Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Kesantunan Dalam Komunikasi Politik
Kesantunan Dalam Komunikasi Politik
0 Komentar | Dibaca 1054 kali
AMRI IKHSAN @ilhamikhsan
04 December 2015

Kesantunan dalam Komunikasi Politik

Oleh: Amri Ikhsan*)

 

Bahasa adalah media untuk berkomunikasi. Bahasa itu alat untuk mengungkapkan pikiran dalam mempengaruhi lawan bicara. Kehadiran bahasa dalam kehidupan manusia bukanlah hal baru, bahasa ada sejak manusia ada. Bahasa bisa mengubah sendi sendi kehidupan manusia. Bahasa bisa menciptakan dan mengubah persepsi. Dan ini inti dari penggunaan bahasa dalam komunikasi politik, menciptakan persepsi.

Fungsi bahasa bukan hanya sebatas media penyampai pesan, tetapi juga merupakan media berfikir,  bernalar, dan bahkan alat berbudaya. Bahasa yang digunakan oleh seseorang mencerminkan kemampuannya dalam berfikir, bernalar, dan berbudaya. Artinya pula, bahasa yang digunakan dapat dijadikan barometer untuk mengukur tingkat kepedulian, kepribadian, dan ‘isi otak’ seseorang.

Dilain pihak, bahasa dalam dimensi politik bertujuan untuk memperoleh kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan. Bahasa para caleg bertujuan untuk menarik perhatian para pemilih. Bahasa merupakan bahan sangat mendasar dalam politik, seperti tergambar dalam pikiran deLespinasse bahwa bahasa merupakan bumbu dasar segala ranah yang berkaitan dengan politik untuk mencapai kekuasaan. Bahasa juga dipandang sebagai sarana utama politik dan melalui penggunakan bahasa terefleksi bagaimana kekuasaan digunakan. (Suprapto, 2002).

Bahasa mempunyai kekuatan untuk menjelaskan maksud dan keinginan orang yang menggunakannya. Seorang caleg biasanya menggunakan ideograf atau kata-kata yang sangat menarik dengan berbentuk “janji-janji manis” dihadapan konstituennya. Ideograf sebagai lambang atau simbol yang merupakan gambaran pikiran atau angan-angan (KBI). Ungkapan kata-kata atau “janji-janji manis” seperti ini menandai adanya keinginan untuk mendapatkan dukungan politik dari para pemilih agar keinginan utama caleg untuk terpilih dalam sebuah pemilu. (Yaqin, 2007).  Kemudian, Kweldju (2008) mengatakan bahwa ideograf adalah alat yang digunakan oleh seorang politisi untuk mendukung kebijakan  atau stabilitas politik, sosial, dan kultural.

Jadi, ideograf memiliki kekuatan yang luar biasa, sangat lentur, pragmatis dan sangat ampuh untuk meraih target-target politik. Kadang-kadang tanpa disadari oleh politisi, semakin ‘manis janji politiknya, semakin santun publik meresponnya pada saat bicara dan akan berubah pada waktu yang lain.  

Dalam sosialisasinya, para caleg menggunakan ideograf seperti: tegakkan keadilan dan penegakan hukum, hidup mati bersama rakyat, punya hati nurani,  tegas, peduli, amanah, anti korupsi, muda, matang, mantap, berani, jujur, aspiratif, amanah, sudah teruji dan terbukti, bekerja untuk rakyat, berjuang untuk kesejahteraan rakyat,  penyalurkan aspirasi masyarakat, bersama kita menuju perubahan, utamakan kepentingan rakyat, dll.

Oleh karena itu, sebagai pengguna bahasa, seorang caleg idealnya mempertimbangkan prinsip kesantunan berbahasa dalam masyarakat Indonesia (Aziz, 2000) yaitu: prinsip saling tenggang rasa, yang diadopsi untuk ranah politik. Prinsip ini menuntut caleg dan masyarakat untuk menaati dan bertindak dalam kerangka norma kepatutan. Artinya, dalam transaksi komunikasi setiap orang harus menempatkan diri dalam posisinya masing-masing secara benar.

