Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Budaya Pahela ke Pasikola
Budaya Pahela ke Pasikola
0 Komentar | Dibaca 417 kali

Masyarakat Kampung Amaholu secara historis paling akrab dikenal dengan masyarakat pelayar (Pahela). Masyarakat mulai berlayar dari tidak mengunakan mesin hanya dengan mengandalkan layar dan kekuatan angin, hingga sampai pada pelayaran dengan mengunakan mesin. berlayar mulai dari perahu boat, kapal kayu, sampai munculnya kapal Palber. Itulah hebatnya para pelayar masyarakat  Dusun Amaholu. Potensi berlayar tersebut ada sejak zaman nenek moyang. Dalam catatan sejarah Antropologi maritim, memang pada umumnya Etnis Buton paling terkenal dalam dunia pelayaran dan paling dikenal sebagai masyarakat pelayar dan pelaut ulung. Walaupun mereka berlayar hanya mengandalakan sistem pelayaran tradisional. Kebiasaan berlayar mengarungi lautan bebas sudah terjadi secara regenerasi. Potensi berlayar itu tetap ada sampai saat ini, dan boleh jadi pekerjaan berlayar tersebut akan terus berlanjut sampai generasi-generasi mendatang.

Masyarakat Dusun Amaholu memang paling senang jika harus berada dilaut berlayar dan  mencari ikan. Sebagai masyarakat pelaut, menyebabkan generasi meraka pun ingin sekali berada dilaut. Masyarakat harus berdagang dengan mengarungi lautan, demi menjawab dinamika kehidupan dan tuntutan hidup generasi mereka. Dengan berlaut pula, masyarakat Dusun Amaholu khususnya para orang tua dapat menyekolahkan Anak-anak mereka di lembaga pendidikan formal (pasikola).

Namun karena sering terkontaminasi dengan kehidupan berlayar dilautan bebas.  Maka, para orang tua dulu sering menyuruh anak-anak mereka yang sudah menginjak usia dewasa harus berfikir untuk membantu orang tua dengan berlayar. Pikiran ini orang tua dilakukan demi menambah penghasilan keluarganya. Sebelunya, banyak Para orang tua di Dusun Amaholu tidak terfikirkan untuk mengikut sertakan anak-anaknya dilembaga pendidikan formal. Para orang tua mengganggap pendidikan itu tidak penting, sebab unjung-unjungnya juga hanya ingin mencari duit dan banyak mengeluarkan duit (uang).

Tidak jarang Para orang tua lebih senang jika anak-anak mereka yang sudah memasuki usia dewasa harus bersama mereka berlayar, membantu orang tua dikebun, mencari ikan dilaut, sehingga lupa akan pentingnya pendidikan.

Pradikma berfikir seperti ini mulai sirna setelah  keberadaan lembaga pendidikan formal di Dusun Amaholu. Secara perlahan tapi pasti, pola pradikma berfikir masyarakat mulai berubah berlayar untuk kepentingan anak berpendidikan selain dari menjamin tuntutan hidup. Para orang tua khusus bagi para pelayar, mereka akan terus berlayar mencari duit (uang). Agar anak-anak mereka bisa bersekolah seperti halnya anak-anak yang ada di kampung lain agar tidak tertinggal dalam dunia pendidikan.

Keberadaan lembaga pendidikan MIM dan MTS Muhamadiyah di Dusun Amaholu perlahan-lahan membuat masyarakat sadar, dan mengerti tentang lingkungan sekitarnya yaitu lingkungan yang bernuansa pendidikan. Masyarakat mulai tersadarkan akan pentingnya dunia pendidikan. Prinsip orang tua, walau mereka tidak tau baca dan tulis, yang penting jangan lagi anak-anak mereka. Betapa perhatianya orang tua terhadap anak-anaknya dalam dunia pendidikan. Dimana orang tua mencari duit (uang) dengan berlayar tak mengenal lelah, tak mengenal musim barat dan misim timur, gelombang kuat, angin kencang, namun bagi para pelayar semua peristiwa itu sama saja, yang penting bisa punya penghasilan. Ini dilakukan hanya untuk biaya studi anak-anaknya.

