Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Prestasi Sekolah

Beranda / Prestasi Sekolah / Kalimat Bernas Murid Cerdas
Kalimat Bernas Murid Cerdas
0 Komentar | Dibaca 508 kali

Saya memimpikan peserta pendidikan dasar di Indonesia mampu membuat kalimat kompleks macam ini : “ Murid-murid kelas 3 berlatih mencermati alam dan mengarang cerita tentangnya”. Atau kalimat, “Dengan sedikit ketrampilan, ayah mengubah tatanan rumah yang sudah terasa membosankan”.

Menemukan peserta didik yang kaya imajinasi, terampil menyusun kalimat dengan perspektif tertentu, bagai upaya menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Sebagaimana kesulitan kita mendapati guru yang telaten mendongeng di depan murid-muridnya. Siswa hanya menyerap segala yang terjadi/berlaku di sekitarnya. Jika orangtuanya kerap mengeluarkan kalimat-kalimat negatif, maka anaknya berkembang menjadi individu negatif. Bila guru menjejali dengan tugas-tugas, murid akan rentan stress. Tak ayal, imajinasi pun menjadi barang mewah untuk anak-anak ini. Mereka menjadi tawanan situasi yang dibuat orang-orang dewasa di sekitarnya, yakni guru di sekolah, dan orangtua/masyarakat di lingkungannya.

(Pengajaran) Bahasa Indonesia harus cukup puas menempati posisi medioker dibanding (pengajaran) bahasa lain. Anak-anak muda lebih suka menggunakan bahasa asing untuk menamai blog mereka, memberi judul film/lagu, dll. Coba lihat judul programa televisi swasta berikut ini, ‘Indonesia Morning Show’, ‘The Comment’, ‘Tonight Show’, belum lagi program-program lain yang gandrung menggunakan Bahasa Inggris macam ‘Dangdut Academy’. ‘The Voice Indonesia’, ‘Indonesian Idol’ dll.

Pelatihan-pelatihan untuk para guru, workshop, masih berbicara soal-soal mendasar yang normatif konvensional, semisal penyusunan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, perubahan kurikulum. Hingga pada gilirannya pun, buku-buku pelajaran (Bahasa Indonesia) masih membicarakan dan mengajarkan peserta didik untuk mengenali, membuat kalimat-kalimat yang konvensional pula seperti, “Ayah pergi ke kantor”, “Ibu memasak sayur sop di dapur”, atau, “Anak-anak bermain kelereng di lapangan”. Pelatihan komputer, IT, maupun pelatihan kepenulisan, hanya dihadiri oleh mereka yang tidak benar-benar berminat pada bidang yang bersangkutan. Ini pun biasanya tanpa follow up. Media massa memberikan ruang guru untuk berkarya tulis, namun yang mengisi hanya 1% di antara ratusan ribu guru yang ada.

Kalimat-kalimat bernas dan kompleks seperti pada 3 contoh kalimat pertama di atas hanya bisa ditemui pada lingkungan sehat, yang memberi dukungan dan kasih sayang penuh kepada peserta didik ; masyarakat ya