Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / MAKNA ‘KARAENG’ BAGI MASYARAKAT KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN
MAKNA ‘KARAENG’ BAGI MASYARAKAT KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN
0 Komentar | Dibaca 1028 kali
SAHABUDDIN @elsah
24 September 2016

DSC_0003046

Selain dikenal dengan sebutan ‘Bumi Turatea’, atau ‘Pusat Coto Kuda’,Kabupaten Jenponto dikenal pula dengan julukan ‘Kampung Karaeng’. Sebagai warga Jeneponto tentu sangat memahami arti ‘karaeng’ yang melengkapi nama seorang bangsawan.Karaeng memiliki pesona tersendiri di mata masyarakat daerah ini.Bila ‘karaeng’ dihias dengan budi pekerti yang luhur,ketinggian ilmu dan ketaatan beribadah maka menjadi sempurnalah kebangsawanan seseorang yang membuat masyarakat menaruh kepercayaan kepadanya untuk menjadikannya seorang pemimpin.Sebagian besar masyarakat daerah ini dalam memilih pemimpin masih menaruh kepercayaan kepada calon yang berlabel ‘karaeng’,apalagi bila calon itu berbudi pekerti luhur,dianggap bersih dan dekat dengan rakyat.
Bagi masyarakat Kabupaten Jeneponto,’Karaeng’ mengandung berbagai makna,yaitu karaeng sebagai gelar jabatan pemerintahan;karaeng sebagai gelar bangsawan,karaeng sebagai sapaan penghormatan dan karaeng sebagai sapaan terhadap Allah..
1. Karaeng sebagai gelar jabatan pemerintahan.
Sebelum tahun 1867 (Versi lain 1863) masyarakat dan wilayah Turatea (nama lain Jeneponto) berada dalam kekuasaan Sombayya Ri Gowa (Kerajaan Gowa),Payunga Ri Luwu (Kerajaan Luwu), dan Arung Ri Bone (Kerajaan Bone).Pemerintahan di wilayah Turatea berbentuk ‘Kakareang’,yang rajanya disebut ‘Kare’.Wilayah Turatea terbagi atas beberapa ‘kakareang’,antara lain Kakareang Layu,Kakareang Tolo,Kakareang Manjang Loe,Kakareang Tina’ro dan lainnya sebagai wilayah Kerajaan Gowa.Kakareang Kakareang Rumbia sebagai wilayah Kerajaan Luwu,sedangkan Kakareang Tarowang sebagai wilayah Kerajaan Bone.Namun setelah memerdekakan diri dari kekuasaan kerajaan lain,maka kekareang tersebut membentuk kerajaan sendiri yang disebut ‘Kakaraengan’ yang rajanya disebut ‘Karaeng’.Karaeng diletakkan antara nama diri dengan nama kakaraengan,seperti Makgaukan Daeng Riolo Karaeng Binamu I, Pateala Daeng Nyauru Karaeng Tolo I,Karaeng Bontorappo,Karaeng Rumbia,Karaeng Arungkeke dan sebagainya.
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 pemerintahan yang berbentuk kerajaan ‘kakaraengan’ di Bumi Turatea diubah menjadi Bupati,begitupun pemerintahan di bawahnya menjadi kecamatan, desa atau lurah,maka ‘Karaeng’ sebagai gelar pejabat pemerintahan berangsur-angsur tak terpakai lagi.
2. Karaeng sebagai gelar kebangsawanan
Setelah gelar ‘karaeng’ sebagai gelar jabatan pemerintahan tidak populer lagi maka para keluarga bangsawan turunan raja berusaha mempertahankan jati diri kebangsawanan sebagai turunan keluarga raja maka dipakailah ‘karaeng’ sebagai gelar kebangsawan khusus keluarga turunan raja,yang waktu itu disepakati melalui aturan adat istiadat yang disebut ‘Lontarak Bilang’ bahwa yang boleh memakai gelar ‘karaeng’ hanyalah turunan raja/‘karaeng’.Dan dari lontarak bilang diketahui bahwa masyarakat Jeneponto menganut sistem kekerabatan ‘Patrilinear,yaitu kekerabatan yang mengikuti garis keturunan ayah.Dalam aturan adat tersebut ditetapkan bahwa yang berhak memakai gelar ‘karaeng’ adalah bangsawan yang ayahnya seorang ‘karaeng’ sedangkan ibu (bangsawan karaeng atau tidak) tidaklah menjadi persoalan.Bilamana seorang wanita bangsawan karaeng kawin dengan lelaki yang bukan bangsawan karaeng,maka hak memakai gelar ‘bangsawan ‘karaeng’ akan hilang secara adat,dan masyarakatpun menjulukinya sebagai orang yang ‘attakbura minnyak’ (tertumpah minyak),artinya gelar ‘karaeng’nya tidak bisa dipungut lagi dan harus mengikuti garis keturunan ayah yang bukan ‘karaeng’.
