Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Gadget

Beranda / Gadget / Penggunaan Gadget dalam membantu proses belajar siswa sekolah dasar
Penggunaan Gadget dalam membantu proses belajar siswa sekolah dasar
0 Komentar | Dibaca 307 kali

Pada era globalisasi ini kehidupan masyarakat sudah semakin canggih dan kompleks. Hal ini juga merupakan akibat dari perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi ini ditandai dengan munculnya berbagai benda canggih seperti halnya gadget, smartphone, tablet PC dan lain-lain. Menanggapi kondisi ini, mau tidak mau masyarakat harus bisa mengikuti arus perubahan karena tuntutan hidup. Sebagai contoh, saat ini hampir semua orang mempunyai gadget atau smartphone. Penggunaangadget dan smartphone saat ini tidak mengenal usia, dari balita hingga manula pun punya.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini juga mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia.Pengaruh ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai sistem pembelajaran berbasis media (media-based learning) yang menggunakan teknologi dalam proses pembelajarannya. Jika publik beranggapan jika media-based learning hanya diperuntukkan untuk tingkat SMP, SMA/SMK dan perguruan tinggi maka publik salah besar. Saat inipun, tingkat SD bahkan TK dan PAUD sudah menggunakan model pembelajaran media-based learning, baik  secara langsung maupun tidak langsung. Kita sebagai manusia tidak akan mampu menolak perubahan teknologi, tapi kita cukup mampu untuk membatasi efek-efek negatif dari perkembangan teknologi yang sangat pesat, terutama untuk anak-anak. Pada artikel ini, saya akan lebih membahas tentang penggunaannya bagi siswa tingkat Sekolah Dasar (SD), terutama untuk kelas 1 (satu).

Tuntutan untuk Dapat Membaca pada Siswa Kelas 1 SD

Pada tahun 2014 ini, di Indonesia sudah digulirkan Kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum 2013. Pada Kurikulum 2013, siswa kelas 1 (satu) SD dituntut untuk langsung bisa membaca dalam proses pembelajaran. Hal itu tentu saja menimbulkan beberapa problem, karena rata-rata siswa pada tingkatan Taman Kanak-kanak (TK) hanya diperkenalkan pada bentuk dan bunyi huruf, sehingga siswa tidak langsung dapat membaca dan mengikuti pelajaran pada tingkat SD secara instan. Pada tingkat Taman Kanak-kanak (TK) memang guru tidak diperkenankan untuk membebani murid dengan tugas-tugas atau materi belajar, dengan kata lain, guru tidak boleh memberi pekerjaan rumah (PR). Dengan tidak adanya PR, siswa hanya diharapkan untuk dapat mengulangi apa saja yang telah dipelajari dan dengan bimbingan orang lain. Menanggapi hal tersebut, guru-guru kelas 1 (satu) SD menghimbau orangtua siswa untuk dapat mengajari anak-anak mereka membaca di rumah sehingga siswa dapat langsung mengikuti pelajaran. Memang, beberapa orang tua mampu untuk melakukan hal tersebut demi kelancaran belajar anak mereka tetapi tidak dengan orang tua yang sibuk.

Pada masa modern ini, kita tentu saja  tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi. Begitu juga dengan para orang tua siswa yang disibukkan dengan urusan pekerjaan sehingga tidak bisa terjun langsung untuk mengajari anak mereka untuk membaca. Sebagai solusi  yang praktis dan dinilai efektif, para orang tua tersebut memilih untuk menggunakan aplikasi belajar membaca pada gadget untuk mengajari anak mereka. Dengan cara seperti itu, orang tua merasa tidak repot lagi dan dapat melatih anak untuk belajar secara mandiri, terlebih anak mereka menjadi tidak gaptek. Memang benar, anak harus diajarkan untuk bisa belajar mandiri sejak dini, tapi bukan berarti anak harus benar-benar ‘sendiri’ dalam belajar. Terlebih lagi anak belum  dapat membedakan apa saja yang baik dan apa saja yag tidak baik untuk dirinya.

Tetapi sebagai orang tua, tidak sepantasnya meninggalkan kewajiban untuk mendidik anak. Memang, menggunakan gadget bisa menjadi solusi alternatif terlebih untuk orang tua yang  sibuk. Namun dengan tidak mendampingi anak secara langsung, kita tidak akan mampu mengetahui hal-hal apa saja yang menjadi kekurangan dan kelebihan dari anak tersebut. Selain itu, orang tua juga akan kehilangan quality timebersama anak dan hal itu dapat membuat anak merasa tida diperhatian oleh orang tua. Sebagai pelarian, anak akan bergantung pada gadget-nya yang selalu menemaninya. Lambat laun hal tersebut juga akan mempengaruhi psikologis anak.

