Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / STRATEGI PEMBINAAN KARAKTER GENERASI BANGSA AGAR TERHINDAR DARI PERILAKU MENYIMPANG
STRATEGI PEMBINAAN KARAKTER GENERASI BANGSA AGAR TERHINDAR DARI PERILAKU MENYIMPANG
1 Komentar | Dibaca 1048 kali

       Pemuda merupakan pelanjut kepemimpinan dimasa depan, ungkapan tersebut telah tertanam dalam diri setiap orang. Setidaknya, terdapat pemahaman yang sekaligus memerlukan strategi untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh generasi muda sekarang dalam menghadapi tugas dan tanggung jawabnya dimasa depan. Tanggung jawab mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depannya merupakan tanggu jawab bersama, baik pada lingkungan keluarga (kedua orang tua), lingkungan sekolah (pendidik dan tenaga kependidikan), ataupun lingkungan masyarakat (para tokoh masyarakat dan masyarakat secara umum).
      Penanaman karakter akan berjalan ideal manakalah tripusat pendidikan menjalankan perannya dengan baik berdasarkan porsi masing-masing. Keluarga harus memiliki ambisi yang besar untuk menjadikan anggota keluarganya baik dan berguna bagi masyarakat sekitarnya. Disamping itu, interaksi sosial dimasyarakat juga penting memperlihatkan bagaimana pentingnya implementasi nilai-nilai karakter bagi ketenangan dan kebahagiaan hidup bermasyarakat. Dari sini maka sekolah akan lebih mudah menjalankan proses pembelajaran yang berbasis penanaman nilai-nilai karakter sebagaimana yang diharapkan dalam Undang-Undang dalam kaitannya dengan tujuan pendidikan nasional.
       Dengan tidak membeda-bedakan peran tripusat pendidikan, penulis menganggap sekolahlah yang memegang peran penting dalam pembinaan karakter genarasi bangsa untuk mempersiapkan generasi yang kuat dan tangguh dalam menjalankan kepemimpinan di masa depan. Oleh karena itu, pembenahan kurikulum pembelajaran dan strategi pembelajaran dirasa perlu untuk mendapat perhatian serius oleh para penentu kebijakan, para pelaku pendidikan, para akademisi, ataupun para pengguna jasa pendidikan (lapangan kerja dan masyarakat luas), terlebih lagi dengan kondisi saat ini yang menuntut internalisasi teknologi dalam pembelajaran.
Seiring dengan kemajuan teknologi yang cukup banyak membantu efektifitas dan efisiensi pembelajaran di sekolah membuat sekolah semakin mudah dalam menjalankan tugas-tugasnya. Idealnya, dengan berbagai kemudahan yang diberikan oleh kemajuan teknologi saat ini harus berbanding lurus dengan tingkat kedewasan peserta didik yang berjalan beriringan dengan pengetahuan intelektualnya yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Peserta didik diharapkan memiliki karakter yang baik selain memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjalankan tugas-tugasnya di masa depan. Pendidikan dianggap berhasil ketika para peserta didik yang telah melalui proses pembelajaran mampu memadukan nilai-nilai kakarter dan pengetahuannya dalam bingkai kepribadian. Selama pengetahuan yang tinggi tidak diiringi dengan ketinggian moral maka pendidikan dianggap belum maksimal dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. Dalam konteks kekinian pembinaan karakter generasi muda dirasa perlu untuk meminimalisir berbagai tindak kenakalan remaja yang seringkali berujung pada tindakan kriminalitas. Berbagai penomena sosial kehidupan remaja yang menyimpan seperti tauran antar pelajar, tindak amoral, seks bebas dan peredaran narkoba dikalangan pelajar harusnya menjadi fokus perhatian bersama.
      Kemudian pada aspek budaya dan karakter bangsa, seringkali peseta didik melepaskannya lalu memilih tindakan yang akan merugikan bangsa bahkan dirinya sendiri, seperti minimnya tingkat kedisiplinan, etos kerja, rasa hormat-menghormati, dan mahalnya kejujuran dan tanggung jawab. Realitas tersebut bukan hanya tampak pada lingkungan masyarakat luas akan tetapi juga telah masuk dalam lingkungan pembelajaran pada sekolah formal. Penulis tidak akan membicarakan terkait darimana asal tradisi tersebut dibangun, apakan diluar sekolah lalu masuk menembus pagar sekolah?, ataukan dimulai dalam lingkungan sekolah lalu keluar menjamur pada masyarakat luas?, yang pasti sikap tersebut bukan merupakan karakter bangsa, yang terpenting adalah bagaimana sekolah tetap konsisten dengan esensi keberadaanya sebagai lembaga pencetak generasi bangsa yang ideal, berpengetahuan tinggi dan berkarakter. Dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut maka perlu kiranya memerhatikan dan meningkatkan peran pendidik dan tenaga kependidikan serta para pengawas yang terlibat langsung dengan satuan pendidikan.
