Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Acara & Kegiatan

Beranda / Acara & Kegiatan / Menag : Selain Muhafadzah, Kita Dituntut Berinovasi
Menag : Selain Muhafadzah, Kita Dituntut Berinovasi
0 Komentar | Dibaca 9946 kali

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa manusia yang hidup di muka bumi ini senantiasa dituntut untuk bermuhafadzoh (menjaga, memelihara, atapun merawat) peninggalan yang baik-baik oleh para pendahulu kita. Tidak hanya cukup sampai di situ, kita juga dituntut untuk berinovasi, melahirkan yang hal-hal baru yang berdampak baik bagi kita semua.

Demikian disampaikan Menag Lukman saat memberikan ceramah pada acara Pengajian Akbar, dalam rangka hari jadi Kabupaten Wonogiri ke 275 Tahun 2016, sekaligus Peresmian Gedung Kemenag Wonogiri, di Pendopo Bupati Wonogiri, Senin (23/5).

“Kita semua dituntut untuk senantiasa bermuhafadzoh hal-hal yang baik-baik oleh para pendahulu kita, tidak hanya cukup sampai disitu, kita juga dituntut untuk berinovasi, dapat melahirkan hal-hal yang baru yang berdampak baik bagi sesama manusia”. Kata Menag.

Kaitannya dalam hal ini, lanjut Menag, bentuk syukur setiap manusia itu adalah senantiasa memegangi ajaran ini, tidak hanya memelihara, namun mengembangkan warisan yang sudah ada.

“Lagi..lagi,,, kita harus banyak belajar kepada pendiri bangsa, mereka telah menjadikan nilai agama begitu sentral dalam suatu bangsa. Agama menjadi sesuatu yang vital dalam bernegara,” ujar Menag.

Dijelaskan Menag, ada dua pola negara meletakkan sebuah agama. Pertama, agama oleh negara dijadikan agama yang resmi, negara itu ya negara itu sendiri, beberapa negara menjadikan agama sebagai agama resmi oleh negara itu, seperti negara Iran, Pakistan, Saudi Arabia, Vatikan, dan lain-lain. Lalu, pola kedua, diterapkan negara lain, seperti Negara-negara Eropa, Amerika, yang memisahkan secara jelas agama dan negara. Negara tidak mengurus secara hal ihwal keagamaan yang dianut suatu bangsa.

“Akan tetapi, Indonesia bukan dari keduanya. “Indonesia oleh para pendahulu, meletakkan agama sebagai sesuatu yang khas dalam bingkai NKRI,” paparnya.

Menyitir ungkapan, Menag mengatakan, Bung Karno pernah menyampaikan, “saya menggali, nilai-nilai sejak ratusan tahun sudah hidup di masyarakat Indonesia, keragaman, besarnya wilayah, populasi ke empat terbesar dunia, apapun suku kita, Batak, Jawa, Bugis, Makassar, Minahasa, dan lain-lain,