Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Pendidik dalam Al Quran dan hadits
Pendidik dalam Al Quran dan hadits
0 Komentar | Dibaca 728 kali
SUKRI @sukri19
03 February 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tugas manusia yang pertama adalah menjadi hamba Allah yang taat, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat 56, yang artinya: ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi (ibadah) kepada-Ku.“ Manusia diperintah untuk beribadah hanya kepada Allah, karena tidak ada tuhan selain Dia.“Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selain-Nya”(Q.S. Al-A’raaf: 59).
Dalam rangka menjalani tugasnya tersebut, Allah telah membekali dengan ilmu pengetahuan, Inilah cikal bakal ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada manusia pertama dari Sang Pemilik Ilmu. Selain kepada Nabi Adam AS., Allah SWT juga memberikan hikmah (kenabian, kesempurnaan ilmu dan ketelitian amal perbuatan) kepada para nabi dan rasulnya. Kepada sebagian rasul pula, Allah menurunkan kitab suci sebagai sumber ilmu pengetahuan..
Pada dasarnya, sistem pendidikan Islam didasarkan pada sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh mengabaikannya. Banyak nash al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menyebutkan juga keutamaan mencari ilmu dan orang-orang yang berilmu. Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata.
Sesuai dengan latar belakang di atas maka dalam judul makalah ini adalah “Konsep Pendidikan Islam Dalam Al-Qur’an Dan Hadist’ yang nantinya akan menjadi beberapa rumusan masalah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep pendidikan islam ?
2. Bagaimana ayat-ayat Alquran tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam ?
3. Bagaimana analisis ayat Al-Qur’an tentang pendidik dalam pendidikan islam ?
4. Bagaimana hadits – hadits tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam ?
5. Bagaimana analisis Hadist tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam ?
C. Tujuan Pembahasan
1. Menjelaskan konsep pendidikan islam
2. Menjelaskan ayat-ayat Alquran tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam
3. Menjelaskan analisis ayat Al-Qur’an tentang pendidik dalam pendidikan islam
4. Menjelaskan hadits – hadits tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam
5. Menjelaskan analisis Hadist tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pendidikan Islam
Secara garis besar, konsepsi pendidikan dalam Islam adalah mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar. Pengaruh pembawaan dan pengaruh pendidikan diharapkan akan menjadi satu kekuatan yang terpadu yang berproses ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kepada pengajaran yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebih menekankan kepada pendidikan yang mengarah kepada pembentukan kepribadian yang utuh dan bulat.
Dalam kaitan pembahasan tentang konsep pendidikan maka tak akan lepas dari beberapa komponen salahsatunya adalah kurikulum. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar dan cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional.
Untuk mencapai kesempurnaan dalam pembentukan individu dalam proses belajar mengajar. Maka di harapkan dalam proses pendidikan harus adanya seorang pendidik atau seorang guru yang berkompeten. Menurut Muhaimin, kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan keberhasilan bertindak. Kepmendiknas nomor 16 Tahun 2007 menetapkan standar kompetensi guru yang dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi : kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Penjelasan keempat kompetensi ini secara ringkas dijelaskan sebagai berikut :
1. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran.
2. Kompetensi kepribadian adalah adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
3. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.
B. ayat-ayat Alquran tentang konsep pendidik dalam pendidikan islam
1. Qs. Al Fathir ayat 28
 ••                  .
Artinya : Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

2. Qs. Ali Imron ayat 190
       •    
Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

3. Qs. An Nahl ayat 43
                
Artinya : Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui,

4. Qs. Ali Imron ayat 7
              •                        •            
Artinya : Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

.5. Qs. Al Isra’ ayat 105
          
Artinya : dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

6. Qs. Taha ayat 54 dan 128
    •      
Artinya : Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.

            •      
Artinya : Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, Padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

7. Qs. Al Baqoroh ayat 31
               
Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

8. qs. Ali Imron ayat 79
           ••                 
Artinya : tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu Dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

9. Qs. Al Baqoroh ayat 151
             •    
Artinya : sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

10. Qs. Al Hasyr ayat 2
          •          •                        
Artinya : Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan.

