Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Sudah Era MEA, Bekali Anak Biar Tak Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri!
Sudah Era MEA, Bekali Anak Biar Tak Cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri!
0 Komentar | Dibaca 131 kali
Muh Fahri @fahri7d
13 October 2016

Thinkstock/Digital VisionIlustrasi pekerja asing


KOMPAS.com
—Terbayangkah menumpang taksi dari Jl MH Thamrin ke Blok M disopiri oleh lelaki asal Filipina? Atau, pernahkah terpikir akan makan gudeg hasil racikan koki asal Vietnam? Jangan-jangan pula, guru, dosen, dan beragam pekerjaan yang butuh keahlian juga begitu?

Jangan salah, bayangan-bayangan itu bisa benar-benar jadi kenyataan. Semua berawal dari berlakunya kesepakatan Masyarakat EkonomiASEAN (MEA) sejak 2015.

Kesepakatan tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Nah, salah satu yang harus diantisipasi adalah kesiapan tenaga kerja seperti ilustrasi di atas. Kenapa?

Kesepakatan MEA mencakup banyak hal. Di antaranya adalah membuka peluang bagi tenaga kerja untuk bekerja di negara lain sesama anggotaASEAN tanpa persyaratan rumit.

Bila tenaga kerja dalam negeri tak mampu bersaing, tinggal tunggu waktu pekerja asing mendominasi beragam pekerjaan di dalam negeri.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), misalnya, mencatat sudah ada kenaikan pekerja asing—sekalipun paruh waktu—yang masuk ke Indonesia, dari 14.550 pekerja pada akhir 2015 menjadi 25.238 orang pada Januari 2016.

Kesepakatan sudah berjalan, apa langkah yang harus dilakukan untuk menyikapi tren tersebut?

Seperti dikutip dari situs web presidenri.go.id, Presiden Joko Widodomenegaskan 2016 merupakan tahun percepatan pembangunan. Percepatan ini termasuk untuk menyikapi tantangan global dan MEA sebagai salah satunya.

Pemerintah, kata Presiden, menyiapkan tiga langkah terobosan terkait percepatan pembangunan itu.

Pertama, percepatan pembangunan infrastruktur. Kedua, penyiapan kapasitas produktif dan Sumber Daya Manusia (SDM). Ketiga, deregulasi dan debirokratisasi,” ungkap Presiden seperti dikutip situs web tersebut.

Thinkstock/Jetta ProductionsIlustrasi pelajar dan sumber daya manusia

Pembangunan kapasitas SDM, lanjut Presiden, adalah syarat mutlak untuk bisa berhadapan dengan kompetisi global. Jangan sampai, ujar dia, SDM Indonesia malah hanya jadi penonton dalam perlombaan ekonomi global, di negeri sendiri pula.

“Indonesia harus ikut berlomba dan harus menjadi pemenangnya,” tegas Presiden.

Peluang

Bicara SDM, kapasitas yang harus disiapkan tak hanya pengetahuan ilmiah dan teoritis (hard skill) tetapi juga kecerdasan dan kepekaan sosial(soft skill). Pintar-pintar memilih lembaga pendidikan, bisa jadi cara menyiapkan generasi penerus bangsa.

Indikator yang bisa dipakai untuk menakar bobot suatu lembaga pendidikan antara lain adalah sistem pengajaran yang dipakai.

Sampoerna Academy, misalnya, menerapkan sistem pendidikan Amerika berbasis STEAM . Sistem ini disebut dapat mendorong kapasitas dan kompetisi anak didik di institusinya.

STEAM merupakan singkatan dari Science, Technology, Engineering, Arts, and Maths. Mengadopsi metode pembelajaran ini, pendidikannya menekankan pengembangan pola pikir yang tak hanya fokus pada satu bidang.

“Dengan mengenalkan STEAM sejak dini, siswa akan terlatih melakukan analisis secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan,” ungkap Jefri Saputra, guru matematika di Sampoerna Academy, saat berbincang dengan Kompas.com, Selasa (27/9/2016).

Selain itu, lanjut Jefri, siswa juga diajak melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang, berhati-hati terhadap informasi yang mereka terima, serta bersikap terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

Siswa, papar Jefri, diberi kesempatan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menyelesaikan suatu masalah. Metode tersebut mendorong pula para siswa terbiasa bekerja sama—baik dengan sesama siswa maupun guru—dalam menyelesaikan tantangan.

Penerapannya, siswa dilatih melakukan eksperimen, alias Project Based Learning (PBL). Memakai pola ini, para siswa dapat mempraktikkan ilmu dan keterampilannya secara kreatif dalam sebuah riset kolaboratif. Guru, kata Jefri, lebih berperan sebagai pendamping, dengan siswa menjadi pusat pembelajaran.

STEAM pada akhirnya diharapkan mendorong minat dan kecintaan siswa terhadap sains dan teknologi, sejak dari masa pra-Taman Kanak-kanak (TK). Ini karena media pembelajaran banyak juga menggunakangame dan gadget.

Siswa diarahkan untuk tidak memanfaatkan keduanya sebagai permainan saja—sebagaimana yang sering dikhawatirkan orangtua—tetapi juga menjadikannya pendukung yang efektif dalam proses pembelajaran.

