Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Informasi Umum

Beranda / Informasi Umum / Relakah Kita?
Relakah Kita?
4 Komentar | Dibaca 984 kali

0rang berinai berhitam kuku
Mandi dicirus si air mawar
Jikalau sampai hasrat hatiku
Racun kuminum jadi penawar

Hasrat hendak beli dulang bertepi
Barulah molek buat hidangan
Hasrat hendak cari yang sama sehati
Barulah molek makan sepinggan

Sungguhlah harum sibunga tanjung
Hati hendak petik sibunga mawar
Rindu dan dendam tidak tertanggung
Budi setitik jadi penawar

Indah sungguh untaian pantun diatas, dan tentu saja tidak semua orang dapat menyerap dan menikmati pantun dengan pilihan diksi yang sempurna serta dihiasi ritme dan rima yang luar biasa seperti pantun diatas. Bahasa Melayu merupakan asal dari bahasa Indonesia, sama dengan bahasa yang diujarkan oleh masyarakat Melayu Johor Malaysia pada mulanya. Bahasa ini mendapat label baru yaitu bahasa Indonesia setelah mengalami penyempurnaan beberapa kali sejak awal kemerdekaan baik dari pengucapan, ejaan, dan tata bahasanya.
Pribahasa, gurindam, pantun, syair merupakan kekayaan yang dimiliki oleh bahasa Indonesia yang statusnya pada saat ini mengalami ‘bahaya’ karena tidak terwariskannya harta yang berharga tersebut kepada generasi muda. Kurikulum pendidikan belum mampu merancang tujuan, proses dan hasil pembelajaran yang berorientasi kepada pelestarian nilai seni yang terdapat pada bahasa Indonesia tersebut. Jangan heran kalau sangat jarang generasi muda menyenangi pantun atau syair, menikmati keindahannya apalagi untuk menciptakan seuntai pantun saja dengan pilihan diksi, ritme dan rima yang tepat, terlebih-lebih menciptakan pantun dengan makna yang mengandung nilai edukatif tinggi. Mungkinkah kita sudah melupakan kekayaan seni bahasa kita tersebut dan merelakannya untuk tinggal sebagai dokumen yang dibuka sebagai kenang-kenangan, seperti orang tua yang melihat foto album nostalgia di masa muda, entahlah …..