Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Pendidikan dan Bahaya Berhala Materi
Pendidikan dan Bahaya Berhala Materi
0 Komentar | Dibaca 579 kali

By : M.Iqbal Fardian

Suatu pagi saya, istri dan si kecil buah hati kami berdua, namanya Almeira Faiqotudzihni. Satu nama yang kami pilih dengan harapan dia menjadi seorang putri yang pengetahuannya melebihi yang lain. Terkandung maksud bahwa dia menjadi seorang ilmuwan yang bermanfaat bagi orang lain, kami duduk santai di depan TV, tiba-tiba ada seorang saudara yang meminta tolong kepada istri saya yang kebetulan seorang perawat kesehatan di salah satu rumah sakit ternama di Genteng Banyuwangi, untuk memeriksa tekanan darahnya. Setelah proses pemeriksaan tekanan darah selesai tanpa ada yang memerintah tiba-tiba Aira, begitulah kami biasa memanggil si kecil, mengambil alat yang habis digunakan bundanya, kemudian dengan cekatannya dia meniru bundanya memeriksa saya sambil memegang stetoskop bak seorang dokter profesioanal yang memeriksa seorang pasien. Saya terdiam, kemudian secara reflek saya memanggil si kecil dengan sebuatan dokter Aira.
Tak salah memang dari penyebutan tersebut, wajar kalau sebagai orang tua saya ingin melihat Aira menjadi seorang dokter. Agak lama saya terdiam, kemudian dalam hati saya mencoba untuk berdialog dengan diri sendiri, “ Apa yang baru saya lakukan dengan menyebut Aira dengan sebutan dokter aira ? Apakah saya terlalu berlebihan, karena saya yakin dia tidak tahu apa-apa tentang profesi dokter. Kalaupun itu sebuah harapan apakah harapan substansi harapan itu ? Apakah saya berharap menjadi dokter untuk tujuan yang ideal agar bisa membantu orang lain ? Ataukah hanya sekedar hanya berdimensi pragmatis, agar dia kaya raya? ”.
Ternyata banyak yang harus saya jawab dari sebuah kalimat yang saya sebutkan untuk si kecil. Dalam hati yang paling dalam harapan saya dari profesi dokter adalah sebuah harapan yang bersifat materi. Kehidupan layak dan prestise social yang mentereng menjadi harapan-harapan yang agaknya menjadi pilihan yang bisa jadi menjadi harapan banyak orang kepada anaknya. Beberapa saat saya merenung untuk masalah ini. Inilah sebenarnya untuk pertama kalinya saya telah melakukan sosialisasi pemberhalaan materi kepada anak. Seringkali orang tua lupa bahwa untuk menyampaikan pelajaran tauhid kepada anak, bahwa rizki, materi, jabatan, presitise dan lain sebagainya adalah semuanya itu Allah lah yang mengaturnya. Saya lupa mengatakan kepada anak bahwa Allah pencipta seluruh yang ada di jagat raya ini, saya lupa mengatakan bahwa Allah akan meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan oleh manusia selama hidupnya di dunia.
Terkesan normative dan rumit jika kita menyampaikan masalah Tauhid kepada anak yang belum mengerti apa-apa. Karena inilah fondasi dasar dalam hidup agar anak sejak dini distimulasi oleh sesuatu yang hakiki bukan distimulasi oleh benda, materi dan cerita-cerita indah dunia. Kongkritnya memang tidak langsung mengajarkan masalah masalah Tauhi