Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // SIAPku

Beranda / SIAPku / Cerpen vs Berita
Cerpen vs Berita
0 Komentar | Dibaca 732 kali
ASY'ARI @asyari1964
03 March 2016

Dalam sebuah perjalanan ke sekolah mendadak menyembul di otak saya sebuah pertanyaan: kenapa wartawan lebih produktif menulis berita dibanding sastrawan (baca: cerpenis dan novelis) menulis cerpen dan novel? Wartawan menulis fakta, sastrawan menulis imajinasi. Bukankah imajinasi jauh lebih tak berbilang dibanding fakta. Jika fakta tidak ada, kita bisa berimajniasi. Jadi, sejatinya cerpenis dan novelis lebih produktif dibanding wartawan.
Dari segi media pun sastrawan lebih leluasa menemukan tempat mengekspresikan hasil imajinasinya. Wartawan butuh koran, sastrawan hanya butuh pen dan kertas. Wartawan menulis untuk diberitakan kepada orang lain, sastrawan menulis bisa untuk dirinya sendiri. Jadi, sekali lagi, mestinya lebih banyak sastrawan daripada jumlah wartawan.
Pertanyaan itu samar-samar menampakkan jawaban: karena sastrawan menulis nilai. Berbeda dengan wartawan yang menulis apa pun fakta atau kejadian, sastrawan menulis hanya kejadian yang bernilai, yang bermakna. Tak sembarang peritiwa berhak nyelonong ke dalam tulisan. Hanya peristiwa yang lolos saring makna yang berhak menjadi karya. Sastrawan adalah penyeleksi kreatif mana peristiwa yang mengandung pencerahan dan mana yang usang.
Begitulah, sebuah karya satra sejatinya adalah luapan nilai. Dalam karya sastra peristiwa bukan inti, bukan poros, bukan pusat. Ia hanyalah setapak jalan menuju kawah nilai. Sebuah lorong yang mengantarkan pejalan menuju cahaya. Karena itu, wajar kalau kerap kita jumpai karya sastra, termasuk novel dan cerpen, yang jika diukur dengan standar faktualitas nonsens, mustahil, dan tak riil.
Wartawan gelisah bila tak menemukan peristiwa, sastrawan tak bisa diam bila kejadian yang ia alami atau temukan tak menyisihkan nilai. Dasar pijak sastrawan bukan panca indra, bukan yang empirik, seperti wartawan. Pijak landas sastrawan adalah lumbung nilai dan kebermaknaan. Misi utama mereka adalah mengeksplorasi dan memodifikasi sampah-sampah peristiwa menjadi perangkat atau perabot hidup yang bernilai guna bagi manusia.
Memang, hidup tak kan bangkrut tanpa sastra, tanpa novel dan cerpen. Tapi, dengan sastra hidup jadi lebih indah, mesra, dan kaya. Bayangkan, apa jadinya jika ‘sampah’ kehidupan dibakar begitu saja, atau dibiarkan menumpuk menjadi sarang nyamuk dan beragam mikroorganisme busuk, tanpa dimodifikasi menjadi sesuatu yang bermakna dan bernilai guna?
Maka tak salah kiranya bila dikatakan: berita berumur setengah hari, sastra berusia sepanjang masa. Karena, nilai tak terbunuh waktu!

Jaddung, 26 Desember 2013