Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Pencak Silat, antara Superioritas dan Konflik social
Pencak Silat, antara Superioritas dan Konflik social
0 Komentar | Dibaca 1068 kali

Pencak silat adalah suatu seni bela diri khas dari Indonesia, yang mana sangat identik dengan jiwa ksatria. Membahas pencak silat tak luput akan berbicara tentang unsur bela diri, olahraga, seni dan juga budaya, dimana pencak silat merupakan warisan budaya indonesia. Tak ayal, nilai ketuhanan atau religius serta nilai kemanusiaan yang tinggi tak lepas dari pembinaan karakter pesilat di bumi nusantara ini. Sebut contoh, dalam pencak silat akan ditanamkan nilai ketuhanan untuk senantiasa beribadah dan melaksanakan kegiatan yang bersifat spiritual..

Seni bela diri punya fungsi sebagai back up dalam menumbuhkan rasa keberanian dan rasa percaya diri dalam menghadapi musuh, juga bertujuan untuk senantiasa mengayomi serta melindungi bagi sesama manusia yang dianggap lemah.

Namun seiring berjalannya waktu, semua prestasi tentang tujuan awal pencak silat tersebut didirikan seakan bertolak belakang dengan apa yang dipraktekan dalam kehidupan bermasyarakat. Anggota pencak silat yang mayoritasnya kaum remaja banyak sekali yang salah mengartikan fungsi dan tujuan dari pencak silat itu sendiri. Dalam usia yang masih labil tak heran banyak hal yang dapat membawa mereka untuk menyalahgunakan pencak silat yang mereka pelajari.

Coba tengok kasus yang terjadi di Jombang tahun 2011 lalu, pendekar kera sakti mengajak duel perguruan setia hati terate. Percekcokan itu mulai terjadi pada saat ada gagasan suryono selaku ketua PSHT di Jombang yang mengusulkan untuk mengadakan pertemuan rutin dan arisan antar perguruan, namun ketua IKSPI Kera Sakti, Atim menanggapinya dengan sinis, menurutnya arisan itu ide lucu dan tidak etis bagi perguruan silat, baginya yang paling tepat yaitu dengan mengadakan perkelahian antar perguruan. Suasana yang menegang akhirnya memicu terjadinya tragedi berdarah antar perguruan silat tersebut.

Melihat demikian sudah jelas permasalahan yang timbul antar perguruan silat biasanya bermula dari hal yang sepeleh kemudian dibesar-besarkan. Demikianlah penyebab rasa toleransi yang menjadi semboyan perguruan silat antara keduanya hilang. karena menganggap dirinya yang paling hebat dan paling kuat. Dilihat dari kasus di atas, ada beberapa faktor-faktor yang menyebabkan konflik sosial antar perguruan silat di antaranya, pertama, perbedaan individu ialah perasaan yang menganggap bahwa dirinya hanya bagian dari perguruan itu saja, mereka menganggap bahwa rasa persaudaraan dan kekeluargaan itu hanya berlaku bagi warga atau anggota yang sudah di sahkan secara resmi dan punya hak untuk mengajarkan ilmunya dan itu tidak berlaku bagi perguruan lain.

Bahkan ada anggapan yang menyatakan bahwa perguruan lain merupakan musuh yang harus mereka kalahkan, dan itu sangat menyimpang jauh dari visi dan misi mereka pada awal perguruan itu didirikan. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur. Kedua, perbedaan latar belakang, yaitu perbedaan yang membentuk pribadi-pribadi yang berbeda berdasarkan budaya, fikiran, pendapat, pendirian, dan lain sebagainya. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. Ketiga, perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi meempunyai tujuan yang berbeda-beda.

Faktor lain yang tak kalah penting selain perbedaan identitas yaitu adanya rasa superioritas atau menganggap dirinya adalah yang paling hebat dan paling berkuasa dibanding yang lainnya. Ini disebabkan karena mereka merasa mempunyai back up yang dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat ketika mereka mendapat masalah dengan lawannya. setiap perguruan pencak silat tak ada yang mau mengalah mereka menganggap dirinya adalah yang paling hebat dan tak terkalahkan. itulah salah satu penyebab terjadinya konflik sosial antar perguruan silat.

Dengan demikian untuk menengahi permasalahan yang terjadi ialah dengan pendekatan penyelesaian konflik oleh pemimpin masing-masing perguruan yang bisa dikategorikan dalam dua dimensi yaitu kerjasama/tidak kerjasama dan tegas/tidak tegas. Dengan menggunakan kedua macam dimensi, dimensi ini ada lima macam pendekatan penyelesaian konflik diantaranya,

Pertama, kompetisi yaitu penyelesaian konflik yang menggambarkan satu pihak mengalahkan atau mengorbankan yang lain. Penyelesaian bentuk kompetisi dikenal dengan istilah win-lose orientation.

Kedua, dengan cara akomodasi. Yaitu, penyelesaian konflik yang menggambarkan kompetisi bayangan cermin yang memberikan keseluruhannya penyelesaian pada pihak lain tanpa ada usaha memperjuangkan tujuannya sendiri. Proses tersebut adalah taktik perdamaian.

Ketiga, bisa juga dengan cara sharing atau melakukan pendekatan penyelesaian konflik antara dominasi kelompok dan kelompok damai. Satu pihak memberi dan yang lain menerima sesuatu. Kedua kelompok berpikiran moderat, tidak lengkap, tetapi memuaskan.

Kelima, bisa dengan berkolaborasi atau dengan usaha menyelesaian konflik yang dapat memuaskan kedua belah pihak. Usaha ini adalah pendekatan pemecahan problem (problem-solving approach) yang memerlukan integrasi dari kedua pihak, yang menggunakan cara terakhir yaitu dengan melakukan penghindaran yang menyangkut ketidakpedulian dari kedua kelompok. Keadaaan ini menggambarkan penarikan kepentingan atau mengacuhkan kepentingan kelompok lain.

Dengan ini, perguruan silat yang kini terlibat dalam pertikaian akan bisa diselesaikan dengan berbagai macam cara di atas. Harapannya, agar tidak terjadi pertikaian yang berlarur-larut yang berimbas terjatuhnya korban berikutnya, sehingga bisa segera menemukan titik perdamaian yang tidak ada salah satu perguruan merasa dirugikan atau terlecehkan. Akhirnya, masyarakat sekitar pun akan merasa aman dan tentram jika di dalamnya ada organisasi perguruan silat.

By : jhon's Faqih wahas

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

MOHAMMAD AMRAN INDRA KUSUMA

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0