       Desain pembelajaran yang dijalankan pada setiap satuan pendidikan dianggap cukup baik dan ideal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, hanya saja pendidik belum maksimal dalam menjalankan pembelajaran yang ideal tersebut. Hal ini tampak pada sikap kebanyakan pendidik yang membuat perangkat pembelajaran bukan untuk diiplementasikan namun sekedar sebagai kelengkapan administrasi yang sengaja dibuat untuk memperoleh pengakuan dari pengawas sekolah. Tampak jelas dan komprehensip materi serta strategi dan pemilihan media serta manajemen waktu yang tertulis dalam perangkat pembelajaran, akan tetapi tidak difungsikan sebagaimana mestinya, sehingga beberapa kompetensi sering tidak tersampaikan pada peserta didik dikarenakan tidak adanya kesesuaian antara apa yang direncanakan dengan yang terealisasi. Inilah sikap dan prinsip pendidik yang penting untuk diperbaiki dalam mewujudkan pembelajaran yang ideal. Seringkali kurikulum dievaluasi dan bahkan diganti oleh penentu kebijakan dengan harapan agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik, akan tetapi kondisinya masih seperti sebelumnya. Hal itu karena masalahnya bukan pada kurikulum melainkan pada penerapan kurikulum itu sendiri yang dalam hal ini diperankan secara menyeluruh oleh para pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan.
       Disamping itu, Pengawas sekolah juga seringkali memposisikan diri sebagai moster yang menakutkan bagi para pendidik pada satuan pendidikan yang berada di bawah pengawasannya. Hal itu dikarenakan sebagian besar pengawas sekolah hanya fokus pada penilaian perangkat pembelajaran bukan pada pelaksanaan pembelajaran. Dampak dari kondisi tersebut adalah lahirnya para pendidik yang mefokuskan perhatian pada terwujudnya perencanaan yang ideal namun tidak dengan penerapannya. Dengan tidak memandang perencanaan pembelajaran sebelah mata, penulis dalam hal ini menganggap yang terpenting adalah bagaimana seorang pengawas sekolah mampu melakukan pendampingan kepada para pendidik pada satuan pendidikan yang dibawahinya, agar mereka benar-benar mampu menjalankan tugasnya dengan baik secara jujur. Dengan demikian, hubungan pengawas sekolah dengan para pendidik adalah hubungan kekeluargaan dan bukan hubungan kesenioran, yang hanya akan menjaukan seseorang dari kejujuran dengan alasan tugas dan tanggu jawab. Peserta didik dalam hal ini akan memperoleh kasih sayang yang besar bukan hanya dari satu sisi melainkan dari dua sisi (para pendidik dan pengawas sekolah), seperti seorang anak yang diasuh oleh orang tuanya sendiri dengan kasih sayang yang berkecukupan dari sisi ibu dan ayah.
       Karakter peserta didik akan tercipta secara alami dengan lingkungan pembelajaran yang menyadari dan menjalankan tugas-tugasnya dengan baik dan jujur. Berawal dari hubungan yang ideal antara para pendidik dengan pengawas yang didasari oleh paradigma dan tanggung jawab yang sama, yaitu mewujudkan generasi yang berilmu dan berkarakter. Bukanlah hal yang sulit untuk mewujudkan semua itu, yang terpenting adalah komitmen dan kerjasama yang baik antara para pendidik dengan pengawas sekolah untuk memulai dan merealisasikannya, karena tanggung jawab memcerdaskan generasi bangsa bukan semata menjadi tanggung jawab pendidik melainkan tanggung jawab semua orang baik yang tidak terlibat langsung dengan satuan pendidikan terlebih lagi bagi mereka yang secara langsung terlibat dengan satuan pendidikan.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Hanya satu komentar pada "STRATEGI PEMBINAAN KARAKTER GENERASI BANGSA AGAR TERHINDAR DARI PERILAKU MENYIMPANG"

  1. HAQQUL AMIN

     |
    March 10, 2015 at 12:58 pm

    Sekolah kita belum menjadi “zona ekslusif” bagi penumbuhan karakter. Hampir tidak ada perbedaan moralitas anak sekolah dengan anak tidak sekolah. Perlu ada survey independen untuk mengukur progres pedidikan karakter di sekolah-sekolah; sudah berapa jauh itu dijalankan?
    Tapi ngomong-ngomong apa karakter tenaga pendidik kita sudah bagus ya?
    Saya kok tidak yakin. Anda?

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

SUTISNA, S.Pd. SD.

Hidup apa adanya
Daftar Artikel Terkait :  13

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0