Keberadaan lembaga Pendidikan dan banyaknya kaum intelektual di Dusun Amaholu akan menjadikan masyarakat lebih dihargai dan disegani oleh masyarakat Dusun-Dusun lain. Akan dihargai dan dihormati karena ilmu dan pengetahuan yang dimiliki masyarakatnya. Keberadaan lingkungan pendidikan juga dapat bermanfaat untuk menunjang masa depan generasi muda masyarakat Dusun Amaholu .

Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, lewat proses belajar dilembaga pendidikan. Masyarakat akan dapat melakukan sesuatu untuk menunjang kehidupan diri dan kuluarganya. Karena dengan pendidikan pula. Maka, seseorang akan penuh perhitungan yang matang, tidak muda dibodohi oleh orang lain dalam mengatur hidup dan kehidupannya. Pada prinsipnya lewat jalur pendidikanlah seseorang bisa merubah nasipnya .

Bagi penulis pendidikanlah membuat semua proses hidup bisa berubah, berubah karena ada yang ingin dirubah. Ada sedikit perubahan dalam hidup, sikap, dan krakter serta pikiran masyarakat saat ini. Maksudnya pikiran maju dan terus maju untuk mengapai impian kebahagiaan masa depan lewat dunia pendidikan. Banyak orang hanya bisa bermimpi agar mereka dapat menikmati pendidikan. Namun impian itu terkadang sirna dan menjadi khayalan belaka, sebab tampa ada proses pendidikan yang dilakukan. Prosesnya terhalang oleh mahalnya biaya pendidikan. Bagi mereka yang miskin, sudah tidak lagi bisa menikmati pendidikan sebab tak punya biaya untuk mengikuti proses dibangku pendidikan.

Namun jika didalam lingkungan itu sudah akrab dengan kehidupan pendidikan dan lingkungan masyarakat itu mempunyai lembaga pendidikan, baik formalmaupun nonformal, pastinya akan memotivasi masyarakat khususnya para orang tua untuk mengikkan anak-anak mereka proses pendidikan, walaupun harus mengeluarkan banyak biaya.

Keberadaan lembaga pendidikan formal Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiah (MIM) dan Madrasah Tsanawiah Muhammadiah (MTSM) di Dusun Amaholu mendorong masyarakat untuk berpendidikan dan ingin mengikuti proses pendidikan. Para orang tua, sangat menginginkan anak-anak mereka ingin berada dilembaga pendidikan tersebut.

Dusun Amaholu mengalami perkembangan dari sisi Pendidikan sejak dipimpin oleh Bapak Hj. Usman Hart.  Masa kepemimpinan Bapak Hj. Usman Hart, sebagai kepala Dusun Amaholu, orientasi kinerjanya adalah didalam bidang pendidikan. Dengan niat tulus dan iklhas Bapak Hj. Usman Hart, berkeinginan menjadikan Dusun Amaholu sebagai lingkungan yang bernuansa Pendidikan dengan berorientasi pada pendidkan keagamaan.

Bapak Hj. Usman Hart berhasil mendirikan lembaga pendidikan yang pertama yaitu Madrasah Iptidaiyah ( MI ) yang setara dengan Sekolah Dasar. Sekolah itu didirikan pada tanggal 7 Januari 1967 tepatnya berada di Amaholu Los.

Dengan pasilitas  gedung serba  darurat, namun proses belajar mengajar tetap dilaksanakan.  MI saat itu dibawah naungan Yanyasan Permi dengan ketua Abdul Majid Ambon memberikan mandat kepada Bapak Hj. Usman Hart untuk menjabat sebagai kepala sekolah. Selain kapasitasnya sebagai Kepala Dusun juga merangkap jabatan sebagai Kepala Sekolah yang  juga berperan sebagai guru mata pelajaran di sekolah kala itu.

Setalah Pada tahun 1968 didirikankanlah sekolah dengan bangunan parmanen di Dusun Amaholu Tengah dibawah yayasan Permi.

Kemudian Pada tanggal 8 Agustus 1983 Yayasan Permi menyerahkan mandat kepada Yayasan Muhammadiah dibawah pimpinan Imam Alfauzi sebagai ketua Wilayah Majelis Muhammadiah Provinsi Maluku. Sehingga Sekolah MI tersebut berada langsung di bawah Yanayasan Muhammadiah. MI bertambah nama menjadi Madarasyah Ibtidahiyah Muhammadiyah (MIM).

