Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / HIKMAH PEMBUKAAN
HIKMAH PEMBUKAAN
0 Komentar | Dibaca 1281 kali
Ridwan Yusuf @riyu99
26 November 2015

HIKMAH PEMBUKAAN

DALAM FIRMAN TENTANG SHALIH

heartSalikin Fillah, dalam pembahasan ini dengan segala kerendahan hati saya tidak bermasud untuk mengurangi keutuhan karya Ibnu Arabi tentang hikmah pembukaan, melainkan saya hadapkan kekurangan ilmuku untuk menimba di sana sebagai SIMA dari nasihat nasihatnya. Dalam pengantar Fususul Hikam memaparkan  pertama mengenai triplisitas sebagai dasar proses kreatif. Kedua simbol simbol tertentu yang berkaitan dengan keselamatan dan hukuman di pada hari akhir. Kedua subjek tersebut bagi gnostikus ditempatkan pada ahwal SIMA, dengan kesaksian kesaksiannya di wilayah alam Sahadah. Dikatakan :

Di antara tanda tanda Nya adalah hewan hewan yang berjalan,

Karena jalan yang berbeda beda

Sebagian mengikuti jalan yang benar,

Sementara yang lainnya melintasi jalan yang menanjak.

Yang pertama terpaku oleh pandangan yang benar,

Yang ke dua kehilangan arah.

Keduanya datang dari Tuhan ,

Wahyu realitas realitas batin dari setiap sisi

 

 

Nafas Sang Pengasih, Imajinsi kreatif, cermin, dan hubungan cahaya bayang-bayang merupakan triplisitas ganda atau triplisitas bipolar yang disentuhkan Tuhan pada ahwal Sima mencerminkan realitas realitas batin dalam wujud simbol simbol. Dalam al qur'an Allah Swt menggambarkan "Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku" (Az-Zumar 17-8). Ayat di atas menggambarkan adanya sima realitas realitas batin Gnostikus yang menghubungkan triplisitas biolar ketika seorang hamba menerima berita gembira (Sayi'ah) Sima (pendengaran), dalam ayat lain Allah berfirman :" Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, Maka mereka di dalam taman (surga) bergembira". (Ar-Rum :15).

Allah Swt. Memberikan simbol simbol Sima pada posisi kanan dan kiri sebagai lahir dan Sima posisi atas dan bawah sebagai Batin, tengah sebagai bashirah (mata hati) menunjukan hubungan cahaya bayang-bayang dalam kesatuan tunggal. Ketika seseorang  barada dalam samudera makrifat, ia ibarat sang nelayan mencari arah melalui kompas untuk mencari arah qibat, dan ketika seseorang  barada dalam daratan ubudiyah ia ibarat anai anai mengelilingi cahaya ka'bah mukaromah, namun kompas sebagai  aksidensia dari sebauh esensi (ka'bah). Dalam tataran aksidensia Ibnu Arabi memeberikan istilah dengan " jalan yang berbeda beda" meskipun di jihat timur, barat, utara dan selatan dalam aforisme syairnya dikatakan yang pertama terpaku oleh pandangan yang benar, Yang ke dua kehilangan arah. Keduanya datang dari Tuhan. Sehingga pada zaman nabi nabi terdahulu tidak sedikit kaum kaum yang mengikuti penciptaan simbol silogistik, berawal dari kejadian inilah layaknya bahwa dalam firman tentang shalih membukakan  dua kutub kesalihan dan kesalahan/ baik dan buruk/ lurus dan yang tersesat. Jadi, asal mula segala kejadian adalah tripisitas. Yang ditunjukan Allah dalam penundaan kehancuran kaumnya selama tiga hari, bukanlah sebuah janji sia sia. Sebab hal itu adalah nyata, yang ditunjukan isak tangis ketika Allah membinasakan mereka, sehingga "mereka mati bergelimpangan di dalam rumahnya"

 

Ibn' Arabi menyimpulkan bab hikmah pembukaan dalam firman tentang shalih mengenai penjelmaan lahir dan batin, dengan melukiskannya dari penjelasan al-qur'an mengenai akibat akibat  atas orang orang bertaqwa dan para pendosa akan janji ancaman neraka dan surga. Penjelmaan bagian lahir dari eksistensi kosmik manusia hanya berasal dari bagian batinnya sendiri dan ketetapan esensial yang dipengaruhi.

Begitupan saya berpendapat ada titik keterselubungan dengan sama "pendengaran" merupakan penjelmaan realitas triplisitas. Sebagai contoh, dalam usia kandungan empat bulan (balita) Allah menciptakan pendengaran melalui suara suara yang ditangkap oleh bayi dan Ibunnya di dalam perut, Allah menciptakan tiga komponen, sama, bashor, dan aif'idah (mata hati), "apabila kami menghendaki sesuatu, kami katakan kepadanya 'jadilah', lalu jadilah ia", ada yang menjadi esensi kehendak dan kata. Esensi kehendak menunjukkan keinginan kepada polaritas yang mana triplisitas itu sendiri dirubah menjadi Esensi, sedangkan kata menujukan triplisitas bipolar yang terselubung kepada simbol simbol tertentu meliputi mata, telinga dan af'idah.

