Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Masa Depan Kita Ditangan Generasi Anti Korupsi
Masa Depan Kita Ditangan Generasi Anti Korupsi
1 Komentar | Dibaca 747 kali

Sekitaran tahun 2035 dipercaya sebagai salah satu titik penentu kejayaan bangsa Indonesia. Pada tahun tersebut, diperkirakan bangsa Indonesia  akan memperoleh bonus demografi. Bonus demografi dikatakan sebagai peluang akibat besarnya proporsi penduduk produktif. Melalui pemanfaatan sumber daya manusia  yang produktif tersebut dipadukan dengan sumber daya alam Indonesia yang melimpah, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berkembang dengan pesat. Namun, apa yang terjadi bila sumber daya manusia yang diharapkan pada saat itu terdiri dari tenaga-tenaga korup?

Sebagaimana diketahui saat ini. Korupsi merupakan penyakit yang sepertinya sudah mewabah dan mengakar pada seluruh sendi kehidupan bangsa ini. Pada akhir tahun 2014 lalu, peringkat Indonesia pada indeks korupsi yang dikeluarkan Transparency International ada pada peringkat 107. Posisi Indonesia masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Filipina, Malaysia dan Singapura. Korupsi tidak hanya terjadi pada pucuk daun yang terlihat, tapi juga pada akar rumput yang tak tersentuh. Parahnya lagi, banyak orang berteriak tentang korupsi sementara dirinyapun ternyata korupsi. Lain di pikir, beda di bibir, tak sama yang dijalani.

Manusia Indonesia 2035 yang menjadi harapan bangsa nantipun bisa demikian. Bisa saja mereka menjadi mesin-mesin korupsi yang mengeruk kekayaan bangsa ini demi keuntungan pribadinya. Mungkin saja mereka menjadi tukang begal hak-hak orang lain demi kepuasan kelompoknya. Dan sangat memungkinkan mereka justru menjadi beban bangsa saat seharusnya mereka menjadi mesin ekonomi kreatif yang meningkatkan perekonomian Indonesia pada sekitaran tahun tersebut.

Hal tersebut tentunya tidak boleh terjadi. Manusia Indonesia tahun 2035 yang saat ini sedang belajar di bangku pendidikan harus ditempa menjadi generasi masa depan yang anti korupsi. Mereka harus diberikan pelajaran tentang pedihnya dampak korupsi. Mereka harus menyadari tentang betapa rendahnya perilaku korupsi. Dan mereka harus belajar membenci korupsi sebagai bagian dari harga diri.

Tentunya berbicara jauh lebih mudah dari melaksanakannya. Pembentukan generasi anti korupsi  melalui dunia pendidikan tidaklah semudah menuai tarikan nafas. Namun semuanya hendaknya dimulai dari niat, disebarkan dengan perkataan, dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Semua elemen bangsa ini harus menyadari dan memiliki visi akan nasib anak cucu mereka di masa depan dan mulai bertindak, bergerak, dan berubah!

Semuanya dapat diawali dari  tokoh n