Keberadaan sekolah MIM tersebut memotifasi Masyarakat Dusun Amaholu untuk sekolah. Masyarakat pun bisa mendapat ilmu pengetahuan dari sekolah tersebut, bisa mengetahui baca dan tulis, menghafal dan menghitung.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan telah mendorong Bapak Hj. Usman Hart untuk mengusulkan kepada Yayasan Muhammadiyah agar mendirikan sekolah Madrasah Tsanawiah Muhammadiyah yang setara dengan SMP di Dusun Amaholu. MTs Muhammadiyah Amaholu adalah lembaga pedidikan Islam yang didirikan sebagai wujud kepedulian untuk meningkatkan nilai-nilai moral (ahlaqul karimah) dan intelektual pada generasi Islam di Dusun Amaholu.

Sekolah MTs. Muhammadiyah Amaholu dibangun atas permintaan masyarakat. Didirikan oleh Yayasan Muhammadiyah, sebagai jawaban dari tuntutan pendidikan, sebab pada saat itu di Jazirah Huamual Barat, lembaga pendidikan menengah yang menampung tamatan-tamatan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah hanya ada pada Madrasah Tsanawiyah Kambelo.

Berdasarkan kondisi itulah serta adanya dorongan kuat dari berbagai pihak, maka melalui yayasan Muhammadiyah  pada tangal 11 Agustus 1988 Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Amaholu didirikan. Pada awal berdirinya sekolah ini juga tidak sedikit mendapat tantangan dan hambatan dari berbagai kalangan. Setelah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Amaholu  didirikan, tantangan selanjutnya adalah persoalan siswa dimana pada saat berdirinya belum adanya kesadaran kolektif dari masyarakat untuk mendorong anak-anak mereka melanjutkan sekolah kejenjang lanjut. Pada saat itu Madrasah Tsanawiyah MuhammadiyahAmaholu sempat mandek selama 2 (dua) tahun, yakni dari tahun 1988 sampai tahun 1990. Pada tahun 1991 kesadaran masyarakat Amaholu untuk menyekolahkan anak-anak mereka pada jenjang sekolah menengah mulai muncul kembali, berkenaan dengan itu pula. Maka kegiatan pembelajaran Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Amaholu pun mulai berjalan dengan baik.

Setelah kesadaran masyarakat muncul untuk menyekolahkan anak-anak mereka, selanjutnya kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh MTs Muhammadiyah Amaholu adalah tenaga pengajar. Selama berdirinya MTs Muhammadiyah Amaholu  tidak ada tenaga pengajar yang defenitif, baik yang disediakan oleh yayasan Muhammadiyah maupun oleh institusi pemerintah dalam hal ini Departemen Agama pada wilayah setempat.

Seiring dengan perubahan zaman, tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan pentingnya kebutuhan pendidikan semakin baik, sehingga berpengaruh pula pada kesadaran dan pola pikir masyarakat Dusun Amaholu. Hal itu dapat dilihat dari animo masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah tersebut. ini ditandai dengan meningkatnya pertambahan jumlah siswa dari tahun ketahun di sekolah itu.

Dalam perjalanan selanjutnya, perhatian pemerintah terhadap  peningkatan mutu, sarana dan prasarana pendidikan terhadap MTs itu diwujudkan dalam bentuk bantuan dana pembangunan oleh Dinas Pendidikan Nasional pada tahun 2006 yang berupa pembangunan gedung sekolah dengan tiga (3) bilik ruang belajar. Dengan bantuan dinas pendidikan itulah, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Amaholu memiliki gedung defenitif  sendiri, yang mana pada awal berdirinya dalam proses belajar mengajar berafiliasi dengan gerdung Madrasah Iptidaiyah Muhammadiyah Amaholu. Gedung MTS Muhammadiyah Amaholu selesai dibangun pada tanggal 9 januari 2006. Pada tanggal 12 April 2006 proses aktifitas belajar mengajar berjalan hingga sekarang. Semenjak berdirinya sampai sekarang prosesi kepemimpinan MTs Muhammadiyah Amaholu ini sudah tiga kali terjadi pergantian, yaitu mulai dari Bapak Hj. Usman Hart sebagai pengelola dan kepala sekolah pertama, Bapak Rusmin Hamamu sebagai kepala sekolah kedua kemudian Bapak Adnan Abdul menjabat kepala sekolah sampai sekarang.