Tingkat perhatian orang tua kepada proses belajar anak juga dapat  berpengaruh dalam kemampuan anak. Anak yang mendapat kurang perhatian dari orang tua akan cenderung menjadi pemberontak, dalam artian pikiran siswa akan menolak apa saja yang telah dipelajari.

Efek dan Tingkat Efektivitas Gadget Pada Proses Belajar Anak

Penggunaan gadget untuk anak dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Karena anak, terutama pada pendidikan anak usia dini dan anak SD kelas rendah, akan belajar  dengan baik apabila mereka memanipulasi obyek yang dipelajari, misalnya dengan melihat, merasakan, mencium, mendengar dan sebagainya. Pendekatan pembelajaran discovery (belajar menemukan) atau pendekatan pembelajaran induktif lainnya akan  lebih efektif dalam proses pembelajaran anak. Selain gangguan pada perkembangan kognitif, penggunaan gadget juga dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa anak yaitu dengan terbatasnya kosakata-kosakata baru karena kurangnya interaksi dengan orang lain secara langsung. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Jean Piaget yang mengemukakan tiga prinsip utama pembelajaran yaitu (1) belajar aktif, (2) belajar lewat interaksi sosial, dan (3) belajar lewat pengalaman sendiri (Rifa’i, 2012). Ketiga hal tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep belajar menggunakan gadget oleh orang tua yang saat ini marak digunakan. Penggunaan gadget yang kurang tepat  juga dapat mempengaruhi sikap (attitude) anak. Anak tidak akan memperoleh kondisi mental yang mempengaruhi pilihan untuk bertindak. Hal ini  disebabkan karena anak hanya belajar satu arah, tanpa adanya umpan balik sehingga membuat anak kurang mandiri dalam pengambilan keputusan.

Metode semacam ini  juga dapat membuat anak kurang dapat mengerti dan menerima pelajaran karena anak belajar secara pasif, padahal anak-anak pada usia-usia tersebut perlu belajar secara nyata dan dengan tutor langsung sehingga dapat menimbulkan interaksi yang dapat membangun karakter dan perkembangan anak. Dengan belajar secara nyata, anak akan lebih mampu untuk meresapi apa saja yang diberikan dalam proses pembelajaran. Secara alami, anak akan lebih mampu mengingat dan mengerti hal-hal yang dilakukan secara langsung  daripada mengingat hal-hal yang hanya didengar saja (audio) atau dilihat saja (visual).

Sebagai anak, tentu saja memiliki hasrat bermain yang lebih besar daripada belajar. Dalam hal ini, kita tidak bisa menyalahkan anak karena hal tersebut memang intuisi dari anak. Dengan selalu tersedianya gadget, maka anak yang semula dimaksudkan agar dapat belajar melalui  gadget akan beralih ke permainan-permainan yang tersedia pada gadget, ketika anak sudah mulai merasa bosan. Tentu saja jika anak sudah keasyikan bermain maka akan lupa dengan belajarnya, apalagi jika anak memakai  gadget tanpa pengawasan orang tua.

Terlepas dari  efek-efek negatif gadget pada anak di atas, gadget juga dapat memberikan dampak positif untuk anak jika di pergunakan secara tepat. Penggunan secara tepat dimaksudkan untuk mempertimbangkan usia anak pada saat pemberian gadget. Sebelum dibekali dengan gadget, anak sebaiknya dibekali pengetahuan dasar dahulu, jikagadget adalah media belajar sekunder, yaitu media yang hanya digunakan sebagai pelengkap dan pendamping pada proses belajar anak.

Dampak positif dari penggunaan gadget adalah pertama gadget dapat membantu perkembangan fungsi adaptif seorang anak. Fungsi adaptif adalah kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar dan perkembangan zaman. Jika perkembangan zaman sekarang muncul gadget, maka anak pun harus tahu cara menggunakannya. Kedua gadget dapat menambah pengetahuan. Dengan menggunakan gadget yang berteknologi canggih, anak-anak dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi mengenai tugas mereka di sekolah. Gadget juga dapatmemperluas jaringan persahabatan. Gadget dapat memperluas jaringan persahabatan karena dapat dengan mudah dan cepat bergabung ke sosial media. Apalagi sekarang sosial media sudah sangat menjamur seperti Twitter, Facebook, Path, Instagram,  Ask.fm, Tumblr dan lain-lain. Selanjutnya dapat  mempermudah komunikasi. Gadget merupakan salah satu alat yang memiliki tekonologi yang canggih. Jadi semua orang dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia. Kemudian yang terakhir adalah gadget dapat membangun kreatifitas anak. Anak dapat berkreasi dengan membuat karya-karya dengan menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada dalam gadget tersebut.

