Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Hadiah dan Objektivitas Penilaian Guru
Hadiah dan Objektivitas Penilaian Guru
2 Komentar | Dibaca 1344 kali

Nilai yang diberikan guru untuk siswa tidak dapat dinapikan adalah sesuatu yang esensial dalam proses belajar mengajar. Seorang siswa,juga orang tua siswa tentu berbangga dengan nilai memuaskan. Dikarenakan Nilai yang didapat siswa memberikan pengaruh yang besar terhadap persepsi, motivasi, dan kepercayaan anak terhadap proses belajar mengajar selanjutnya maka objektivitas guru dalam memberikan nilai sesungguhnya sangatlah signifikan dan hal ini perlu disadari oleh guru. Pada prakteknya, objektivitas guru ini sangat jarang dipertanyakan bahkan belum ada instrument yang representative dan holistic untuk bisa menilai keobjektivitasan guru dalam memberikan nilai buat siswanya. Guru mempunyai hak prerogative dan diskriminatif guru dalam memberikan nilai ini sangat sulit untuk dipertanyakan.Penilaian pada hakikatnya adalah upaya untuk memberikan penghargaan kepada peserta didik sesuai usaha yang dilakukannya selama proses pembelajaran, Sayangnya dalam implementasinya tidak jarang guru yang menyalahgunakan penilaian ini misalnya sebagai ajang balas dendam atau sebagai ucapan terimakasih kepada siswa. Sebagai seorang guru yang telah mengajar sejak masih remaja, saya dapat mengatakan bahwa budaya memberikan hadiah oleh siswa kepada guru memberikan korelasi negative terhadap objektivitas guru dalam memberi penilaian. Saya ingat sekali di masa remaja, saya membantu mengajar disekolah agama dan dimarahi oleh Ayah saya selaku Kepala Sekolah karena nilai rendah yang saya berikan kepada seorang siswa dimana orang tua siswa tersebut telah mengantarkan serantang rendang daging kesukaan ayah saya ke rumah dan sekarang sebagai ibu muda yang telah memiliki anak, saya mendengar ibu-ibu muda yang lain bercerita,”itu anak kesayangannya bu guru lho, orang tuanya sering kirim oleh-oleh dari luar negeri, Juara pertama terus itu”. Dengan tersenyum saya menimpali “ah, mungkin anaknya memang pintar bu!”. Yang lebih lucu lagi, saya mempunyai seorang siswa dimana siswa tersebut dengan sopan selalu memberi hadiah buat saya, pada HUT guru, pada hari ulang tahun saya misalnya, meski hadiah tersebut tidak besar tapi sungguh memberikan kesan dan tidak dapat saya pungkiri anak tersebut mendapatkan tempat khusus dihati saya, Sewaktu mengerjakan nilai untuk raport semester ingin sekali saya menambah beberapa angka saja agar anak tersebut menjadi juara pertama, tentu dengan mudah saya dapat melakukannya, toh, tidak ada yang tau, kan tidak ada harta Negara yang dirugikan, Tapi saya tidak melakukannya, Sewaktu memberikan rapot anak tersebut kembali membawa sebuah kado buat saya, Didalam hati saya kecewa tidak dapat mengumumkan namanya sebagai juara pertama meskipun saya tau anak tersebut sangat menginginkannya. Sebelum sekolah berakhir saya menemui anak tersebut. Saya menepuk bahunya dan berkata “Juara kelas tidak kamu pakai dalam kehidupan kamu nanti, kamu anak pintar yang hebat, belajar lebih giat lagi ya”. Saya tidak tau kalimat yang saya ucapkan itu salah atau benar. Saya tidak tau perhatian khusus saya buat anak itu juga salah atau benar, dan saya tidak tau kebiasaannya memberi hadiah buat saya itu salah atau benar. Yang saya tau, saya telah melakukan hal yang benar dengan tidak menambah nilai anak tersebut dengan alasan subjektif. meski saya sangat ingin dan dengan mudah dapat melakukannya. Lalu bagaimana pendapat anda? Jika diamati dari ketiga contoh peristiwa diatas, apakah anda setuju bahwa kebiasaan memberi hadiah kepada guru memberikan korelasi negative terhadap objektivitas guru dalam penilaian?

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Terdapat 2 Komentar pada "Hadiah dan Objektivitas Penilaian Guru"

  1. WIDARSO

     |
    January 10, 2016 at 8:42 am

    Terima kasih bu, anda telah kembali membuka dan memberikan inspirasi lagi pada diri saya setelah tulisan anda tentang kemampuan menulis pantun, puisi maupun sanjak yang lalu. Dari sisi kebiasaan atau kata orang “manusiawi” ada korelasi antara pemberian hadiah dengan nilai anak didik, entah korelasi negatif atau positif. Namun saya menilai bahwa ibu sedang berupaya mendapatkan masukan bahan dalam rangkan penulisan tesis atau karya ilmiah lainnya tentang apakah ada korelasi negatif antara pemberian hadiah dengan nilai. Jika benar maka saran saya agar diupayakan sampel yang representatif dan obyektif agar mendapatkan data yang valid dan reliabel sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan. Bila mengambil satu contoh saja yakni yang ibu alami, maka tidak ada korelasi antara hadiah yang ibu terima dari siswa dengan nilai siswa. Nilai yang diberikan ibu kepada siswa benar-benar nilai yang diperoleh siswa tanpa dipengaruhi oleh apakah anak itu memberi hadiah atau tidak kepada ibu. Namun belum tentu pada guru lain, apakah berpengaruh atau tidak? Nah di sinilah diperlukan penelitian. Selamat mencoba semoga berhasil.

  2. NENI SRIWAHYUNI HARTATI

     |
    January 11, 2016 at 11:19 pm

    Terima kasih kembali ya pak atas komentarnya, pertama sekali saya senang mengetahui bahwa bapak masih ingat postingan saya sebelumnya, komentar yang bapak berikan selalu memberi inspirasi juga buat saya. sebenarnya, tulisan ini tidaklah sebagai upaya saya untuk mendapat masukan dalam penulisan thesis atau karya ilmiah, hanya saja saya terinspirasi dari pengalaman pribadi baik sebagai guru, sebagai ibu dari seorang siswa, maupun pengalaman saya sebagai mahasiswa. objektivitas dan transparansi penilaian itu sangat penting, sebenarnya, banyak faktor lain yg mempengaruhi objektivitas penilaian guru, ‘hadiah’ ini memang terdengar ‘childish’ tp besar pengaruhnya. saya percaya secara intuitif pemberian hadiah oleh seseorang akan berpengaruh pada persepsi orang yang mendapat hadiah, masukan yg bapak berikan agar dilakukan penelitian systematic dan memenuhi kriteria penelitian ilmiah untuk mengetahui korelasi antara hadiah dn objektivitas penilaian guru sepertinya patut dicoba, insyaAllah bila ada kesempatan akan saya coba ya pak …

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ANTI MASPUPAH

pernah bersekolah di SDN 4 Rancapanggung,SMPN 1 Sindangkerta,SMAN 1 Cililin dan mulai kuliah di STKIP SILIW ...
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0