11. Qs. Yusuf 108
           •        
Artinya : Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”.
12. Qs. An Nisa’ ayat 63
                
Artinya : mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

13. Qs. At Taubah ayat 122
                       
Artinya : tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

C. Analisis Ayat – ayat Al-Qur’an Tentang Konsep Pendidik dalam Pendidikan Islam
Dengan memperhatikan ayat – ayat di atas, maka susunan kosa kata yang bermakna pendidik (guru) dari yang pertama sampai yang terakhir di dalam al-Quran adalah: ahl al-zikr, mubassyir wa nazir, ‘ulama, al-muwaiz, uli al-nuha, mu’allim, al-muzakki, murabbi, al-rasikhuna fi al-‘ilm, ulul albab, faqih, da’i dan uli al-absar . Kosa kata yang secara eksplisit mengandung makna melakukan tugas mendidik adalah mubasysyir wa nazir, muwaiz, mu’allim, murabbi, muzakki, dan da’i. Sementara kosa kata lainnya yang mengandung makna keunggulan atau kualitas personal atau kompetensi yang dimiliki seorang pendidik adalah ahl al-zikr, ‘ulama, uli al-nuha, al-rasikhuna fi al-‘ilm, ulul albab, faqih, dan ulil al-absar..
Berdasarkan penelitian terhadap ayat-ayat yang memiliki makna yang jelas (sarīh) tentang pekerjaan mendidik adalah mubasysyir wa nazir, al-muwa’iz, mu’allim, murabbi, muzakki, dan da’i. Jika ayat-ayat yang mengandung kosa kata tersebut dilihat dalam konteks pendidikan, maka seorang pendidik adalah orang yang mendidik dan mengajar orang lain untuk memanusiakan manusia (mensucikannya) dengan menginternalisasikan nilai-nilai kepada kepribadian peserta didik terutama nilai-nilai tauhid, akhlak, ibadah dan mengajarkan pengetahuan tentang berbagai hal. Sehingga dengan ilmu pengetahuan seperti itu peserta didik akan terbimbing kepada jalan Tuhan. Bimbingan tersebut dilaksanakan dengan hikmah, mauizah dan jidal al-ahsan. Sementara pengetahuan yang dibimbingkan itu jika dikelompokkan dapat berbentuk pengetahuan tentang ayat-ayat tanzili dan pengetahuan tentang ayat-ayat kauni.
Menurut al-Quran, secara personal seorang pendidik adalah orang yang memiliki kecerdasan spiritual, karena ia senantiasa zikir (mengingat) Allah dalam keadaan apapun. Sebagai ahl al-zikr, ia memiliki pengetahuan sejarah para Nabi (sirah) dan sejarah social umat terdahulu. Selain itu, seorang pendidik adalah juga seorang ulama, yakni orang yang kapabilitas keilmuannya bersepadu antara ilmu-ilmu ukhrawi dan duniawai. Ilmunya utuh. Ia tidak mengenal dualisme keilmuan. Pengetahuannya tentang kealaman, baik mikro atau makro kosmos disinari oleh pengetahuan keilahiannya. Sebagai uli al-nuha ia memiliki spektrum pengetahuan yang luas. Tidak hanya kealaman tetapi juga sejarah dan sosial. Penamaan lainnya seperti al-muzakki, al-rasikhuna fi al-‘ilm, ulul albab, dan ulil al-absar juga menegaskan kompetensi personal, juga kapasitas dan kapabilitas serta misi propetis (nubuwwah) seorang pendidik.
Secara khusus penulis perlu menyebutkan bahwa, berdasarkan inspirasi dari penjelasan Hamka bahwa sebagai muzakki, seorang pendidik adalah orang yang bersih dari kebodohan dan kerusakan akhlak, kotoran kepercayaan dan kemusyrikan. Dengan kualitas seperti ini menurut Hamka, seorang muzakki diberi gelar sebagai umat yang menempuh jalan tengah (moderat, pen.) di tengah umat-umat lain yang misinya mengajarkan kepada manusia Kitab dan Hikmah, dan juga hal-hal (perkara-perkara) yang selama ini tidak diketahui.
Seorang pendidik yang juga dalam al-Quran diberi gelar rasikh fi al-‘ilm, senantiasa memperdalam pengetahuannya dan berkonsistensi mengamalkannya. Hamka menjelaskan bahwa seorang yang rasikh dalam ilmu semakin hari akan semakin mengetahui hakikat ilmu, karena ia juga senantiasa membersihkan dirinya dengan beribadah. Secara khusus, Hamka menjelaskan bahwa al-rasikhuna fi al-‘ilm adalah:
