Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Puisi 1: TIDAKKAH KITA WAJIB BERSYUKUR
Puisi 1: TIDAKKAH KITA WAJIB BERSYUKUR
0 Komentar | Dibaca 401 kali

Anakku, lihatlah…

Di sudut-sudut kota sana

Anak-anak jalanan menengadahkan tangan

Mengemis, mengamen, mencuri, merampok

Demi memenuhi hak perut lapar mereka

Dengarlah…

Di kolong-kolong jembatan sana

Janda-janda nestapa merintih pedih

Mengais timbunan sampah demi sesuap nasi

untuk membungkam tangis kelaparan anak-anak mereka

Perhatikanlah…

Di persimpangan jalan sana

Para ayah susah payah membasuh peluh

Mengabaikan teriakan letih tubuh mereka

Menegakkan perut lapar mereka

Berjuang menaklukkan hari

Pulang membawa sebungkus nasi impian anak-anak mereka

Dengarlah jua…

Mulut-mulut yang mencibir makanan kampung

Yang disajikan dengan penuh tetesan peluh

Yang mengerang kala perut tak terpuaskan

Yang mengaum kala harta tak terbagi sama rata

Duhai anakku

Apa yang telah kita punya ketika kita lahir dari rahim ibunda?

Apa yang akan kita miliki ketika kita mati dan dikubur nanti?

Tidakkah kita wajib bersyukur?

_______________________________________

Bantul, Oktober 2009

 

Puisi ini dibuat sebagai bentuk kekecewaan atas hasil kerja keras dalam kepanitiaan workshop yang tidak dihargai oleh peserta workshop dan justru mendapat cibiran.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

SANUSI

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  2
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0