Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Hobi

Beranda / Hobi / 10 Kebiasaan Buruk bagi Kesehatan
10 Kebiasaan Buruk bagi Kesehatan
0 Komentar | Dibaca 49 kali

Setiap orang pasti memiliki kebiasaan tertentu, termasuk beberapa kebiasaan yang berdampak negatif untuk kesehatan. Efek kebiasaan tersebut memang tidak akan terasa dalam waktu dekat, tapi perlahan namun pasti, hal itu akan membuat kualitas kesehatan Anda menurun – bahkan, Anda harus mengunjungi dokter.

1. Duduk menyilangkan kaki
Rasanya ada yang mengganjal jika Anda tidak duduk menyilangkan kaki. Tapi, tahukah Anda bahwa menyilangkan kaki dapat menghambat aliran darah, terutama jika dilakukan dalam waktu lama? Menurut Mattina , MD, anggota dari American College of Cardiology, duduk bersilang kaki dalam waktu yang lama memperbesar risiko penyakit kanker, diabetes, dan masalah kesehatan lainnya. Pernyataan itu lebih terkait dengan gaya hidup sedentary atau gaya hidup yang cenderung diam atau duduk.

Solusi: Ada baiknya setelah duduk lama, Anda istirahat dengan jalan dan berkeliling selama beberapa saat. Jika Anda di kantor, coba untuk keluar kantor dan berjalan di luar ruangan – sambil mengunjungi wanita gebetan Anda di lantai atas.

2. Sering menggigit kuku.

Meskipun nampaknya tidak berbahaya, kebiasaan menggigit kuku dapat merusak pertumbuhan kuku. Selain itu, kebiasaan ini juga dapat mengakibatkan rusaknya lapisan luar gigi, kelainan kuku, serta paparan bakteri seperti staphylococcus yang banyak terdapat di bawah kuku Anda..

Solusi: Menggigit kuku adalah salah satu kebiasaan yang sering dialami oleh orang yang sedang gugup atau kuatir. “Sebaiknya Anda mencari tahu penyebab kecemasan itu,” saran dari Dr. Angelica Kaner, Ph.D, seorang profesor klinis di Yale University Medical School. Anda bisa mengganti kebiasaan Anda dengan mengunyah sesuatu yang menyehatkan, seperti permen karet rendah kalori, apel, atau wortel.

3. Membunyikan persendian jari.

Ada yang menjadikan kegiatan ini sebagai kebiasaan. Membunyikan sendi itu seakan menimbulkan “kepuasan” tersendiri. Padahal, menurut Leon Benson, MD, spesialis ortopedi dan juru bicara dari American Academy of Orthopedic Surgeons, jika dilakukan terus menerus, kebiasaan ini akan menyebabkan kerusakan jaringan ligamen pada persendian Anda.

Solusi: Sebaiknya, Anda menghindari kebiasaan itu. Jika sendi Anda merasa kaku, sebaiknya Anda melakukan peregangan dan latihan fisik ringan untuk melemaskan persendian dan otot-otot di sekitarnya.

4. Melupakan sarapan.

Menurut dr. Julia Dewi Nerfina, M. Gizi, Sp. GK, dokter spesialis gizi klinik di RSUD Cianjur, Jawa Barat, sarapan diperlukan untuk ketersediaan energi guna melakukan aktivitas. “Pada malam hari, tubuh kita tetap melangsungkan proses oksidasis ehingga apabila kita melewatkan sarapan maka kadar gula darah akan menurun, akibatnya tubuh menjadi lemas dan tidak mampu melakukan aktivitas secara maksimal, menyebabkan konsentrasi menurun,” tambahnya. Selain itu, tidak sarapan juga akan membuat Anda merasa lebih lapar di siang hari sehingga kalap makan. Selain itu, tidak sarapan juga akan membuat Anda merasa lebih lapar di siang hari sehingga kalap makan.

Solusi: Jangan meninggalkan sarapan Anda. Pilih menu sarapan yang mudah dibuat sehingga tidak menghabiskan banyak waktu Anda di pagi hari, misalnya telur rebus atau smoothies. Masih tidak sempat? Anda bisa sarapan di kantor atau di jalan. Sebaiknya, lakukan sarapan sebelum jam 09.00.

5. Emotional eating.

Ketika sedang stres, bosan, atau depresi, Anda cenderung ngemil biskuit, chips, kentang goreng, makaroni kering ber-MSG, atau makanan tidak sehat lainnya. Jenis makanan tersebut merupakan salah satu penyebab obesitas, penyakit jantung, dan diabetes. “Penyakit kronis akibat obesitas lebih sering terjadi daripada efek kebiasaan minum minuman beralkohol atau merokok,” kata Roger Gould, MD, dokter ahli pengatasan emotional eating dan penulis buku Shrink Yourself.

Solusi: Dokter Gould menyarankan agar Anda membuat jurnal atau catatan makanan (jenis makanan, kapan, dan di mana Anda memakannya, dan alasan Anda memakannya). Kemudian, coba nilai tingkat kelaparan Anda dari skala 1 – 10. Dari sini, Anda bisa melihat polanya, apakah Anda benar-benar lapar atau hanya sekadar iseng belaka. Jika Anda tidak bisa mencegah kecenderungan itu, berkonsultasilah dengan ahli nutrisi dan atau psikiater.