Sima dalam teori Tasawuf berpengertian mendengarkan dan menyimak syair syair yang membawa batinnya ingat kepada Allah Swt. Tidak ada perbedaan pandangan adanya beberapa syair yang didendangkan di hadapan Rosulullah Saw dan Rosulullahpun menyimaknya. Anas bin Malik r.a berkata : "Ketika orang orang Ansor menggali parit, mereka mendenangkan syair :

Kamilah orang orang yang berbai'at ke pada Muhammad

Untuk berjuang sepanjang hayat

Kemudian Rosullullah saw menjawab :

Duhai Allah, tiada kehidupan sejati

Melainkan kehidupan akhirat

Muliakanlah orang orang Anshar dan Muhajirah."

 

Sima akan menangkap nyanyian nyanyian yang dibisikan dari pembendaharaan tersembunyi (Triplisitas bipolar) alam mulkiyah atau alam malakut di khazanah yang tersembunyi. Triplisitas  Pembendaharaan melingkupi 3 dimensi pembendaharaan tersembunyi yang Allah bukakan, karena semua pembendaharaan yang nampak menghasilkan dentingan suara dari  Triplisitas bipolar mulkiyah atau alam malakut. Iblis dalam posisi demikian adalah Ijazil di lapisan pertama sehingga Iblis tidak ada di lapisan ini melaikan raja raja setan, pembendaharaan ke dua adalah manusia ghaib, manusia dalam posisi ini adalah Jan dan jin dilapisan eter (atmosfer) menghubungkan ke alam malakut dengan suara pantulan pantulan (suara langit), pembendaharaan ketiga adalah Jisim, jisim dalam posisi ini nama nama benda yang telah diberikan kehidupan oleh Allah, di lapisan Sufla malakut (para malaikat bawah), kehidupan para jin kebanyakan di alam ini untuk tinggal pada benda benda yang diberi kehidupan, seperti bebatuan, tanah dan benda benda keras lainnya.Pantulan suara yang didendangkan oleh musik musik alam berasal dari (Triplisitas bipolar) alam malakut. Tetapi dalam wilayah kebendaan sang ijazil menyertai suara melalui sufla, seperti seruling, gitar, biola, harva dan sejenis mencermikan keberadaan ijazil dan semua pembendaharaannya akan terpanggil oleh suara tersebut, adapun suara suara langit mencerminkan keberadaan israfil dalam aksidensi kebendaan angin di eternitas manusia ghaib. Seorang sufi melaluinya dapat mendengarkan suara langit dan pada umumnya kita dapat mendengarkan/menyimak suara kebendaan di bumi.

 

Suara Syair syair yang mengingat Allah, secara syariat sama dengan dzikir (latifatussir) dan tersingkapnya jamaliyah Tuhan dalam merdunya syair tersebut, sedangkan syair yang mengandung ratapan ratapan/tangisan tangisan secara syari'at dapat membutakan hati (tertutupnya latafutussir) seorang sufi harus menjauhinya. Rosulullah Saw bersabda :

 

عَنْ نَافَعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ سَمِعَ صَوْتَ زِمَارَةِ رَاٍع فَوَضَعَ أُصْبُعَيْهِ فيِ أُذُنَيْهِ وَعَدَلَ رَاحِلَتَهُ عَنِ الطَّرِيْقِ وَهُوَ يَقُولُ: يَا نَافِع أَتَسْمَعُ ؟ فَأَقُولُ: نَعَمْ فَيَمْضِي حَتىَّ قُلْتُ: لاَ فَرَفَعَ يَدَهُ وَعَدَلَ رَاحِلَتَهُ إِلىَ الطَّرِيْقِ وَقَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  سَمِعَ زِمَارَةَ رَاعٍ فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا – رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه 

Dari Nafi bahwa Ibnu Umar mendengar suara seruling gembala, maka ia menutupi telingannya dengan dua jarinya dan mengalihkan kendaraannya dari jalan tersebut. Ia berkata:’Wahai Nafi’ apakah engkau dengar?’. Saya menjawab:’Ya’. Kemudian melanjutkan berjalanannya sampai saya berkata:’Tidak’. Kemudian Ibnu Umar mengangkat tangannya dan mengalihkan kendaraannya ke jalan lain dan berkata: Saya melihat Rasulullah SAW mendengar seruling gembala kemudian melakukan seperti ini’ (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).

 

 

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0