Selain memiliki dampak positif, gadget juga memiliki beberapa dampak negatif. Dampak negatif yang pertama adalah gadget dapat mengganggu kesehatan. Gadget dapat mengaganggu kesehatan manusia karena efek radiasi dari gadget tersebut. Terutama pada anak di bawah usia 4 tahun karena di usia ini, neuron saraf seorang anak sedang berkembang dan fungsi radiasi di gadget bisa sedikit menghambat pertumbuhan neurontersebut. Dampak negatif yang kedua adalah anak dapat mengalami penurunan konsentrasi. Gadget memilki fitur-fitur yang canggih seperti kamera, video, games dan lain-lain. Fitur itu semua dapat mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Misalnya ketika guru menerangkan pelajaran di depan, siswa malah bermain gadget-nya di belakang. Selain itu dapat mempengaruhi perilaku anak. Dengan kecanggihan yang diberikan oleh gadget. Maka anak-anak dapat dengan mudah mendownload video-videoyang bukan tontonannya. Disinilah diperlukan peran orang  tua untuk mengawasi tingkah anak dalam menggunakan gadget (Indri, 2013 : indrinovii.blogspot.com, 2013).

Dampak-dampak negaif yang lainnya adalah gadget rawan terhadap tindak kejahatan. Setiap orang pasti ada yang memiliki sifat update di mana saja. Jadi, jika ada orang yang ingin berbuat kejahatan dapat dengan mudah mencarinya dari hasil update-nya yang boleh dibilang terlalu sering. Gadget juga dapat membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap bahwa apa yang dibacanya diinternet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final. Anak juga malas menulis dan membaca (manual). Anak hanya akan mengandalkan fitur-fitur gadget yang memang praktis untuk menulis dan membaca. Gadget membawa banyak kemudahan, sehingga generasi mendatang akan berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan. Gadget juga akan mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan. Efek negatif gadget yang terkhir adalah penurunan dalam kemampuan bersosialisasi eksternal dan internal. Seorang anak akan lebih menyukai menyendiri bermain dengan gadget-nya dari pada bersosialisasi dengan teman sebayanya (Indri 2013 : indriinovii.blogspot.com, 2013).

Proses belajar pada anak, khususnya belajar membaca anak akan lebih mudah menerima pelajaran jika diberi contoh secara konkret, seperti  diajarkan oleh guru, orang tua, tutor dan lain-lain. Para pakar  menilai jika penggunaan gadget memang bisa menjadi alternatif praktis, tetapi juga dinilai kurang efektif jika  ditelusuri dampak-dampak negatif  yang telah diuraikan sebelumnya yang tertuju pada proses belajar anak.

Kesimpulan

Penggunaan gadget dalam membantu proses belajar anak tidak efektif, jika tanpa diimbangi peran orang tua, terutama dalam pengawasan. Para orang tua harusmmembatasi pemakaian gadget. Berikan waktu-waktu yang tertentu untuk anak-anak memainkan gadget. Kemudian orang tua harus selalu mengontrol isi/data-data di dalamgadget. Orang tua perlu mengontrol data-data di dalam gadget anak. Minimal sekali dalam seminggu atau mengeceknya diam-diam. Selain itu, orang tua juga perlumemberikan hukuman pada anak apabila anak telah terbukti melakukan kesalahan. Misalnya dengan menyita gadget-nya.

Teknologi gadget jelas memberi pengaruh terhadap perkembangan anak baik secara fisik, kognitif, emosi, sosial dan motorik. Terlalu sering anak berinteraksi dengan gadgetdan juga dunia maya akan mempengaruhi daya pikir anak dan anak juga akan merasa asing dengan lingkungan sekitar karena kurangnya interaksi sosial. Namun, kemajuan teknologi juga dapat membantu daya kreatifitas anak, jika pemanfaatannya diimbangi dengan interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya.  Orang tua  juga harus selalu mengontrol penggunaan gadget si anak, jangan terlalu diberikan kebebasan yang berlebihan.  Dan juga melarangnya untuk membawa gadget ke sekolah, karena bisa menghambat proses pembelajarannya di sekolah.

Source by :  http://kukuhwp15.blogspot.co.id/2016/01/penggunaan-gadget-dalam-membantu-proses.html

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

MOHAMMAD ALI SADIKIN

Saya merupakan seorang blogger madura se ...
Daftar Artikel Terkait :  2
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0