Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Pendidikan Tanggung Jawab Siapa?
Pendidikan Tanggung Jawab Siapa?
0 Komentar | Dibaca 1147 kali

ujianPendidikan merupakan ujung tombak dari peradaban suatu negara. Negara yang maju pasti akan memperhatikan pendidikan dan menjamin bahwa pendidikan yang bermutu dapat dinikmati setiap warga negaranya. Dengan pendidikan pula manusia dimanusiakan. Pendidikan merupakan hal dasar yang digunakan untuk membentuk kepribadian, moral dan intelektual manusia. Pada era sekarang ini, pendidikan yang diterapkan cenderung hanya menguatkan intelektual belaka, dan sangat sedikit bisa membentuk moral, karakter serta kepribadian yang baik. Output pendidikan yang dihasilkan sistem pendidikan negeri ini juga tidak begitu memuaskan. Hal ini, dapat dilihat dari kalah bersaingnya para lulusan pendidikan negara ini dengan lulusan negara lain. Namun hal itu, tidak bisa dibebankan (baca: menyalahkan) sepenuhnya kepada anak didik. Mengapa? Sebab itu hanya cerminan dari kesalahan yang lebih besar. Pendidikan negeri ini juga hanya mementingkan hasil saja tanpa memperhatikan proses, bahkan kadang memaksakan hasil yang baik walaupun ditempuh dengan cara yang curang (baca: tidak jujur). Lebih jelasnya bisa dilihat dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UNAS) yang tidak luput dari tindakkan curang sebagian oknum. Baik itu peserta, guru atau bahkan sebagian sekolah yang tidak bertanggung jawab. Sekolah lebih malu dan takut tidak laku ketika peserta didiknya tidak lulus daripada harus jujur dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Walaupun, di berbagai daerah lembar jawaban komputer (LJK) UNAS ada sebuah komitmen "saya mengerjakan dengan jujur". Akan tetapi, kenyataan di lapangan hanya sebuah slogan.
Kejujuran menjadi salah satu masalah yang dialami bangsa ini, padahal kejujuran adalah salah satu indikasi moral dan akhlak yang baik. Pendidikan sekarang justru belum dapat mencetak generasi yang benar-benar jujur, maka harus ada sebuah pola pendidikan yang mengarah untuk menjadikan peserta didik yang berkarakter, mempunyai moral yang baik dan akhlak yang mulia. Perlu ada pengawasan dan keseriusan dari berbagai pihak untuk melaksanakan komitmen tersebut. Akan tetapi, kadang mewujudkan pendidikan berkarakter adalah sebuah gagasan nonaplikatif yang ujung-ujungnya tidak diterapkan. Belum lagi bagaimana moral anak didik yang semakin hari semakin menurun. Pendidikan di negeri ini tidak berhasil membentuk akhlak dan karakter (kepribadian) peserta didik, bahkan sistem pendidikan yang ada menunjukkan nilai-nilai liberalisme ala barat. Kurikulum yang ada tidak menjadikan agama sebagai asas dalam penyelenggarakan pedidikan, sehingga akhlak dan moral terdegradasi . Agama tidak dijadikan sebuah ideologi yang mengajarkan halal-haram, benar-salah dengan memberikan penjelasan yang rasional, membekas dan menghujam di kalangan anak didik di segala lini usia. Lingkungan sekolah seharususnya menjadi basis pengokohan kepribadian peserta didik agar menjadi pribadi yang relegius. Namun kenyataannya?.
Oleh karena itu perubahan yang mendasar harus dilakukan pada sistem pendidikan negeri ini, agar akhlak, moral dan kepribadian generasi penerus bangsa terselamatkan. Tentunya perubahan kurikulum bukanlah solusi, penambahan mata pelajaran agama dan moral tidak serta merta akan membentuk akhlak peserta didik menjadi baik dalam waktu sekejab. Penanaman akhlak dan moral yang baik membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan sampai terbentuk karakter yang mulia.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

RAFIKA MARLIANA

Hanyalah seorang perempuan biasa dengan kemampuan yang biasa tapi punya impian luar biasa... saya suka Mate ...
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0