mempelajari Visual Basic atau lebih dikenal dengan "Coding". Nantinya, hasil karya para pengembang mandiri ini akan dapat di pajang di windows store Microsoft.

Strategi pertama yang diambil oleh Microsoft adalah dengan mengadakan survey di Thailand pada pertanyaan berkisar seberapa jauh minat siswa dan orang tua terhadap pembelajaran "coding" disekolah.  Hasilnya adalah: 

"According to the survey, 89 percent of students polled want to know more about coding, and 94 percent wish that coding could be offered as a core subject in their schools. This suggests that coding has the potential to be a highly engaging subject that can capture the attention and imagination of students, leading to positive learning outcomes".

Menjadi pertanyaan buat saya pribadi, bagaimana dengan Indonesia.  Secara potensi pengguna smartphone, saat ini di Indonesia sering dijadikan ajang acuan survey pasar