Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Merangsang Peserta Didik Bertanya dan Menjawab
Merangsang Peserta Didik Bertanya dan Menjawab
0 Komentar | Dibaca 362 kali

Guru yang hebat bukanlah guru yang lihai menciptakan kelas tenang dan sunyi senyap. Justru sebaliknya, situasi ‘gaduh’ merupakan cermin kelas yang hidup. Kelas yang hidup ialah kelas yang di dalamnya terjadi situasi kondusif, peserta didik aktif, senang bertanya dan berani (pun tidak malu) pula memberikan jawab atas pertanyaan-pertanyaan. Inilah sesungguhnya yang diimpikan oleh setiap guru.

Bukan rahasia lagi bahwa ketika mengajar guru seringkali dihadapkan dengan situasi memusingkan: kelas sunyi senyap. Saat diterangkan, peserta didik mendengarkan dengan tekun dan tepekur sehingga tidak jarang mereka mengantuk. Usai menerangkan, guru memberikan umpan balik: “sudahkah kalian paham?” Serempak peserta didik menjawab: sudah. Namun apabila guru memberikan pertanyaan terkait materi, tak satupun dari mereka yang mewakili menjawab. Ketika dipersilakan untuk bertanya, alih-alih menanggapi, reaksi yang dijumpai tetap sunyi.

Situasi demikian tentu tidak ideal. Lantas bagaimana menumbuhkan peserta didik supaya lebih aktif, sedikit demi sedikit mau bertanya, menanggapi ataupun menjawab? Meskipun belum bisa menjadikan seluruh peserta didik menjadi aktif, namun pengalaman berikut ini bisa dijadikan inspirasi.

Bermain Kuis dan Tanggapan

Di awal pembelajaran, peserta didik diberi motivasi bahwa orang yang bertanya tidaklah identik dengan orang bodoh. Malah sebaliknya, mereka yang bertanya adalah orang yang pandai, karena hakikatnya orang yang bertanya berarti telah menggunakan otaknya. Ia memeras otaknya untuk berpikir tentang sesuatu sehingga mampu mengeluarkan sebuah pertanyaan.

Langkah berikutnya, dengan memberi rangsangan bahwa bagi siapa yang dapat menjawab pertanyaan, maka akan mendapatkan nilai. Jawaban benar maupun tidak benar, tetaplah dihargai dengan nilai. Jika benar mendapatkan nilai 3 (tiga), dan untuk jawaban yang kurang tepat dihadiahi angka 2 (dua). Jangan pula dikesampingkan: meskipun jawaban tidak/kurang tepat, hendaknya tetap dihargai, misalnya, dengan poin 1 (satu). Saya menyebut cara ini dengan istilah kuis.

Penghargaan berupa nilai juga berlaku untuk peserta didik yang mau (berani) melontarkan pertanyaan, apalagi, memberikan tanggapan. Khusus bagi yang memberikan tanggapan, maka dihargai dengan nilai lebih, seumpama, 4 (empat). Mengapa diberikan nilai lebih? Karena di dalam tanggapan terdapat proses pemikiran yang lebih kompleks, yakni mengasosiasi sebuah pemahaman. Di dalam mengasosiasi itu mereka bisa sampai pada suatu kesimpulan. Dari kesimpulan inilah pada akhirnya merangsang mereka untuk membenturkannya dengan pra-pengetahuan (pra-anggapan) yang telah mereka kuasai sebelumnya. Dengan membenturkan antara kesimpulan dengan pra-pengetahuan, maka memunculkan persetujuan ata