Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Relevansi SKS di SLTP-SLTA
Relevansi SKS di SLTP-SLTA
0 Komentar | Dibaca 320 kali

Oleh: Ahmad Zaidun

 Jika Anda seorang guru, tentu pernah mengalami dilema ini: Anda diberi amanat oleh orang tua peserta didik untuk mengantarkan putranya menjadi pandai, berperilaku baik dan terampil. Di sisi lain, Anda menemukan pula kenyataan: ada di antara anak didik Anda yang mempunyai kemampuan berbeda dengan peserta didik lainnya. Bisa jadi, maaf, agak di bawah standar. Anak didik seperti ini mempunyai kemampuan intelektualitas lebih rendah daripada lainnya. Bahkan tidak jarang di bawah rata-rata. Lebih miris lagi, jumlah peserta didik yang termasuk dalam kategori ini tidak hanya satu, mungkin lima belas, atau malah lebih!

Gambaran seperti di atas lazim terjadi di mana-mana, terutama di sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah periferal.

Hukum alam telah menggariskan bahwa manusia tidaklah seragam. Baik bentuk fisik, intelektualitas, perasaan, kondisi sosial, ekonomi dan seterusnya, semua tidak sama. Ada peserta didik yang mempunyai kemampuan intelektualitas lebih daripada lainnya. Atau, sebagian yang lain berkemampuan di bawah yang lain. Kesemuanya merupakan keadaan yang harus diterima dan dihadapi oleh pendidik. Hanya satu yang pasti: mereka (atau orang tuanya) berkeinginan menjadi pandai, terdidik, berkelakuan baik dan terampil.

Seorang guru pasti memahami bahwa ada sebagian siswa yang tidak mengalami kesulitan berarti, ketika pembelajaran “hanya” menggunakan metode tradisional, seperti ceramah. Di sisi lain, tidak sedikit peserta didik yang tak kunjung menguasai materi pelajaran, padahal sang guru telah menjelaskan berkali-kali, dengan menggunakan metode-metode yang dikuasainya, serta sekuat kemampuannya. Namun, apabila diberikan evaluasi (ulangan) tetap saja hasilnya belum memenuhi standar yang diharapkan.

Dilematis. Jikalau mengikuti irama mereka yang berkemampuan baik, peserta didik yang tersebut terakhir ini pastilah ketinggalan. Sementara, andai menurutkan yang berkemampuan lemah, kasihan pada mereka yang telah lari jauh di depan karena tidak kunjung menikmati materi berikutnya.

Membuka Kelas Unggulan

Paradigma pembelajaran tingkat menengah kita ini terlanjur menggunakan sistem klasikal. Entah disadari atau tidak, model ini mengandaikan semua siswa dalam satu angkatan, satu kelas, mempunyai kemampuan sama, naik kelas bersama, dan lulus bersama pula. Kurang begitu diperhatikan apakah memang setara adanya kemampuan mereka ataukah tidak.

Di situlah letak kelemahan sistem konvensional. Ia tidak mengakomodir siswa yang berkemampuan lebih untuk menyelesaikan studinya lebih cepat. Semua harus solider agar selesai bersama-sama. Iklim yang demikian telah mengakar kuat seolah sebuah aksioma.

Dalam menyikapi fenomena ketimpangan kemampuan siswa tersebut, sementara sekolah atau madrasah tertentu membuka kelas (program) unggulan. Kelas ini mewadahi peserta didik yang berkemampuan lebih baik. Kelas seperti tersebut biasa diwa