Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / “Cegah Pesta Kelulusan UN”
“Cegah Pesta Kelulusan UN”
0 Komentar | Dibaca 980 kali

“Cegah Pesta Kelulusan UN”
Oleh: Amri Ikhsan
Kelulusan UN akan diumumkan. Bisa diprediksi, siswa yang ‘mengikuti’ UN dipastikan lulus dan sekolah dengan bangga ‘memproklamirkan’ kelulusan 100%, karena memang sekolahlah yang menentukan kelulusan UN. Dan biasanya pengumuman ini diikuti oleh sebuah pesta kelulusan: coret menyoret, konvoi, berakrobat di jalan raya, ‘berteriak histeris’, prosesi menggunting rok, dll.
Seperti biasa, stakeholder pendidikan sudah ‘menghimbau’ siswa untuk tidak coret mencoret, konvoi, dll. Dan diyakini, salah satu usaha yang paling lemah untuk mencegah sesuatu adalah ‘cuma’ menghimbau tanpa ada usaha komprehensif dan terukur. Himbauan ini sama sekali tidak dihiraukan oleh sebagian siswa. Pesta coret menyoret, konvoi dijalan raya dan kegiatan ‘heboh’ lainya tetap saja terjadi.
Oleh karena itu, selain himbauan, sekolah/madrasah, Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama mestinya mencari strategi khusus supaya ‘perayaan’ kelulusan tidak se-vulgar tahun sebelumnya sehingga ‘pesta kegembiraan’ siswa bisa dikendalikan secara positif.
Pertama, umumkan kelulusan dengan sistem ‘dicicil’. Misalnya, 20% sekolah/madrasah disetiap kecamatan diumumkan jam 7 pagi, 20% yang lain jam 11, dsb. Dengan kombinasi sekolah/madrasah yang berpotensi coret-mencoret, konvoi dengan sekolah/madrasah yang ‘baik-baik’.Kalau pengumuman kelulusan SMA/MA/SMK tahun sebelumnya dilakukan secara serentak menjelang magrib, waktu dimana kita sedang istirahat dirumah, seolah olah memberi ‘panggung’ untuk berpesta.
Kedua, lebih elegan, cicilannya per hari: 20% sekolah/madrasah disetiap kecamatan pada hari senin, 20% yang lain pada hari selasa, dsb. Ini memungkinkan karena POS UN mengisyaratkan pengumuman kelulusan bisa dilaksanakan setelah sekolah menerima nilai UN. Tujuannya semata mata untuk ‘menyelamatkan’ anak bangsa.
Ketiga, pengumuman bisa juga dilakukan melalui website atau sms. Ini juga disaran dilakukan secara bertahap atau dicicil bisa perjam atau perhari. Tujuannya agar tidak terjadi konsentrasi siswa dalam satu waktu yang akan membuat mereka lebih ‘berani’.
Keempat, kalau memang ‘nafsu’ siswa untuk coret menyoret tidak terbendung, sekolah bisa menyiapkan ‘kain putih’ dan cat semprot dihalaman sekolah atau musalla sekolah dan ‘biarkan’ siswa menumpahkan ‘kompetensi’ mereka di kain putih itu sebagai kenang kenangan jangan lupa mengiringi prosesi ini dengan alunan ayat suci Al-Qur’an atau lagu Islam. Setelah siswa ‘berkeringat’ baru pengumuman kelulusan dilakukan secara dicicil.
Kelima, konvoi siswa bisa diganti dengan ‘kompetensi seni’,’pesta’ bersama dihalaman sekolah. Baru pengumuman dilakukan secara cicilan.
Untuk jangka menengah, sekolah/madrasah mestinya dijadikan sekol