Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Informasi Umum

Beranda / Informasi Umum / Relakah Kita?
Relakah Kita?
4 Komentar | Dibaca 927 kali

0rang berinai berhitam kuku
Mandi dicirus si air mawar
Jikalau sampai hasrat hatiku
Racun kuminum jadi penawar

Hasrat hendak beli dulang bertepi
Barulah molek buat hidangan
Hasrat hendak cari yang sama sehati
Barulah molek makan sepinggan

Sungguhlah harum sibunga tanjung
Hati hendak petik sibunga mawar
Rindu dan dendam tidak tertanggung
Budi setitik jadi penawar

Indah sungguh untaian pantun diatas, dan tentu saja tidak semua orang dapat menyerap dan menikmati pantun dengan pilihan diksi yang sempurna serta dihiasi ritme dan rima yang luar biasa seperti pantun diatas. Bahasa Melayu merupakan asal dari bahasa Indonesia, sama dengan bahasa yang diujarkan oleh masyarakat Melayu Johor Malaysia pada mulanya. Bahasa ini mendapat label baru yaitu bahasa Indonesia setelah mengalami penyempurnaan beberapa kali sejak awal kemerdekaan baik dari pengucapan, ejaan, dan tata bahasanya.
Pribahasa, gurindam, pantun, syair merupakan kekayaan yang dimiliki oleh bahasa Indonesia yang statusnya pada saat ini mengalami ‘bahaya’ karena tidak terwariskannya harta yang berharga tersebut kepada generasi muda. Kurikulum pendidikan belum mampu merancang tujuan, proses dan hasil pembelajaran yang berorientasi kepada pelestarian nilai seni yang terdapat pada bahasa Indonesia tersebut. Jangan heran kalau sangat jarang generasi muda menyenangi pantun atau syair, menikmati keindahannya apalagi untuk menciptakan seuntai pantun saja dengan pilihan diksi, ritme dan rima yang tepat, terlebih-lebih menciptakan pantun dengan makna yang mengandung nilai edukatif tinggi. Mungkinkah kita sudah melupakan kekayaan seni bahasa kita tersebut dan merelakannya untuk tinggal sebagai dokumen yang dibuka sebagai kenang-kenangan, seperti orang tua yang melihat foto album nostalgia di masa muda, entahlah …..

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Terdapat 4 Komentar pada "Relakah Kita?"

  1. Teguh Dwicaksana

     |
    October 20, 2015 at 6:21 pm

    Tidak relaaaaaa …. padahal bahasa Indonesia itu keren lho

  2. NENI SRIWAHYUNI HARTATI

     |
    October 23, 2015 at 9:09 am

    Retak Kendi didalam peti
    Pecah piring terluka tangan
    Bapak Dwi saya ucapkan terima kasih
    Seni Budaya sama kita lestarikan…

  3. WIDARSO

     |
    October 21, 2015 at 8:14 am

    Alhamdulillah bertambah satu orang lagi yang memberi perhatian terhadap kekayaan bahasa kita. semoga pemerintah terutama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memberi perhatian yang lebih serius dalam melestrarikan dan mengembangkan kekayaan dan keindahan Bahasa Indonesia. Dapat dimulai lagi dengan meningkatkan mutu guru-guru bahasa indonesia memalui pelatihan-pelatihan dan atau membekali para mahasiswa calon guru bahasa indonesia agar memiliki kemampuan dalam membuat pantun, puisi, cerpen, dan lain-lain. Kelemahan yang ada bahwa kita baru menganjurkan untuk meningkatkan minat baca. Anak-anak indonesia termasuk kita yang sudah dewasa baru pada tahap senang membaca, belum trampil membaca. Kita belum mengampanyekan “gemar menulis” sehingga sangat wajar kalau anak-anak indonesia lemah dalam membuat pantun, puisi, cerpen (fiksi) dan juga karya ilmiah(non fiksi).

  4. NENI SRIWAHYUNI HARTATI

     |
    October 23, 2015 at 9:11 am

    Bapak Widarso terima kasih ya,,, ide bapak sungguh briliant.. sepertinya #gemar menulis itu perlu di sosialisasikan ..

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

hadi okeku

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0