orang yang telah rasikh ilmunya, artinya telah dalam, telah berurat, telah dianugerahi Tuhan segala kunci-kunci ilmu. Maka menurut kebiasaannya, apabila orang yang telah amat mendalam ilmunya, mengakuilah dia akan kekurangannya. Sebagaimana Imam Syafi’i yang termasuk barisan orang rasikh, pernah berkata: Kullamā zādanī ‘ilman zādanī fahman bijahlī. “Tiap-tiap Tuhan menambah ilmuku, bertambahlah aku faham akan kejahilanku.”
Al-Quran yang juga sumber ilmu, menurut Hamka merupakan jamuan yang secara metodologis dalam memahaminya memerlukan kekuatan dan ketekunan intelektual yang dalam dan pemikiran yang bersungguh-sungguh. Dengan cara demikian, seorang ulama’ akan dapat menjadi warasat al-anbiyā`.
Sebagai al-muwaiz al-waizin, mu’allim, murabbi, seorang pendidik memiliki kompetensi paedagogik untuk membimbing, mengarahkan bahkan menurut al-Quran menjaga peserta didik agar menjadi manusia-manusia yang muslimin, mu’minin, muhsinin, muttaqin, sabirin, mutawakkilin, muqsitin, mukhlisin, at-tawwabin, mutatahhirin, muflihin, dan lain-lain. Menurut ahli didik Muslim, profil ideal kepribadian Muslim yang menjadi tujuan akhir pendidikan Islam adalah insan kamil
Berdasarkan penelusuran terhadap makna ayat yang mengandung kosa kata al-muwaiz al-waizin, mu’allim, dan murabbi, maka dapat dirumuskan bahwa guru harus memiliki kompetensi paedagogik yang:
a. Mendidik dan mengembangkan kecerdasan iman dan takwa (spiritual) peserta didik.
b. Mendidik dan mengembangkan kecerdasan akal-budi (intelektual) peserta didik.
c. Mendidik dan mengembangkan sikap ihsan (kecerdasan sosial) peserta didik.
d. Mendidik dan mengembangkan ketangkasan beramal (kecerdasan emosional) peserta didik.
e. Mendidik dan mengembangkan prilaku hidup sehat dan bersih (kecerdasan kinestetis) peserta didik.
f. Menjaga peserta didik dari berbagai hal yang destruktif yang mengundang murka Allah SWT.
D. Hadits – hadits nabi tentang Konsep Pendidik dalam pendidikan islam
1. Mengembalikan Ilmu kepada Allah ( Tawadhu’ )
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهم – قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ أَوْلاَدِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ « اللَّهُ إِذْ خَلَقَهُمْ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِين.) رواه البخارى ومسلم(
Artinya: Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ditanya tentang anak-anak orang yang musyrik. Lalu beliau menjawab: “Allah Maha Mengetahui apa yang akan mereka kerjakan pada saat ia diciptakan”.(HR. Bukhari Muslim)
2. Sifat Lemah lembut dan Kaih sayang
عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُم ( رواه البخارى)
Artinya: Abu Sualiman Malik ibn al-Huwayris berkata: Kami, beberapa orang pemuda sebaya datang kepada Nabi saw., lalu kami menginap bersama beliau selama 20 malam. Beliau menduga bahwa kami telah merindukan keluarga dan menanyakan apa yang kami tinggalkan pada keluarga. Lalu, kami memberitahukannya kepada Nabi. Beliau adalah seorang yang halus perasaannya dan penyayang lalu berkata: “Kembalilah kepada keluargamu! Ajarlah mereka, suruhlah mereka dan salatlah kamu sebagaimana kamu melihat saya mengerjakan salat. Apabila waktu salat telah masuk, hendaklah salah seorang kamu mengumandangkan azan dan yang lebih senior hendaklah menjadi imam”. (HR. Bukhari)
3. Memperhatikan Keadaan Peserta Didik
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. )رواه البخارى(
Artinya: Dari Ibnu Mas’ud, Nabi SAW. selalu menyelingi hari-hari belajar untuk kami untuk menghindari kebosanan kami. (HR. Bukhari)
4. Berlaku dan Berkata Jujur
عن عمر بن الخطاب … قاَلَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ قاَلَ ماَ المْسَؤُْوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّاِئلِ…. (رواه البخارى ومسلم.)
Artinya: Umar bin Khatab meriwayatkan: … Jibril berkata lagi,“Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat!”, Rasulullah SAW.menjawab: “tentang masalah ini, saya tidak lebih tahu dari Anda. …”(HR. Bukhari Muslim)