Sesuai jenjang pendidikan

Sampoerna Academy menerapkan STEAM untuk para siswa sejak tingkat pra-TK. Penerapannya tentu saja menyesuaikan usia dan pemahaman siswa.

KOMPAS.com/CAHYU CANTIKA AMIRATIAnak pra-TK menyusun lego duplo sebagai media pembelajaran.

Untuk siswa pra-TK, salah satu perkenalan siswa terhadap STEAM diaplikasikan lewat permainan lego Duplo. Ini adalah permainan balok susun tematis.

Tema seperti kebun binatang atau kantor pemadam kebakaran mengajak anak bermain sembari tanpa terasa belajar.

Pada tahap ini, fokus pendidikan adalah mengasah keterampilan dan pemahaman konsep. Di sini siswa belajar mengenal beragam kosa kata, konsep berhitung, warna, angka, dan bentuk.

Pengenalan warna, misalnya, dilakukan dengan mengajak anak mencampur beragam warna untuk mendapatkan satu warna tertentu.

Proyek yang lebih “serius” di jenjang pra-TK adalah memastikan tanaman tak mati saat ditinggal berlibur. Selama dua pekan para siswa diajak bereksperimen sampai bisa membuat vertical hydro garden, dengan sistem pengairan otomatis.

Beda lagi untuk para siswa Sekolah Dasar (SD). Teknologi makin kental dipakai di jenjang ini. Di sini siswa diajak memanfaatkan gadget dengan benar, tak hanya untuk bermain game online.

Pemanfaatan gadget untuk para siswa SD antara lain untuk pelafalan kata dalam bahasa Inggris. Siswa diajak mendengar langsung caranative speaker melafalkan suatu kata dari rekaman di gadget.

Rekaman tersebut menyertakan pula gambar dan informasi yang lebih mudah diserap anak-anak.

Untuk tujuan tersebut, sekolah menyediakan juga tablet berisi e-bookuntuk pengerjaan tugas kelompok. Siswa diizinkan mengakses informasionline selama penggarapan tugas itu.

Tak asal-asalan, pengajar di sekolah yang memakai sistem ini sudah harus memiliki sertifikasi intenasional—misalnya dari Apple atau Google—untuk mengajar menggunakan aplikasi gadget. Karenanya, orangtua tak perlu lagi khawatir soal penggunaan teknologi dalam proses belajar anak.

Begitu masuk sekolah menengah, siswa mulai diajak melakukan analisis yang lebih menyeluruh. Di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), misalnya, mereka sudah ditantang membuat penelitian atau percobaan sesuai kreativitas masing-masing.

Tujuannya adalah merangsang rasa ingin tahu dan kreativitas siswa. Contohnya, siswa kelas VII membuat jembatan dari stik es krim. Beda lagi, siswa kelas VIII membuat bluetooth speaker memakai stik es krim sebagai kemasannya.

Bermodal stik es krim, siswa tanpa terasa mengasah penalaran—matematika dan teknologi—untuk mengukur keseimbangan dan proporsi benda, sekaligus kemampuan seni untuk bentuk-bentuk yang dihasilkan.

Sesudah itu pun, para siswa diminta membuat presentasi untuk karya-karyanya itu.

“Keberanian dan kemampuan berbicara di depan publik mulai diasah di sini,” kata Jefri.

Tak cukup, para siswa juga didorong mengikuti kompetisi. Dari ajang-ajang tersebut, mental siswa dilatih tangguh. Menang atau kalah ditekankan bukan menjadi tujuan utama, karena strategi dan usaha yang dilakukan adalah yang lebih penting sebagai pelajaran.

Dok Sampoerna AcademySiswa Sampoerna Academy yang memenangkan kompetisi setelah menciptakan games petualangan

Naik tingkat lagi ke bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), “tantangan” bagi para siswa juga meningkat. Di jenjang ini, mereka ditantang membuat inovasi untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari dengan mengacu pada prinsip STEAM.

Proyek mereka harus punya dampak sosial. Misalnya, siswa diajak membuat kincir angin portabel dan tempat sampah yang memilih sensor pemilah.

Naik jenjang lagi, penerapannya pun akan lebih berkembang. Salah satu kampus yang juga sudah mengadopsi metode pembelajaran STEAM adalah Sampoerna University.

Melalui penerapan metode pembelajaran STEAM sejak dini, diharapkan di masa depan akan ada lebih banyak SDM yang berkualitas tinggi serta mampu bersaing di tingkat global.

Bila tertarik lebih jauh mengenal STEAM, Anda bisa menyambangi “Sampoerna Academy dan Sampoerna University Education Expo” yang berlangsung pada 26 September 2016 hingga 2 Oktober 2016 di Main Atrium Mall Gandaria City, Jakarta Selatan. Atau, kunjungi linkini

Source :
http://edukasi.kompas.com/read/2016/09/30/13482491/sudah.era.mea.bekali.anak.biar.tak.cuma.jadi.penonton.di.negeri.sendiri.
Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

ASEP SATRIA DWI HANGGARA

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  2
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0