‘Karaeng” sebagai gelar bangsawan memiliki pesona tersendiri dalam masyarakat.Karaeng akan memberi kharisma pemakainya bilamana dihiasi dengan akhlak yang mulia,seperti ramah,suka menolong dan tidak membeda-bedakan dalam pergaulan.Dalam masyarakat, ‘karaeng’ biasa diperlakukan lebih istimewa daripada masyarakat yang lain,misalnya di kampung penulis,Palajau Desa Palajau Kecamatan Arungkeke Kab.Jeneponto,bilamana ada masyarakat yang bukan bangsawan melakukan hajatan dan pada suatu jamuan bersama dengan orang-orang lainnya,orang yang berlabel ‘karaeng’ ditempatkan di posisi yang teratas,dijamu dengan cangkir kembar (dua cangkir minumannya),piring makanannya dialas dua lapis ,satu piring dan satu baki lalu ditutup.Sedangkan untuk wanitanya dijamu dengan ‘dulang’ (baki bundar besar). Pesona lainnya dari ‘karaeng’ adalah masyarakat masih menaruh kepercayaan kepadanya untuk menjadi pemimpinnya,terutama bangsawan ‘karaeng’ yang berakhlak mulia dan berpendidikan.
Keberadaan ‘karaeng’ dalam masyarakat nampak dari atributnya,antara lain pada namanya memakai kata ‘Karaeng’ atau disingkat ‘Kr’; Penutup atap bagian depan rumahnya biasanya teridiri dari tiga empat,lima atau tujuh lapis/tingkat.Mengadakan barzanji atau korongtigi selama minimal 3 malam berturut-turut saat melakukan hajatan perkawinan atau sunatan,dan sebagainya.
Begitu banyak keistimewaan atau pesona ‘karaeng’ dalam masyarakat sehingga ada diantara warga yang sebenarnya tidak memenuhi aturan adat berlomba-lomba pula memakai gelar ‘karaeng’.Aturan adat ‘lontarak bilang’ yang dimaksud adalah aturan bahwa yang berhak memakai gelar ‘karaeng’ adalah orang yang ayahnya bergelar ‘karaeng’,dan kalau hanya ibunya yang bergelar ‘karaeng’ maka anaknya tidak boleh memakai gelar ‘karaeng’.
3. Karaeng sebagai sapaan
Kata ‘karaeng’ biasa pula dipakai oleh masyarakat Kabupaten Jeneponto untuk menyapa orang-orang yang dihormatinya.Sehingga ‘karaeng’ biasa dipakai untuk menyapa orang yang bangsawan dan juga orang yang bukan bangsawan tergantung dari orang yang menyapanya karena memandang orang tersebut patut dihormati,misalnya yang biasa kita dengar dalam masyarakat mengucapkan ‘iyek,Karaeng’ (iya tuan yang saya hormati);”Sengkaki Karaeng !” (mampirlah ke rumah,Tuan !),padahal yang disapa tersebut belum tentu bergelar ‘karaeng’.Sapaan ini biasanya dipakai oleh orang yang bukan bangsawan kepada bangsawan,atau orang yang bukan bangsawan karena akhlaknya yang patut dihormati dan biasa pula dipakai oleh para pedagan di pasar untuk menarik pembeli,misalnya ‘apaji,Karaeng ?’ (mau beli apa,Karaeng ?),atau penjual ikan berteriak,”juku,Karaeng !”.
Siapapun warga Jeneponto berhak disapa ‘karaeng’ sebagai tanda penghormatan dari orang lain yang menyapanya.Sapaan ‘karaeng’ ini bisa membuat orang lain bisa beradaptasi atau mudah dterima oleh masyarakat.Jadi bagi masyarakat daerah lain,kalau berkunjung ke Jeneponto,akan mudah diterima bila menyapa masyarakat yang temuinya dengan sapaan ‘karaeng’.
4. Karaeng kata penyeru kepada Allah
Dalam masyarakat Islam Kabupaten Jeneponto,‘Karaeng’ dipakai pula untuk menyeru nama Allah,seperti ketika berdoa diucapkan “Oh Karaeng” (Oh, Tuhan),atau “Oh Karaeng Lompo” (Oh,Tuhan Yang Besar).Dalam ceramah-ceramah atau khutbah Jumat pun kadang ada ustaz yang mengucapkan “Karaeng Allah Taala” atau “nakana Karaeng Allah Taala” (Firman Allah).Hanya bagi umat Islam,perlu meninjau penggunaan kata ‘kareang’ sebagai sapaan untuk Allah.Gelar/sapaan ‘Karaeng’ sesungguhnya gelar untuk manusia dipakai pula sebagai gelar Allah”,hal ini tentu kurang pantas kita lakukan karena telah menyamakan sapaan atau gelar manusia dengan gelar/apaan Tuhan/Allah,bukankah dalam Islam kita tidak boleh menyamakan sesuatu apapun antara Allah dengan ciptaan-Nya ?.Begitupun bila ‘karaeng’ dijadikan sebagai sebutan bagi Allah tidak dibolehkan dalam Islam,karena untuk nama-nama Allah untuk menyeru-Nya telah diajarkan.
Telah disampaikan dalam Al Quran bahwa Allah memiliki nama-nama yang agung (asma-ul husna),dalam berdoa atau dalam berkomunikasi dengan Allah kita disyariatkan memakai asma-ul husna dan kita diperintahkan untuk meninggalkan orang-orang yang menyimpan dari penyebutan nama Allah (QS.Al A’raaf:180 ),dengan demikian,menurut ayat ini kita dilarang menyebut-nyebut atau menyeru Allah dengan sebutan di luar asma-ul husna,seperti menyeruhnya “oh Karaeng Lompo” sedangkan ada manusia yang juga bernama Karaeng Lompo.(Palajau,2016).

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ABDUL ROUF

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Komentar Terbaru

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0