Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / ARTI SEBUAH KEIKHLASAN
ARTI SEBUAH KEIKHLASAN
0 Komentar | Dibaca 449 kali
FAHRURROZI @20nop84
11 April 2015

ARTI SEBUAH KEIKHLASAN
Beragam pendapat yang muncul dalam memberikan batasan definitif. Sebagian aada yang menggagas dalam kajian ini menurut suatu prespektif, ada pula yang memberikan penekanan pada salah satu segi arti di antara berbagai alternatif makna ikhlas atau ada pula yang sekedar menegaskan kembali gagasan yang telah diajukan orang lain, maskipun dengan ungkapan yang berbeda-beda.
Ustadz Abdul Qasim al-Qusyairi dalam risalahnya menerangkan:”Ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam ketaatan. Dengan kata lain: dengan ketaatanya itu dia ingin mendekatkan diri kepada Allah bukan pada selain Dia. Sehingga dapat dikatakan bahawa ikhlas adalah penyucian suatu amal dari pamrih untuk diperhatikan orang lain”.
Ikhlas bisa juga berarti perisai yang menjauhkan diri dari perbuatan yang ingin diperhatikan oleh orang lain. Salah seorang syekh terkemuka di kalangan spritualis, Al-junaidi, menyatakan bahwa ikhlas adalah sirr (rahasia) antara Allah dan sang Hamba, tidak diketahui bahkan oleh Malaikat, sehingga dapat dicatat; tidak pula setan, sehingga dapat merusak nilainya; tidak pula oleh hasrat, sehingga dapat membuatnya menyimpang.
Dzun Nun berkata: “tanda-tanda ikhlas ada tiga: pertama, tatkala seorang tidak terpengaruh baik oleh cacian ataupun sanjungan dari orang lain; kedua, tidak lagi mengindahkan hasil akhir dari pekerjaan selama proses pelaksanaannya; dan ketiga, tidak lagi pamrih kepada perolehan pahala dari setiap amalan akhirat.”
KOMPOSISI PENTING IKHLAS
Berkaitan dengan ikhlas, sangatlah penting membentuk esensi keikhlasan, diantaranya: Pertama, selalu lebih mencemaskan pengawasan sang khalik. Kedua, tatkala aspek spritual seseorang sesuai dengan aspek lahiriyahnya (Amalan). Ketiga, manakala dia tidak lagi menghiraukan pujian maupun cercaan dari orang lain. Keempat, tidak menghitung-hitung keikhlasannya, sehingga membuatnya mengagumi dirinya sendiri. Kelima, tidak ada lagi pamrih kepada perolehan pahala dari suatu amal di akhirat kelak.
Imam al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ ‘ulumuddin berkata: “ketahuilah, dalam tataran konsepsional segala sesuatu berpeluang untuk dimasuki oleh elemen-elemen campuran lain yang mencemarinya, tetapi tatkala sesuatu itu dibersihkan dan dimurnikan dari faktor-faktor yang mencemarinya, ia dapat diberi atribut sebagai sesuatu yang telah murni (Khalish)”

