Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Analisis Kebijakan Pendidikan Perspektif Ekonomi-Politik
Analisis Kebijakan Pendidikan Perspektif Ekonomi-Politik
0 Komentar | Dibaca 1055 kali

ANALISIS KEBIJAKAN PENDIDIKAN PERSPEKTIF EKONOMI-POLITIK

Oleh: Andrik Sugiarto


Pendahuluan

Potret pendidikan di Indonesia makin hari makin buram. ini disebabkan karena pendidikan di Indonesia menganut paradigma liberal. Dalam koridor paradigma ini pendidikan diabdikan bagi kepentingan ekonomi semata. Pendidikan tidak bertujuan untuk pembebasan kemanusiaan. Ada tiga paradigma pendidikan yang lazim berlaku: konservatif, liberal, kritik. Ketiganya membentuk corak kesadaran yang berbeda pula bagi peserta didik. Pendidikan konservatif menghasilkan kesadaran magis; pendididkan liberal menghasilkan kesadaran naif; sebaliknya, berbeda dengan dua paradigma sebelumnya, pendidikan kritik membentuk kesadaran kritis.

Mengapapeduli pada pendidikan? Banyak orang menyebut bahwa antara pendidikan dan perubahan (transformasi) sosial adalah dua hal yang saling terkait dan mempengaruhi. Suatu perubahan kiranya sulit akan terjadi tanpa diawali pendidikan, begitu pula pendidikan yang transformatif tak akan pula terwujud bila tidak didahului dengan perubahan, utamanya paradigma yang mendasarinya. Bahkan, ada pula yang berpendapat bahwa menyebut perubahan sosial dan pendidikan yang transformatif ibarat menyebut sesuatu dalam satu tarikan nafas: Pendidikan transformatif adalah perubahan sosial dan perubahan sosial adalah pendidikan transformatif. Sungguhkah? Biar lebih jelas, mari kita urai bersama-sama.

Perubahan sosial tentu membutuhkan aktor-aktor yang mempunyai pengetahuan, kemampuan, komitmen, serta kesadaran akan diri dan posisi strukturalnya. Untuk itu perlu tersedianya suatu media dimana ide-ide, nilai-nilai maupun ideologi, yang tentunya kontra ideologi hegemonik, ditransmisikan kepada para pelaku perubahan sosial.

Paulo Freire, pemikir dan aktivis Pendidikan Kritis, mempunyai pendapat cemerlang perihal pendidikan dan kaitannya dengan perubahan sosial.[2] Dalam bentuknya yang paling ideal, menurut Freire, pendidikan membangkitkan kesadaran (Conscientizacao/Consciouness) diri manusia sebagai Subjek. Dengan kesadaran sebagai subjek tersebut manusia dapat memerankan liberative action. Kesadaran ini secara komunal akhirnya membentuk kesadaran sosial. Dengan kesadaran sosial yang dibangun diatas basis relasi intersubjektif rakyat dapat memainkan peranan dalam rekonstruksi tatanan sosial baru yang lebih demokratis. Tatanan sosial yang demokratis ini menurutnya kondusif bagi humanisme dan pembebasan.

Beranjak dari signifikansi utama pendidikan diatas, tulisan ini disajikan dengan semangat untuk melakukan kritisasi terhadap dunia pendidikan Indonesia sebagai upaya memanifestasikan fungsi paradigma Transformatif yang diyakini. Pengalaman sebagai peserta didik dan pendidik selama ini, baik secara sadar maupun tidak sengaja, telah memungkinkan kita‘memergoki’ sejumlah persoalan yang meresahkan. Ya, siapa tahu dengan men– persoalan yang meresahkan tersebut, nantinya bisa menjadi pemantik diskusi Rekan-Rekan Pendidik yang tidak saja lebih komprehensif, namun juga kontributif bagi terwujudnya sistem pendidikan yang lebih baik atau bahkan ideal; membebaskan, kritis, serta transformatif.

