Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Curang No, Prestasi Yes, Merasa Malu Harus!
Curang No, Prestasi Yes, Merasa Malu Harus!
0 Komentar | Dibaca 873 kali

Curang No, Prestasi Yes, Merasa Malu Harus!
Oleh: Amri Ikhsan
Hajatan akbar tahunan dibidang pendidikan, ujian Nasional (UN) sudah datang. Kehadiran UN tidak lagi seheboh dulu. Siswa tidak lagi dihantui ketakutan dan kekhawatiran mengenai UN, yang dulu menjadi salah satu tolok ukur kelulusan siswa.
Permendikbud nomor 57 tahun 2015 Pasal 16 menyatakan bahwa hasil UN digunakan untuk: (a) pemetaan mutu program dan/atau Satuan Pendidikan; (b) pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya; dan (c) pertimbangan dalam pembinaan dan pemberian bantuan kepada Satuan Pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Akibatnya, pro dan kontra tentang pelaksanaan UN tidak lagi ‘panas’, berita tentang UN tidak ‘sesexy’ dulu. Perlu diapresiasi karena beberapa tahun terakhir ini pemerintah mulai kompromi dan akhirnya mau menerima masukan dari sejumlah pemangku kepentingan pendidikan (stakeholders) menjadikan nilai Ujian sekolah sebagai bahan pertimbangan kelulusan siswa.
Para siswa, sekolah, orang tua menyambut baik keputusan Kemdikbud, bahwa hasil UN tidak lagi ditentukan oleh pemerintah melainkan kelulusan siswa pada suatu jenjang pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada satuan pendidikan bersangkutan.
Diakui, UN adalah kebijakan publik yang ‘belum sempurna’. Dianalogikan perlombaan balapan motor dengan kapasitas 250 CC, 110 CC dan 100 CC diperlombakan pada kelas dan lintasan sirkuit yang sama. Tentu dari kecepatan dan daya tahan ketiga kendaraan ini berbeda secara signifikan sehingga output kecepatan maximum juga tentu juga akan berbeda.
Berdasarkan POS UN 2016, kriteria pencapaian kompetensi lulusan berdasarkan hasil UN: nilai hasil UN dilaporkan dalam rentang nilai 0 sampai dengan 100, dengan tingkat pencapaian kompetensi lulusan dalam kategori sebagai berikut: (a) sangat baik, jika nilai lebih dari 85 dan kurang dari atau sama dengan 100; (b) baik, jika nilai lebih dari 70 dan kurang dari atau sama dengan 85; (c) cukup, jika nilai lebih dari 55 dan kurang dari atau sama dengan 70 dan (d) kurang, jika nilai kurang dari atau sama dengan 55.
Ini disinyalir ‘pemicu’ timbulnya ‘niat’ curang selama UN. Kelihatannya kita belum siap ‘dikotak-kotak, dikelompok-kelompokkan, dirangking, apalagi termasuk rangking ‘bawah’. Rasa malu kita ‘cepat keluar’. Ini sebenarnya ‘keyword’ kecurangan UN selama ini, mulai dari guru, kepala sekolah, Kepala Dinas, Kepala Daerah ‘keluar’ rasa malunya bila mata pelajarannya, sekolahnya atau daerahnya termasuk kategori ‘lemah’ dalam UN. Implikasinya adalah melakukan ‘operasi senyap’ supaya tidak termasuk kelompok ini. Bagi pihak pihak ini, masuk dalam kat