Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Extra Ordinary UU Perlindungan Guru
Extra Ordinary UU Perlindungan Guru
0 Komentar | Dibaca 394 kali

 

Oleh Ahmad Zaidun*)

 

Konflik demi konflik dunia pendidikan yang melibatkan guru, siswa dan orang tuanya belum juga berhenti. Rentetan perselisihan terus saja terjadi hingga kini. Masih hangat rasanya ingatan publik bagaimana seorang ibu guru di Malang dipidanakan ‘hanya’ karena mencubit siswanya. Dan yang sedang hit saat ini adalah pemukulan orang tua siswa pada seorang guru SMKN-2 Makasar. Ironisnya, guru tersebut justeru dilaporkan balik, dan dijadikan tersangka pula!

Rangkaian peristiwa panjang tersebut mayoritas adalah dilaporkannya guru oleh orang tua siswa atas tuduhan penganiayaan fisik terhadap anaknya. Lepas dari konteks kejadian yang sebenarnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa profesi guru di Indonesia masih sangat rentan terhadap hukum. Guru yang mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa begitu mudahnya dijerat pasal-pasal.

Pasal-pasal yang biasa dikenakan pada guru, di antaranya, pasal 335 ayat 1 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan. Kemudian, undang-undang perlindungan anak, secara spesifik pasal 13 ayat (1) huruf d, pasal 54 dan pasal 80 ayat (1). Di sana secara eksplisit dikatakan bahwa apapun bentuk kekerasan terhadap anak adalah sebuah pelanggaran hukum. Dalam penjelasan pasal 13 ayat (1) dikatakan, yang dimaksud kekerasan dan penganiayaan, misalnya perbuatan melukai dan/atau mencederai anak, dan tidak semata-mata fisik, tetapi juga mental dan sosial.

 

Kekerasan sebagai Metode

Sementara pengamat memaknai bahwa apapun bentuk dan kualitasnya, yang namanya kekerasan terhadap anak adalah kejahatan, titik. Karenanya kekerasan tidak boleh diterapkan pada level dan lingkungan manapun, terutama dalam pendidikan.

Baiklah, mari diskusikan aksioma tersebut. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengubah manusia agar memiliki kepribadian yang lebih baik. Disiplin, mandiri, jujur, tegas, peduli lingkungan, cinta tanah air dan terampil adalah di antara karakter yang ingin ditanamkan pada peserta didik.

Penanaman karakter bukanlah sebuah sulapan. Ia membutuhkan waktu panjang pembelajaran. Dalam konteks sekolah, kesemua langkahnya tersusun rapi secara sistematis dan metodologis. Sistematis berarti melibatkan banyak komponen yang saling terkait, dan metodologis ialah dengan menggunakan cara-cara tertentu.

Secara metodologis, dalam pendidikan terdapat istilah reward and punishment, yakni pemberian hadiah dan hukuman. Meskipun debatable mengenai keefektifannya, namun secara faktual kita telah menerapkannya. Terutama punishment adalah satu cara yang banyak digugat karena disinyalir tidak mendidik. Penentangan ini bisa jadi karena punishment terejawantah dalam ben