TANDA-TANDA KEIKHLASAN
Keikhlasan mempunyai tanda dan sinyalemen yang beragam yang dapat terlihat dalam kehidupan, perilaku dirinya maupun tentang orang lain. Tanda-tanda tersebut diantaranya:
1. Mencemaskan dirinya dari penampilan yang mencari popularitas.
Tantkala seseorang mencemaskan popularitas dirinya dan keharuman namanya di tengah-tengah masyarakat akan berisiko bagi diri dan agamanya. Sifat ini khususnya adalah bagi mereka yang mendapatkan karunia langsung dari Allah, dan saat dia meyakini bahwa penerimaan di sisi Allah adalah dengan amal-amal sirri, bukan penampilan amal lahiriyah. Seseorang yang mendapatkan kemasyhuran, namanya dikenal luas di mana-mana tetapi dalam hatinya terdapat berbagai macam pamrih, maskipun kedudukannya tinggi di mata manusia tetapi di sisi Allah tidak memiliki nilai apapun. Sesuai dengan firman Allah اكرمكم عند الله اتقاكمانّ (sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang bertakwa)
2. Selalu mencurigai kecenderungan ego.
Tanda keikhlasan yang selalu ada pada orang yang mukhlis adalah selalu curiga pada egonya sendiri, karena telah terlalu jauh dari sisi Allah maupun begitu mudahnya tidak melakukan sepenuhnya segala kewajiban agama. Sehingga dengan kekhawatiran ini kalbunya tidak dapat dikendalikan oleh berbagai tipuan lebih membanggakan amal dan egonya sendiri. Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah
وقد سألتِ السّيِّدة عائشة رسول الله عمَّن يُصدّقُ عليه قوله تعالى: “    •  •    ” أهُمُ الذين يسرقون و يزنون ويشربون الخمرَ وهم يُخافون الله عزَّ وجلَّ؟ فقال: لا ياابنة الصدّيقِ, ولكنَّهم الذين يُصلّون ويصومون ويتصدَّقون, وهم يخافون الاّ يُتقبَّل منهم:        “.( رواه احمد )
Sayyidah ‘Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang arti yang lebih tepat dari firman Allah; “dan orang-orang yang menyisihkan dari hartanya untuk memberi – sebagai bentuk kemurahan ahati – dengan kalbu mereka yang mencemaskan kepastian bahwa mereka akan menemui Rabb mereka”. Tanya Aisyah, “Apakah orang yang mencuri, berzina, dan mengonsumsi khamr itukah yang akan ketakutan di hadapan Allah?” Rasulullah mengoreksi pandangan Aisyah, “bukan seperti itu ya puteri as Shiddiq, tetapi mereka yang mengerjakan sholat, berpuasa dan bersedekah itulah yang merasa cemas di hadapan Allah – yakni, mereka mencemaskan jika saja amalan-amalan mereka itu tidak berkenan di sisi-Nya. Seperti dalam firman Allah: ‘Mereka yang bersegera kepada amal kebajikan – dan mereka adalah orang-orang yang memeloporinya’.”( Hadith riwayat Imam Ahmad)
3. Beramal tanpa publisitas, bukan dengan niat untuk menjadi bahan sorotan.
Manakala amal kebaikan yang dikerjakannya dengan tanpa publisitas lebih disukai ketimbang amal kebaikan yang melibatkan press release dan pemberitaan umum. Sang dermawan lebih merasa mulia bergelar sebagai “pahlawan tak dikenal”, yang menyumbangkan hartanya secara anonim ( tanpa menyebutkan nama), dan yang rela berkorban tanpa diketahui umum. Orang ini tidak merasa telah berperan di masyarakatnya sebagai akar yang kuat, namun tetap bersikap low profile, tidak tampil mencolok di depan khalayak. Seperti salah satu hadith dari riwayat Mu’adz
انّ الله يحبّ الابرار الاتقياء الاخفياء, الذين اذا غابوا لم يُتقدوا, واذا حضروا لم يعرفوا, قلوبهم مصابيح الهدى, يخرجون من كل غُبراء مظلمةً
“Sesungguhnya Allah lebih mencintai para pelaku kebajikan yang bertakwa, yang tidak ingin memperlihatkan diri. Tatkala mereka tidak ada, tidak ada yag merasa kehilangan, dan tatkala mereka menghadiri suatu majlis, tetap menjaga diri agar tidak tampil mencolok. Kalbu-kalbu mereka bagaikan lentera-lentera penunjuk jalan – yang menerangi meski debu yang diliputi kegelapan sekalipun.”
4. Tidak mencari pujian dan terpedaya sanjungan.
Tidak mengejar dan berambisi untuk mendapatkan sanjungan orang lain pada saat orang lain sekalipun, pujian mereka itu tidak akan berhasil membuatnya lengah tentang siapa sebenarnya dirinya – yang telah dia kenal dengan baik.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, tatkala dipuji justru ia mengucapkan do’a:
اللهمّ لا تُؤاخذني بمايقولون, وجعلني خيرا مما يظُنّون, واغفرلي مالايعلمون
