Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Hymne Guru:Pujian bagi Guru,sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Hymne Guru:Pujian bagi Guru,sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
0 Komentar | Dibaca 390 kali

“Engkau pelita di malam kelam,
Embun penyejuk dalam kehausan,
Patriot Pahlawan bangsa
Jasamu tiada tara”

Sosok Guru sangat melekat dengan kata mengajar dan mendidik. Mengajar lebih pada kemampuan akademik Guru dalam mentransfer ilmu pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmunya kepada siswa-siswi tapi mendidik lebih pada pendekatan nilai sesuai dengan norma agama dan etika yang tercermin dari sosok seorang Guru sehingga kepribadian seorang Guru akan ditiru,dituruti,dicontoh,dan diteladani oleh anak didiknya. Kemampuan seorang Guru menempatkan pribadinya sebagai seorang “Pengajar” dan “Pendidik” menujukan sosok Guru yang bukan hanya mampu menjadi pelita yang menerangi akal dan budi anak didik di malam kelam tetapi juga menjadi pahlawan bagi ribuan anak bangsa dalam mancari suaka pengetahuan;menggapai cita-citanya dan menemukan jati dirinya yang se-benar-benar-nya bahwa “Aku anak Indonesia-indonesia is my country”
Guru adalah inti dari proses pendidikan. Guru juga menjadi kunci utama pendidikan. Soal Guru adalah soal masa depan bangsa. Maka pendidikan jangan pernah dipandang sebagai urusan sektoral tetapi harus dipandang sebagai urusan mendasar bangsa yang lintas sektoral. Mengapa? Karena Pendidikan adalah proses interaksi antara Guru sebagai -pengajar atau pendidk- dengan siswa-siswi sebagai peserta didik;antara orang tua dan anaknya;antara lingkuangan dan para pembelajar. Saat ini 53 persen penduduk Indonesia yang bekerja hanya memiliki ijasah SD sedangkan yang berpendidikan tinggi (Diploma,Sarjana dan Magister) hanya 9 persen. Suatu angka presentasi yang mau menunjukan kepada kita bahwa kualitas manusia Indonesia masih sangat memprihatinkan. Tugas pemerintah untuk menjawab permasalahan ini adalah meningkatkan kualitas pendidikan dengan menempatkan Guru di garda terdepan untuk menjalankan,mensukseskan program Pendidikan Dasar 9 tahun tetapi harus diimbangi dengan peningkatan kesejahtraan Guru dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Maka cara sebuah bangsa memperlakukuan Guru-nya adalah cermin cara sebuah bangsa memperlakukan masa depannya.
Sikap Guru dalam proses Mengajar dan Mendidik
Kurikulum bisa saja disusun dengan sangat baik oleh para pakar pendidikan tetapi akan menjadi mubazir apa bila disampaikan oleh Guru yang diimpit sederet masalah;sosialisasi kurikulum yang tidak akurat;pelatiahan yang kurang memadai dan kesejahtraan hidup guru yang tidak memadai. Guru juga adalah manusia biasa yang mempunyai sisi positif dan negatif sebagai manusia. Seorang murid yang menyukai pelajaran bukan karena bukunya yang cantik atau kurikulumnya bagus tetapi karena kepribadian gurunya yang menarik. Seorang Guru yang menyebalkan membuat murid menjauhi pelajarannya tetapi seorang Guru yang menyenangkan dan inspiratif akan membuat murid mencintai pelajarannya. Artinya bahwa setiap Guru mempunyai pilihan, mau menjadi Guru yang dikenang karena inspiratif atau menjadi Guru yang terlupakan atau diingat karena perilaku negatifnya. Untuk itu dalam mengajar dan mendidik seorang Guru harus bisa menunjukan sikap-sikap berikut:
Pertama,Religius. Sikap religious seorang Guru diharapkan mampu menjelma dalam kesaksian hidupnya dalam mengemban tugas profesionalnya terutama dalam proses mengajar dan mendidik. Guru harus mampu hadir sebagai pembawa embun subuh dan sinar mentari yang membuat kelopak nurani anak didik merekah mekar. Guru hadir sebagai fasilitator-perangsang yang membangunkan sikap religius anak didik dengan demikian anak didik akan bertumbuh sebagai manusia religius.
Kedua,Jujur. Seorang Guru dituntut bersikap jujur dalam segala perilakunya didepan anak didiknya mulai dari bertindak adil dalam menghukum siswa,bertindak adil dalam memberikan penilaian,bersikap adil dalam berinteraksi dengan siswa. Seorang Guru tidak muda terpengaruh dengan aturan procedural illegal yang mencederai nilai kejujuran seorang Guru. Misalnya,tidak menerapkan budaya katrol nilai (nilai yang tidak memenuhi syarat dinaikan dalam batas kelulusan tertentu) terhadap siswa yang tidak mampu ataupun malas.
Ketiga,Sederhana. Sokrates adalah seorang Guru, seorang tokoh pendidikan yang sederhana. Dalam setiap pelayanannya Sokrates tampil sangat sederhana. Mengenakan mantel yang sama pada musim panas dan dingin;berjalan kemana-mana tanpa mengenakan alas kaki(kaki telanjang). Pertanyaan buat kita,sanggupkan seorang Guru belajar dari kesederhanaan Sokrates? Tentu tidak!!!! Tetapi yang mau kita pelajari dari sikap Sokrates adalah pangabdian yang paripurna untuk kepentingan anak didik. Mentalitas pelayanan harus diutamakan ketimbang mentalitas finansial. Guru harus memandang profesinya sebagai bentuk pengabdiaan tanpa pamrih. Sehingga Guru tidak menggunakan profesinya untuk memeras siswa,memungut biaya apapun dari siswa dengan dalil apapun.
Keempat,Bijak. Seorang Guru harus dengan bijak mengakui dirinya;”Dia tahu bahwa dia tidak tahu.” Pengakuan inilah mendorong Guru untuk terus belajar dan terus belajar tanpa batas waktu. Seorang Guru jangan cuma merasa mampu tetapi juga harus mampu merasa. Jika Guru hanya merasa mampu maka dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Tetapi kalau Guru mampu merasa maka dia akan tahu bahwa dia tidak tahu.
Kepada para Guru yang mengajar dengan hati dan mendidik dengan sepenuh hati, bangsa ini berutang budi pada jasa-jasa mu. Maka menteri pendidikan RI Muh.Nuh berpesan: Seorang Guru harus tampil menjadi pribadi yang kreatif,inovatif dan ispiratif sehingga dia menjadi guru sejati.selamat merayakan hari guru dan selamat HUT PGRI ke-68.@r

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

armanfajar

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  9
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0