Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Prestasi Sekolah

Beranda / Prestasi Sekolah / Kalimat Bernas Murid Cerdas
Kalimat Bernas Murid Cerdas
0 Komentar | Dibaca 395 kali

Saya memimpikan peserta pendidikan dasar di Indonesia mampu membuat kalimat kompleks macam ini : “ Murid-murid kelas 3 berlatih mencermati alam dan mengarang cerita tentangnya”. Atau kalimat, “Dengan sedikit ketrampilan, ayah mengubah tatanan rumah yang sudah terasa membosankan”.

Menemukan peserta didik yang kaya imajinasi, terampil menyusun kalimat dengan perspektif tertentu, bagai upaya menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Sebagaimana kesulitan kita mendapati guru yang telaten mendongeng di depan murid-muridnya. Siswa hanya menyerap segala yang terjadi/berlaku di sekitarnya. Jika orangtuanya kerap mengeluarkan kalimat-kalimat negatif, maka anaknya berkembang menjadi individu negatif. Bila guru menjejali dengan tugas-tugas, murid akan rentan stress. Tak ayal, imajinasi pun menjadi barang mewah untuk anak-anak ini. Mereka menjadi tawanan situasi yang dibuat orang-orang dewasa di sekitarnya, yakni guru di sekolah, dan orangtua/masyarakat di lingkungannya.

(Pengajaran) Bahasa Indonesia harus cukup puas menempati posisi medioker dibanding (pengajaran) bahasa lain. Anak-anak muda lebih suka menggunakan bahasa asing untuk menamai blog mereka, memberi judul film/lagu, dll. Coba lihat judul programa televisi swasta berikut ini, ‘Indonesia Morning Show’, ‘The Comment’, ‘Tonight Show’, belum lagi program-program lain yang gandrung menggunakan Bahasa Inggris macam ‘Dangdut Academy’. ‘The Voice Indonesia’, ‘Indonesian Idol’ dll.

Pelatihan-pelatihan untuk para guru, workshop, masih berbicara soal-soal mendasar yang normatif konvensional, semisal penyusunan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, perubahan kurikulum. Hingga pada gilirannya pun, buku-buku pelajaran (Bahasa Indonesia) masih membicarakan dan mengajarkan peserta didik untuk mengenali, membuat kalimat-kalimat yang konvensional pula seperti, “Ayah pergi ke kantor”, “Ibu memasak sayur sop di dapur”, atau, “Anak-anak bermain kelereng di lapangan”. Pelatihan komputer, IT, maupun pelatihan kepenulisan, hanya dihadiri oleh mereka yang tidak benar-benar berminat pada bidang yang bersangkutan. Ini pun biasanya tanpa follow up. Media massa memberikan ruang guru untuk berkarya tulis, namun yang mengisi hanya 1% di antara ratusan ribu guru yang ada.

Kalimat-kalimat bernas dan kompleks seperti pada 3 contoh kalimat pertama di atas hanya bisa ditemui pada lingkungan sehat, yang memberi dukungan dan kasih sayang penuh kepada peserta didik ; masyarakat yang berkomitmen mengadakan, mengalami, melaksanakan pertumbuhan, menyelenggarakan proses recycling untuk dirinya sendiri.

Sungguh disayangkan, lingkungan masyarakat seperti ini masih hanya ada dalam angan keindonesiaan belaka. Kondisi yang terjadi saat ini adalah masyarakat yang dipenuhi tindak kekerasan dan berita-berita tentangnya, penyalahgunaan wewenang – jabatan dan berita-berita tentangnya, maka yang terekam dalam memori peserta didik adalah fakta-fakta negatif serta pikiran-pikiran destruktif.

Pada gilirannya mereka pun mengalami kesulitan mengeksplorasi alam bawah sadarnya dan mengartikulasikan gagasan-gagasannya —bahkan kesulitan untuk menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang bergagasan— , hingga selalu kata-kata yang muncul dari mulut mereka saat materi pelajaran membuat karangan adalah, “ … sulit …”, atau, “… tidak bisa …”.

Di sinilah seharusnya peran penting guru, —mengartikulasikan gagasan— atau mengajarkan siswanya untuk itu. Analog untuk hal ini ialah sebuah pepatah, a child who reads will be an adult who thinks. Bila mereka terbiasa untuk menyatakan gagasannya, kelak akan menjadi konseptor, pembangun, pemimpin bangsa dll. Jika mereka terlatih mendengarkan keluhan guru/orangtuanya soal kesulitan ekonomi, mereka belajar membegal, menaklukkan, merampas dll.

Guru hanyalah satu stimulus kecil dalam sistem pendidikan, namun kondisi masyarakat sekitar, keadaan keluarga peserta didik, pengalaman keseharian peserta didik, merupakan latar belakang yang tak dapat dipandang sebelah mata dalam membentuk karakter mereka. Guru tak dapat secara optimal bekerja sendiri mengajar hingga mulut berbusa-busa bila kondisi masyarakat peserta didik tak kondusif bagi pengajaran yang telah direncanakan. Guru tak bisa mengajar peserta didik yang berasal dari masyarakat yang hanya mau menuntut, namun segan mendukung terjadinya kondisi masyarakat yang tak kondusif bagi proses transfer ilmu.

Jika masih terdengar berita tawuran antar pelajar, atau konflik guru dengan siswa, barangkali ini menunjukkan bahwa masih ada yang salah dalam pengajaran materi penyampaian pesan/berbahasa, hingga yang muncul bukanlah kalimat bernas dari murid cerdas, melainkan akumulasi kekerasan demi kekerasan.

 

Penulis mengajar di MI Al—Islamiyah, Panggung, Kota Tegal

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

MUH. SYAFE'I

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0