“wahai Allah-ku, janganlah Engkau siksa diriku karena sanjungan mereka, jadikan aku lebih baik dari yang mereka perkirakan, dan ampunilah diriku atas ketidaktahuan mereka tentang diriku”
5. Tidak kikir memberi pujian dengan mengakui kelebihan mereka yang patut dipuji.
Pada segi ini, terdapat dua risiko: pertama, risiko mengalamatkan pujian dan penghormatan kepada siapa pun yang tidak berhak;dan kedua, keengganan untuk memberikan pujian kepada yang berhak menerimanya.
Nabi Muhammad sendiri telah mencontohkan dengan pujian beliau kepada beberapa sahabat beliau, yang memang beliau tujukan kepada mereka sebab keutamaan dan aspek kehidupan mereka yang mulia. Seperti ungkapan beliau kepada ‘Umar:
لو سلكت فجًّا لسلك الشيطان فجًّا اخر
“Andaikan ‘Umar menyusuri langkahnya pada salah satu rute jalan, niscaya setan akan memilih jalan yang lain agar tidak berpapasan dengan ‘Umar”
6. Tetap optimal bekerja, baik saat menjadi pimpinan atau bawahan.
Seorang yang mukhlis akan mengabdi tanpa memperdulikan apakah dia seorang pemimpin atau prajurit. Hendaknya dalam menjalankan tugas tidak dilatarbelakangi oleh ambisi maupun mengejarnya demi kepentingan pribadinya. Sebaliknya, tatkala dilimpahi suatu tugas tertentu, dia murni berniat mengerjakan kewajibannya, dan memohon pertolongan dari Allah agar dapat melaksanakan sesuai dengan tuntutan tugasnya.
Khalid bin walid yang diturunkan dari jabatannya sebagai panglima perang Islam, padahal dia adalah pemimpin perang yang handal yang dielu-elukan dalam kemenangannya. Dia rela tetap mengabdi berada di bawah kememimpinan Abu ‘Ubaidah tanpa kepura-puraan dan perasaan tersinggung. Sebaliknya dia menjadi partner terbaik yang dijadikan acuan dalam memberi saran dan rekan kerja.
7. Fokus pada keridhaan Allah, bukan pada keinginan orang lain.
Tidak memperdulikan kemauan orang lain jika berkonsekuensi logis pada timbulnya kemurkaan Allah. Ini karena, masing-masing menusia memiliki perbedaan mencolok dari segi cita rasa dan standart nilai perilaku mereka; dari segi ide-ide pemikiran dan kecendrungan maupun orientasi dan jalan hidup mereka. Seorang penyair menulis untaian syair:
Adakah seseorang yang memuaskan semuanya
Sedangkan dia memiliki hasrat egonya sendiri
Sungguh suatu pencapaian panjang
Yang akan sia-sia.
8. Rela dan marah karena Allah, bukan karena dorongan ego.
Tatkala kecintaan maupun kebencian, pemberian dan sikapnya dalam menahan diri, ridha dan kemarahannya, semua itu hanyalah karena Allah. Sehingga dia tidak menjadi orang-orang oportunistik dan kaum munafik yang mendapat celaan dari Allah. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
 •              
Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.(Q.S. at-Taubah:58)
Dapat kita saksikan bersama dalam hidup ini seseorang yang menekuni bidang dakwah Islamiyah, tatkala dia merasakan ada seorang rekannya yang menyinggung perasaannya dengan salah satu tingkah lakunya, maka dia akan cepat-cepat marah atau merajuk, sehingga menghentikan kegiatan dan aktivitasnya serta meninggalkan bagitu saja jihad dan dakwah.
9. Kesabaran dalam menempuh suatu proses yang panjang.
Agar seseorang tekun menempuh lamanya suatu proses, lika-liku menuju suatu hasil akhir, tibanya kesuksesan di menit-menit terakhir, dan kesibukan beraktivitas di tengah-tengah berbagai manusia yang memiliki berbagai perasaan dan kecenderungan – dengan mengalahkan sifat-sifat malas, menunda-nunda pekerjaan, lari dari tanggungjawab, atau berhenti di tengah jalan.
Seseorang tidak sekedar bekerja untuk meraih kesuksesan atau kemenangan – lebih dari itu, adalah untuk mencari keridhaan Allah dan berupaya untuk menaati segala perintah-Nya sebelum adanya niat yang lain, atau setelah menuntaskan pekerjaanya.
Dalam sejarah, Nabi Nuh ketika menjelang masa tuanya masih berada di tengah-tengah kaumnya selama seribu tahun – terhitung genap satu milinium kurang lima puluh tahun terus berdakwah dan menyampaikan misinya. Namun, sedikit saja yang beriman, maskipun telah mengerahkan segala keahliannya dalam berdakwah. Seperti dalam firman Allah yang mendeskripsikan ucapannya:
                            
5. Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang,
6. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).
7. Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.
Meskipun demikian, Nabi Nuh tetap meneruskan selama sembilan ratus lima puluh tahun lebih untuk berdakwah kepada kaumnya, setelah kurang lebih empat puluh generasi, kaumnya tetap manampik; tetapi dia tetap tidak bergeming.

10. Bangga dengan adanya potensi baru.
Merasa bangga dengan munculnya potensi di antara orang-orang yang beramal untuk meneruskan atau turut memberi kontribusi positif dalam mempraktekan amal merupakan ciri dari keukhlasan. Begitu juga, berbesar hati memberikan peluang bagi orang baru yang memiliki kelebihan diri yang kelak akan menggantikan dirinya, tanpa adanya ganjalan di kalbu, merasa dengki, atau keberatan. Sebaliknya, anda akan melihat seseorang yang penuh ketulusan saat menemukan orang yang lebih baik dari dirinya dalam mengemban tanggungjawabnya, yakni dia melihat penerusnya itu dengan pandangan kerelaan.
Manusia banyak yang memberatkan dirinya menanggung beban dan tanggung jawab di luar batas kemampuan usianya yang semakin lanjut. Dengan perbuatannya itu beraryi dia menutup kesempatan bagi proses regenerasi kepada yang memiliki potensi segar dan keahlian tertentu.
11. Ketertarikan pada amalan yang lebih bermanfaat.
Antusiasme dalam amalan yang lebih mendekatkan diri pada keridhaan Allah, bukan yang semakin memperuntukkan ego. Yang lebih membuat seorang mukhlis terkesan, karenanya, adalah amalan yang lebih mendatangkan manfaat, dan membawa dampak yang lebih efektif, meskipun pada dasarnya amalan seperti itu sulit menjadi tujuan bagi kecendrungan yang timbul suatu hasrat, tidak pula membawa kepada suatu kepuasan ataupun kesenangan yang bersifat fisik.
Sebelumnya, seorang akan merasakan nikmatnya puasa sunnah, sholat dhuha, tetapi alangkah baiknya jika saling memperbaiki hubungan antara sesama manusia. Seperti yang ditegaskan dalam hadith berikut ini :
ألا أخبركم بأفضل من درجة الصيام و الصلاة والصدقة؟ اصلاح ذات البين, فأنَّ فساد ذات البين هي الحالقة
“ Maukah kalian kuberitahu tentang amaliyah yang lebih utama ketimbang kemuliaan berpuasa, sholat dan bersedekah?” tanya nabi, “Ia adalah saling memperbaiki hubungan antar sesama manusia, karena ketidakutuhan hubungan dengan sesama sama saja dengan kebinasaan.”

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

reza

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  7
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0