Prinsip ini beroperasi melalui: pertama, prinsip “daya luka dan daya sanjung”. Artinya, sebuah ekspresi bahasa memiliki potensi untuk membuat seseorang merasa terlukai atau tersanjung. Biasanya caleg dan masyarakat cenderung saling menyanjung supaya terkesan berprilaku sopan, saling menghargai.

Kedua, prinsip “berbagi rasa”. Caleg dan masyarakat idealnya memiliki perasaan yang sama. Oleh karena itu ketika berkomunikasi menggunakan ekspresi bahasa, saling mempertimbangkan perasaan masing masing sebagaimana layaknya kita mempertimbangkan perasaan kita sendiri. Artinya, caleg dan publik tidak ingin saling menyakiti  dengan selalu memberi jawaban positif dalam setiap sosialisasi.

Ketiga, prinsip “kesan pertama”. Artinya, penilaian caleg dan masyarakat terhadap tingkat kesantunan berbahasa pada dasarnya ditentukan oleh kesan pertama yang didapatkan melalui prilaku berbahasa ketika berkomunikasi untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, tunjukkanlah bahwa kita punya niat baik untuk bekerjasama dan berkomunikasi. Dalam hal ini, biasanya masyarakat menilai dari kesan pertama caleg, kalau kesannya positif, biasanya persepsinya juga positif. Artinya, saling mendukung.

Keempat, prinsip “keberlanjutan”. Artinya, keberlanjutan hubungan caleg dan masyarakat pada masa yang akan dating sangat ditentukan oleh cara bertransaksi melalui komunikasi pada saat ini. Oleh karena itu upayakan saling membangun rasa saling percaya. Kalau caleg bisa ‘memuaskan’ masyarakat, biasanya dilanjutkan ‘dibilik suara’.

Oleh karena itu, supaya transaksi komunikasi berjalan dalam koridor kesantunan berbahasa, caleg dan masyarakat disarankan agar memperhatinkan: Pertama, gunakanlah bahasa yang kita sendiri pasti akan senang mendengarnya apabila bahasa itu digunakan orang lain kepada kita; dan sebaliknya. Kedua, janganlah menggunakan bahasa yang kita sendiri tidak akan menyukainya apabila bahasa tersebut digunakan orang lain kepada kita.

Seperti yang diberitakan, ribuan caleg di Propinsi Jambi dipastikan gagal. Karena antara caleg dan kuota legislatif tidak seimbang. Untuk DPRD Propinsi Jambi hanya berjumlah 55 orang, sementara calegnya 624 orang. Alokasi DPR RI 7 kursi, caleg 82 orang. Alokasi DPD RI 4 kursi, caleg 32 orang. Sedangkan secara nasional, 6.608 orang yang akan memperebutkan 560 kursi DPR, artinya 6048 caleg akan gigit jari karena gagal terpilih.

Banyaknya caleg yang mencoba keberuntungan dalam pileg, disinyalir disebabkan oleh ‘hasil kesantunan’ masyarakat dalam komunikasi. Karena masyarakat tidak ingin ‘menyakiti’ para caleg sewaktu mereka sosialisasi. Jadi masyarakat selalu mendukung siapa saja yang ingin mencalonkan diri minimal mereka tidak berkomentar apa apa sewaktu terjadinya komunikasi itu. Dan masyarakat tidak dapat disalahkan dalam kontek ini, mungkin para caleg yang tidak mampu menerjemahkan ‘bahasa’ masyarakat tersebut.

Jadi, komunikasi antara caleg dengan masyarakat penuh dengan ‘drama’ untuk menjaga ‘muka’ agar para caleg itu tidak tersinggung dan tersakiti dengan selalu memberi jawaban positif terhadap apa yang diminta. Masalah mencoblos dalam pileg, itu urusan lain.

*) Penulis adalah seorang pendidik di Kab. Batanghari

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

husnijal

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0