Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Budaya Bernalar
Budaya Bernalar
0 Komentar | Dibaca 773 kali
AMRI IKHSAN @ilhamikhsan
04 December 2015

Budaya Bernalar
Oleh: Amri Ikhsan*)
Keharmonisan kehidupan masyarakat bisa dipastikan bermula dari anggotanya yang mengepankan kemampuan bernalar (to reason) dan berpikiran logis, sehingga memberdayakan segala kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi secara elegan.
Begitu banyak fenomena yang mengindikasikan masyarakat belum menggunakan nalar dengan baik.
Di jalan: menghentikan kendaraan di tikungan, menggunakan HP waktu berkendaraan atau melawan arah, berbelok arah secara tiba-tiba, sembarangan menyeberang jalan, tidak pakai helm adalah pemandangan ‘biasa’ di jalan raya. Demi mengejar kenyamanan instan dan mengabaikan keselamatan diri dan orang lain.
Pendidikan: (1) kecenderungan masyarakat untuk menyekolahkan anak mereka dengan melihat ‘gelar’ sekolah. Mereka menganggap bahwa kalau anak mau pintar, bersekolahlah di sekolah unggul, favorit, dsb. Padahal, untuk mendapatkan ‘banyak ilmu’ tidak tergantung sekolah, tetapi tergantung bagaimana kita belajar; (2) sudah ‘terbiasa’ bagi sekolah untuk memaksakan diri untuk lulus UN 100% walaupun warga sekolah dan masyarakat awam yakin siswanya tidak akan bakal lulus 100%, dan sering kita berkesimpulan bahwa sekolah yang tidak lulus 100% sekolah yang tidak berkualitas, padahal sekolah yang baik bukanlah sekolah yang harus lulus 100%; (3) kalau anak yang berbuat salah, ‘orang’ selalu menanyakan sekolahnya dimana, padahal orang tua juga bertanggung jawab atas prilaku anak; (4) bagi sebagian guru masih menganggap tugasnya ‘hanya’ mengajar dalam kelas atau datang ke sekolah untuk absensi padahal esensi pendidikan itu mendidik, membimbing, membina peserta didik.
Shalat, ditanya kenapa tidak/belum sholat, sebagian kita menjawab: ‘nantilah, nunggu tua’. Jawaban ‘polos’ ini tentu saja menjadi ‘penyakit’ yang menggorogoti nalar seseorang. “Orang’ ini seolah olah bisa mengatur ‘masa hidup’. Padahal masalah kehidupan adalah ‘urusan Tuhan’ dan tak satu pun manusia bisa mengetahui kapan kita meninggal.
Pilkada, waktu yang paling menyenangkan adalah masa menjelang pemilu/pilkada karena para calon ‘berlomba-lomba’ blusukan untuk menyapa masyarakat dan ujung-ujung memberi bantuan. Proses ini membuat masyarakat membuat kesimpulan sendiri: calon A baik, calon C darmawan, dsb. Kadang-kadang kita tidak tahu ‘makna’ dibalik ‘bantuan itu’.
Belanja, sebagian masyarakat masih beranggapan bahwa belanja barang di mall yang besar lebih bergengsi jika dibandingkan dengan belanja di toko toko kecil. Menjinjing ‘sangkek’ yang bertuliskan nama mall ternama seolah olah menangkat derajat orang itu, walaupun kualitas barang yang dibeli sama dengan kualitas di toko toko kecil.
Alat komunikasi, kita cenderung berlomba-lomba membeli alat komunikasi (handphone) yang harganya mahal dan berfitur canggih (smart phone) padahal hanya digunakan untuk telepon dan SMS.
Fenomena ini merupakan cermin budaya masyarakat dan menunjukan ‘sebagian kecil’ memamerkan ketidakmampuan berpikir logis dan bernalar yang mengakibatkan masyarakat belum bisa berargumentasi dan mengungkapkan pemikiran secara sistematis dan menghasilkan sebuah kondisi yang menganggap dirinya paling benar dan tidak bisa menghargai pemikiran orang lain.
Banyak kalangan menilai bahwa bernalar dan berfikir logis merupakan bekal hidup utama manusia agar mampu memberdayakan segala kemampuan yang dimiliki serta menyelesaikan masalah yang dihadapi untuk maju. Gardner dalam bukunya Five Minds for the Future (2007) menjelaskan kemampuan berpikir yang dibutuhkan di masa datang dalam dunia yang mengglobal adalah kemampuan berpikir untuk menghargai orang lain, menjunjung tinggi etika, fokus dalam satu bidang, menyintesis informasi, dan berpikir kreatif.
Menghargai orang lain dengan mengedepankan etika sangat penting untuk membangun hubungan dengan sesama dan membuat seseorang sadar dan menghargai setiap perbedaan. Tanpa kompetensi ini, kita akan sulit bekerja sama, berinteraksi, berkomunikasi, dan saling percaya.
Oleh karena itu, yang diperlukan pada hari hari ini adalah kemampuan menyintesis informasi dengan menyaring informasi yang melimpah sebagai pengetahuan yang bermakna yang diintegrasikan menjadi ide yang utuh dan mengomunikasikannya kepada orang lain. Dengan menyintesis informasi, kita bisa memilih, memilah untuk menberdayakan nalar untuk berpikir kreatif untuk menciptakan inovasi, menghasilkan peluang untuk perubahan.
Kemampuan itulah idealnya di inisiasi melalui pendidikan sebagai lokomotif perubahan. Sayang sekali, pendidikan justru cenderung mengabaikan kemampuan bernalar dan logika. Kita menyaksikan pendidikan justru mempertontonkan kebiasaan melawan nalar. Banyak ditemukan sekolah yang tidak memiliki sarana yang memadai tetapi nilai rapornya delapan dan sembilan bahkan ada ‘anak cerdas’ yang mendapat nilai 10 untuk mata pelajaran tertentu dalam UN padahal guru yang mengajar anak itu kalau diminta menjawab soal yang sama belum tentu dapat 10.
Iskandar (2013) menilai pendidik memiliki peran penting dalam menumbuhkan kemampuan bernalar siswa. Sayangnya, keterbatasan kemampuan dan penghargaan yang rendah membuat sebagian besar guru di Indonesia justru tak mampu membangkitkan kemampuan berpikir kreatif siswa. Misalnya, membiarkan siswa yang mencontek saat ujian nasional atau ada sebagian guru maupun pimpinan sekolah justru menyuruh siswa mencontek demi menjaga citra baik guru dan akreditasi sekolah (Kompas).
Dalam literatur, ada beberapa alasan kenapa kita belum mau bernalar: (1) tidak tahu; (2) tidak mau tahu; (3) terpaksa; (4) tidak mampu mengendalikan diri; (5) sudah terbiasa; (6) ada kesempatan; (7) tidak setuju dengan ketentuan yang ada; (8) merasa selalu benar.
Mari kita orang terdepan membiasakan hal yang benar bukan membenarkan hal yang salah.
*) Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Jambi

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....
Tags :  

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

KHAIRULLAH

Guru yang mengajar anak-anak desa, ingin membuat mereka trampil, berpengetahuan dan bersikap yang baik
Daftar Artikel Terkait :  4
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0