5. Menjawab Lebih Dari Pada Yang Ditanyakan
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه, أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه وسلم مايَلْبَسُ الْمُحْرِمُ ؟ فقال: (لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الْوَرْسُ أَوْ الزَّعْفَرَانُ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ). (رواه البخاري ۱۳٤ )
Artinya: diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA. Bahwa adaseorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: “pakaian apa yang dikenakan oleh orang yang berihram?” Rasulullah SAW menjawab: “orang yang berihram tidak boleh mengenakan baju, serban , celana panjang, penutup kepala, pakaian yang dicelup wars (jenis Tumbuhan) atau za’faran (jenis wewangian). Jika dia tidak mendapat sepasang sandal, maka dia boleh memakai sepasang khuff (kaos kaki dari kulit) tetapi harus di potong bagian atasnya sehingga tampak mata kakinya

E. Analisis Hadist Tentang Konsep Pendidik dalam pendidikan islam
Seorang pendidik harus memiliki sifat tawaduk, tidak merasa paling tahu atau serba tahu. Bila ada hal-hal yang tidak diketahui dengan jelas, ia sebaiknya mengembalikan persoalan itu kepada Allah. Bila ternyata ada hal yang diragukan atau belum diketahui sama sekali, jangan segan mengatakan “Allah Yang Maha tahu. Itu adalah salah satu bentuk sikap tawadhu’ seorang hamba yang beriman dan bertaqwa.
Kandungan hadis yang kedua itu umum, termasuk semua umat Islam, umat Nabi Muhammad SAW. juga pendidik. Pendidik harus memiliki sifat kasih sayang kepada peserta didiknya agar mereka dapat menerima pendidikan dan pengajaran dengan hati yang senang dan nyaman. Segala proses edukatif yang dilakukan oleh pendidik harus diwarnai oleh sifat kasih sayang ini.
Dalam hadis ketiga ini terdapat informasi bahwa Rasulullah saw. mengajar sahabat tidak setiap hari, tetapi ada waktu belajar dan ada pula waktu istirahat. Hal itu dilakukannya untuk menghindari kebosanan kepada pelajaran. Itu berarti bahwa Rasulullah saw. memperhatikan kondisi para sahabat (peserta didik) dalam mengajar. Peserta didik membutuhkan selingan waktu untuk beristirahat.
Menurut Muhammad Utsman Najati, di antara temuan riset mutakhir dalam proses belajar ialah jadwal waktu belajar. Dengan kata lain, dalam proses belajar harus ada jenjang waktu untuk istirahat. Hal ini sangat penting dalam proses belajar yang tepat dan cepat. Dengan mengatur jadwal waktu belajar, pelajaran yang akan disampaikan berikutnya dapat dicerna dengan baik. Oleh karenanya, prinsip belajar dengan membagi waktu belajar ini dapat menghilangkan rasa lelah dan bosan.
Dalam hadits keempat ini dijelaskan bahwa Seorang pendidik harus bersifat jujur kepada peserta didiknya sebagaimana yang dipertunjukkan oleh Nabi SAW. Seorang ilmuan, guru, dan pendidik harus bersifat jujur dan terbuka. Bila ditanya orang tentang suatu hal yang tidak diketahuinya, dia harus berani mengatakan tidak tahu. Jangan bergaya serba tahu. Jangan mengada-ada untuk menjaga gengsi keilmuan.
Dalam hadits kelima dijelaskan bahwa seorang pendidik harus mampu memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya dalam memberikan jawaban kepada anak didik yang selalu aktif dalam menumbuhkan rasa ingin tahuanya, oleh karena itu seorang pendidik dituntut untuk mempelajari materi-materi yang akan diajarkan secara mendalam dengan memahami segala aspek ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan begitu pada saat proses belajar mengajar akan tercapai kesuksesan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Secara garis besar, konsepsi pendidikan dalam Islam adalah mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar.
2. Ayat – ayat alquran tentang konsep pendidik :
No Surat Ayat No Surat Ayat
1 Qs. Al Fathir 28 6 Qs. Yusuf 108
2 Qs. Ali Imron 190, 7, 79 7 Qs. Nisa’ 63
3 Qs. An Nahl 43 8 Qs. At Taubah 122
4 Qs. Isro’ 105 9 Qs. Al Baqoroh 31, 151
5 Qs. Toha 54, 128 10 Qs. Al Hasr 2
3. Kosa kata yang secara eksplisit mengandung makna melakukan tugas mendidik adalah mubasysyir wa nazir, muwaiz, mu’allim, murabbi, muzakki, dan da’i. Sementara kosa kata lainnya yang mengandung makna keunggulan atau kualitas personal atau kompetensi yang dimiliki seorang pendidik adalah ahl al-zikr, ‘ulama, uli al-nuha, al-rasikhuna fi al-‘ilm, ulul albab, faqih, dan ulil al-absar.
4. Hadits Hadits tentang konsep Pendidik :
1. Hadits Bukhori tentang Tawadhu’
2. Hadits Riwayat Bukhori tentang Sifat Lemah lembut dan Kaih sayang
3. Hadits Riwayat Bukhori tentang Memperhatikan Keadaan Peserta Didik
4. Hadits Riwayat Bukhori Muslim tentang Berlaku dan Berkata Jujur
5. Hadits Riwayat Bukhori tentang Menjawab Lebih Dari Pada Yang Ditanyakan
5. Untuk dapat menghasilkan pendidik yang professional maka upaya peningkatan dan pengembangan kompetensi pendidik mutlak diperlukan. diantara sifat-sifat yang harus dimiliki seorang Pendidik antara alain :
1. Tawadhu’
2. Sifat Lemah lembut dan Kaih sayang
3. Memperhatikan Keadaan Peserta Didik
4. tentang Berlaku dan Berkata Jujur
5. Menjawab Lebih Dari Pada Yang Ditanyakan
B. Saran
1. Sebagai Sebagai seorang mahasiswa/i PAI tentunya harus mengetahui tentang konsep – konsep dalam ayat – ayat alquran tentang pendidikan Islam. Maka dari itu disarankan agar teman – teman mahasiswa/i memahami berbagai wacana dan referensi mengenai hal-hal semacam ini dengan tujuan untuk menunjang keilmuannya dan juga menunjang kefahamannya terhadap Ilmu Pendidikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