6. Terlalu sering menimbang berat badan.

Angka yang tertera di timbangan hanyalah sebuah angka. Angka tersebut tidak merefleksikan seberapa sehat Anda atau seberapa berat massa otot Anda. Berat Anda juga tidak menunjukkan letak konsentrasi lemak Anda dalam tubuh dan tak bisa menjadi indikasi jelas risiko Anda terkena serangan jantung.

Solusi: Sebaiknya, ukur juga tubuh Anda dengan menggunakan tape measure. Ukur lingkar pinggang, perut, paha, dan lengan atas setiap minggu dan catat hasilnya. Perhatikan ukurannya di area yang berisiko tinggi, seperti perut. Tingkatkan kesehatan Anda dengan menerapkan pola hidup sehat, dengan cek kadar kolesterol, tekanan darah, tingkat energi Anda, dan kualitas tidur. Ini semua merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan hanya berkutat pada angka timbangan Anda.
7. Kebiasaan menaruh dompet di saku belakang.

Anda pasti sering melakukan hal ini. Selain karena kebanyakan celana pria berkantung belakang, menyimpan dompet di saku belakang juga membuat Anda lebih praktis dalam bertransaksi. Karena berada di kantung belakang, otomatis saat duduk pun pantat Anda akan terganjal dompet. Hal ini ternyata tidak baik bagi kesehatan, apalagi jika dilakukan dalam waktu lama. Menurut Julian Forth, seorang fisioterapis di Buckhurst Hill, Essex, dompet tersebut akan menekan saraf-saraf di sekitar pantat dan berpotensi mengakibatkan rasa sakit pada kaki, punggung, atau pinggul.

Solusi: Sebaiknya Anda membawa tas pinggang kecil untuk menaruh barang-barang pribadi Anda, termasuk dompet. Menggunakan tas pinggang kecil juga membuat risiko Anda kecopetan relatif lebih kecil daripada menaruh dompet di saku celana belakang, Bung.

8. “Balas dendam” tidur di akhir pekan.

Ada anggapan bahwa kurangnya waktu tidur saat weekdaysdapat ditebus saat weekend. Benarkah itu? Tidak. Sebuah studi yang dilakukan di University of Texas Southwestern Medical Center menunjukkan bahwa tidur hingga siang hari untuk mengejar kekurangan waktu tidur tidak akan membantu Anda mengganti kualitas stamina Anda. Sebaliknya, waktu tidur “ekstra” tersebut justru akan mengganggu waktu biologis Anda dan dapat membuat Anda lebih lelah esok harinya.

Solusi: Jadwalkan kegiatan harian Anda. Beri prioritas untuk tidur selama 7 – 8 jam agar Anda tidak perlu mencari waktu penggantinya. Salah satu cara agar dapat tidur lebih awal adalah dengan mematikan smartphone 1 – 2 jam sebelum tidur. Beberapa studi menunjukkan bahwa cahaya dari layar smartphone dapat menekan hormon melatonin yang membuat seseorang kesulitan tidur.

9. Kebiasaan mengupil.

Kita pasti sudah pernah melakukan hal ini. Bahkan, beberapa dari Anda “kecanduan” melakukannya. Tak dipungkiri, kegiatan ini memang mengasyikkan – semakin banyak “hasilnya” semakin puas. Disadari atau tidak, ternyata kebiasaan ini berpotensi merugikan kesehatan. Tangan dan jari yang kotor akan membawa berjuta-juta kuman ke dalam lubang hidung dan terhirup ke dalam saluran pernafasan.

Solusi: Sebaiknya hindari kebiasaan ini. Jika hidung Anda terasa gatal atau kotoran dalam hidung perlu dibersihkan, lakukan secara higienis. Gunakan tisu basah yang mempunyai cairan desinfektan atau cuci dahulu tangan Anda sebelum melakukannya. Setelahnya, cuci kembali tangan Anda – jangan dioleskan di bawah meja.

10. Bahaya iritasi akibat mengucek mata.

Mengucek mata adalah reaksi spontan sekaligus kebiasaan lain yang bisa menyebabkan masalah kesehatan. Menurut Profesor Charles McMonnies, dari UNSW School of Optometry and Vision Science, menggosok atau mengucek mata berpotensi memberikan efek tekanan 10 kali dari tekanan yang diberikan oleh kelopak mata sehingga berpotensi menyebabkan luka parut pada bola mata. Kebiasaan mengucek mata dengan tangan juga berpotensi menyebabkan iritasi akibat kuman yang terbawa tangan.

Solusi: Saat berada di luar ruangan, gunakan pelindung mata. Dan, jika mata terasa gatal, jangan terburu-buru menguceknya, Anda bisa membersihkannnya dengan sapu tangan atau tisu bersih. Jika masih terasa mengganjal, gunakan cairan pembersih mata. (JF)

Sumber 

 

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Junaidi Dasuki

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0