Dari lembaga-lembaga pendidikan formal yang didirikan tersebut diatas maka masyarakat dapat merasakan pendidikan walaupun ada sebagian  masyarakat yang tidak dapat melanjutkan  pendidikannya ke jenjang SMA karena keterbatasan dalam segi finansial(biaya Pendidikan). Namun masih juga masyarakat berkeinginan mendorong untuk menyekolakan anak-anak mereka di bangku pendidikan sehingga mereka tidak ketinggalan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

 

Kehadiran IPMAM Merubah Pola pradikma Berfikir Masayakat

Sebagian besar warga Ikatan Pelajar Mahasiswa Amaholu (IPMAM) berasal dari lembaga pendidikan MIM dan MTS Muhamadiyah Amaholu. Dilembaga pendidikan formal tersebut, warga IPMAM mulai belajar nasionalisme dan dasar keagamaan. Sekolah MTS Muhammadiyah Amaholu adalah pondasi dasar warga IPMAM dan masyarakat Dusun Amaholu belajar ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan lainnya.

IPMAM kini hadir sebagi pencerah dalam kehidupan masyarakat di Dusun Amaholu khususnya para orang tua agar tetap menyekolahkan anak-anak mereka dilembaga pendidikan. Kehadiran IPMAM ditengah-tengah masyarkat merupakan suatu prestasi yang patut diberikan apresiasi positif, sebab IPMAM secara institusi dapat memotivasi para orang tua untuk mendorong anak-anak mereka mengikuti studi bukan hanya di bangku SD, SMP, SMA namun lebih dari itu, para orang tua harus mendorong anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi.

Pikiran orang tua yang dulu, harus terus belayar untuk memenuhi kebutuahan hidup dengan melibatkan anak-anak usia sekolah tampa memikirkan masa depan anak. saat ini sudah berubah secara signifikan. Anak usia sekolah harus tetap berpendidikan, jika harus membantu orang tua dilaut dengan berlayar. Maka, hal itu dilakukan hanya kerena kebetulan sesaat, diwaktu-waktu libur sekolah. Jika yang berlayar itu mahasiswa, maka hanya sekedar mengisi waktu luang dan pastinya ada kebutuhan penting yang mendesak dengan tidak harus membebankan sepenuhnya kepada orang tua mereka masing-masing. Namun setelah libur sekolah selesai, anak-anak pun akan kembali lagi pada dunia pendidikan. Para anak lelaki yang berlayar sudah tidak mefokuskan pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan masa depan, namun pekerjaan itu hanya dijadikan sebagai bagian dari pekerjaan sesaat jika ada waktu luang.

Para orang tua menghabiskan waktunya dilautan bebas,  mencari duit (uang), tidak mengenal siang dan malam, hanya karena kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Perinsip orang tua-tua di Dusun Amaholu yaitu, biyar tak punya banyak harta, yang penting anak-anak mereka bisa berpendidikan. Tak jarang orang tua yang tak punya harta apa-apa yang dibangakan namun bisa unggul dalam menyekolahkan anak-anak mereka sampai diperguruan tinggi.

Sebelum kehadiran Ikatan Pelajar Mahasiswa Amaholu (IPMAM) ditengah-tengah masyarakat Dusun Amaholu, banyak orang tua hanya menyekolakan anak-anak mereka cukup dibangku SMP dan SMA, tak lebih dari itu, sehingga gelar kemahsiswaan pun begitu asing terdengar ditelingga masyarakat. Lebih parahnya lagi ketika itu perempuan, para orang tua kadang menyekolakan anak-anak perempuan mereka hanya pada bangku pendidikan SD, dan SMP. Adapun yang lulusan SMA paling jarang terdengar.

Jarangnya orang yang berpendidikan tinggi membut generasi di Dusun Amaholu seakan dijauhkan dari lembaga perguruan tinggi. Tidak adanya mahasiswa dari Dusun Amaholu yang memberikan pencerahan kepada para orang tua dan sisiwa-siswa yang mesih duduk dibangku sekolah. Kemudian lebih dari itu, tak ada tokoh masyarakat dari Dusun Amaholu yang diharapkan sebagai pencerah dan motivator untuk generasi-generasi mudah, agar setelah selesai SMA bisa melanjutkan pendidikan sampai di jenjang mahasiswa di perguruan tinggi. Betapa tertinggalnya Dusun Amaholu dalam dunia pendidikan dibanding dengan dusun-dusun laian kala itu.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....
Tags :  

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Waskita Hadi

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  7

Kategori

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0