A. PARADIGMA

Paradigma berasal dari bahasa Inggris paradigm yang berarti: model pola, contoh. Dalam kamus ilmiah populer, paradigma dapat diartikan sebagai contoh, tasrif, teladan, pedoman, dipakai untuk menunjukkan gugusan sistem pemikiran bentuk kasus dan pola pemecahannya. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia paradigma diartikan sebagai kerangka berpikir, model teori ilmu pengetahuan. Sedangkan menurut Mansour Faqih, paradigma secara sederhana dapat diartikan sebagai kacamata atau alat pandang.[3]

Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah:

  1. Cara memandang sesuatu.
  2. Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.
  3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan atau mendefinisikan suatu study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.
  4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.[4]

Istilah paradigma pertama kali diperkenalkan oleh fisikawan Amerika Thomas Samuel Kuhn (1922-1996) dalam bukunya The Structure of  Scientific Revolution (1962) dan kemudian dipopulerkan oleh Robert Friedrichs dalam bukunya Sociology of Sociology (1970). Menurut Kuhn, paradigma adalah cara mengetahui realitas sosial yang dikonstruksi oleh Mode of Thought atau Mode of  Inquiry tertentu, yang kemudian menghasilkan Mode of Knowingyang spesifik. Menurut Khun yang dikutip George Ritzer, Paradigma adalah gambaran fundamental dari pokok bahasan dalam ilmu pengetahuan. Dia menentukan apa yang harus dipelajari, pertanyaan apa yang harus diajukan, bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut harus diajukan, dan aturan apa yang harus diikuti dalam menafsirkan jawaban-jawaban yang diperoleh. Paradigma adalah unit terluas dari konsensus dalam ilmu pengetahuan dan membedakan satu komunitas ilmiah dari yang lain. Ia memasukkan, mendefinisikan, dan menghubungkan sejumlah contoh, teori dan metode serta instrument yang ada didalamnya.[5] Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan paradigma adalah konstelasi teori, pertanyaan, pendekatan, selain dipergunakan oleh suatu nilai dan tema pemikiran. Konstelasi teori ini dikembangkan dalam rangka memahami kondisi sejarah dan keadaan sosial untuk memberikan kerangka konsepsi dalam memberi makna realitas sosial.[6]

Di dalam masyarakat, banyak sekali permasalahan yang dihadapi, baik berupa masalah yang ringan sampai yang paling berat. Dalam menghadapi masalah yang ada dalam masyarakat tersebut, masyarakat biasanya menggunakan cara atau pola pikir tertentu ketika memandang suatu fakta atau keadaan yang terjadi dalam masyarakat. Pola pikir dalam memandang suatu fakta sosial itulah yang di sebut dengan Paradigma Sosiologi. Di dalam paradigma sosiologi, ada beberapa unsur ilmu sehingga paradigma sosiologi dipandang sebagai suatu disiplin ilmu yang bisa dijadikan sebagai acuan atau landasan dalam penelitian mengenai problem-problem  sosial.

Fungsi dan Manfaat

Dengan melihat realitas Indonesia, yang  dikepung oleh tantangan global, keterbatasan nasional, dan lemahnya posisi masyarakat, termasuk organisasi sosial kemasyarakatan, maka sebaiknya menggunakan paradigma yang disebut dengan paradigma Transformatif.[7] Artinya, memandang akar  dari berbagai permasalahan seperti korupsi, kemiskinan, semakin mahalnya biaya pendidikan, kerusakan lingkungan, lemahnya masyarakat, adalah struktur atau sistem yang tidak adil, alias tidak berpihak pada masyarakat.[8]

Dengan paradigma seperti itu, diharapkan mampu membentuk sikap kritis masyarakat terhadap realitas sosial, berpikir berdasarkan kenyataan yang ada (Obyektif).  Hal ini mempunyai tendensi agar membentuk sikap kritis terhadap realitas sosial eksternal serta kesadaran structural yang dibentuk, minimal dalam wilayah kebijakan kependidikan.

B. TIGA PARADIGMA PENDIDIKAN