Afnibar, Memahami Profesi dan Kinerja Guru, (Jakarta: The Minangkabau Foundation, 2005
Al-Attas, Syed Muhammad al-Naquib. Konsep Pendidikan Islam. Cet. Ke-4. Bandung: Mizan, 1992.
Al-Gazali. Ihya` ‘Ulum ad-Din.Terj. Maisir Thaib dan A. Thaher Hamidy. Medan: Pustaka Indonesia, 1966.
An-Nahlawi, Abdurrahman. Usul al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibiha fi al-Baiti wa al-Madrasah wa al-Mujtama’. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
As-Sajastani, Sulaiman bin al-Asy’ats Syidad bin ‘Umaru al-Azdiy Abu Daud. Sunan Abi Daud,Juz 11. India: Mathba’ Naul Kisywar, 1305 H.
As-Suyuti, Jalaluddin. Safwah al-Bayan li al-Ma’ani al-Qur`an.
——-. Jami’ al-Ahadis, Juz 2.
Dep. Agama RI, Al-Qur`an dan Terjemahnya. Cet. ke-5. Bandung: CV Diponegoro, 2007.
Echols, John M dan Hassan Shadily. Kamus Inggris-Indonesia. Cet. XX. Jakarta: PT Gramedia, 1992.
Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz II. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002.
——-. Tafsir al-Azhar, Juz III. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002.
——-. Tafsir al-Azhar, Juz IV, Cet. 3. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002.
——-. Tafsir al-Azhar, Juz XVII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2001.
Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional. Cet. Ke-9. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.
Mursi, Muhammad Munir. At-Tarbiyat al-Islamiyah: Usuluha wa Tatwiruha fi al-Bilad al-’Arabiyah. Kairo: ‘Alam al-Kutub, 1982.
Nasution, Harun. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Cet. 7. Jakarta: Bulan Bintang, 1990.
Pidarta, Made, Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia,Cet. 2 (Jakarta: Rineka Cipta, 2007.
Praja, Juhaya S. “Paradigma Pengembangan Universitas Islam Negeri (Harapan dan Masa Depan UIN Malang),” dalam A. Malik Fadjar, dkk., Horizon BaruPengembangan Pendidikan Islam Upaya Merespon Dinamika Masyarakat Global. Malang: UIN Malang Press, 2004.
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah, Volume 7. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
——-. Tafsir al-Misbah, Volume 11. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Siddik, Dja’far. Konsep Dasar Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Cita Pustaka Media, 2006.
Uno, Hamzah B. Profesi Kependidikan. Cet. 4. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
……………………………….

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Sugeng Suprayogi

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0