Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Informasi Umum

Beranda / Informasi Umum / Angkutan Konvensional Vs Online
Angkutan Konvensional Vs Online
0 Komentar | Dibaca 450 kali

Go-Jek, Gocar, Grab dan Uber adalah pendatang baru yang kuat. Sedangkan ojek pinggiran kota dan taksi konvensional adalah pelaku yang lemah. Jika keduanya bertemu, maka nyaris pertempuran pasar pasti terjadi secara otomatis.

Hukum besi pasar seperti ini sama persis dengan penjelasan Schumpeter. Di dalam teorinya, “creative destruction”, disebutkan bahwa kreativitas baru dan inovasi baru di pasar secara otomatis akan menghancur-leburkan kreativitas yang lama sebelumnya.

Hukum inilah yang sedang terjadi antara Go-Jek dan angkot. Jika dibiarkan, maka yang terjadi adalah “creative destruction” tadi – ladang pembantaian pemegang otoritas kreativitas yang baru terhadap pelaku-pelaku yang lama.

Moral dan norma tidak bisa lahir dengan sendirinya di pasar. Pasar hanya punya tenaga “invisible” yang sangat kuat. Tenaganya menjadi menjadi lebih kuat dan tampil sebagai “super power” dengan teknologi yang canggih. Dan dalam waktu bersamaan punya kekuatan destruksi yang kuat dan canggih pula.

Pasar tidak bisa menciptakan moral dan tidak bisa mengakomodasi norma secara spontan. Karena itu, norma yang baik dan aturan yang sehat harus diciptakan bersama oleh pelaku-pelakunya dan negara untuk menghindari persaingan yang sengit dan mencegah ladang pembantaian di pasar yang tidak bermoral.

Menanggapi hal itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menekankan bahwa regulasi angkutan transportasi berbasis aplikasi, seperti Uber dan GrabCar, sepenuhnya ada di tangan Kementerian Perhubungan.

“Dari sisi Menkominfo, tidak relevan dengan regulasi, lebih banyak regulasi transportasi dan regulatornya Kemenhub. Ada juga dishub daerah,” kata Rudiantara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/3/2016) sore.

Apa yang disampaikan Rudiantara memang beralasan. Inilah titik lemah peran dan fungsi regulator di saat tak ada regulasi yang mengatur ekonomi baru ini. Institusi yang mengatur menjadi limbung karena memang perangkat aturannya belum ada.Menanggapi hal itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menekankan bahwa regulasi angkutan transportasi berbasis aplikasi, seperti Uber dan GrabCar, sepenuhnya ada di tangan Kementerian Perhubungan.

“Dari sisi Menkominfo, tidak relevan dengan regulasi, lebih banyak regulasi transportasi dan regulatornya Kemenhub. Ada juga dishub daerah,” kata Rudiantara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/3/2016) sore.

Lambatnya respons pemerintah dalam menyediakan regulasi yang jelas dan adil untuk semua pihak, membuat persoalan ini berlarut-larut.

Para sopir masih mengusung tuntutan lama yaitu menuntut pemerintah agar menutup bisnis mobil berbasis aplikasi, khususnya GrabCar dan Uber.

Sebaliknya, penyedia aplikasi transportasi online seperti GrabCar, bersikeras bahwa mereka bukanlah perusahaan transportasi, melainkan perusahaan penyedia aplikasi.

Apa yang disampaikan Rudiantara memang beralasan. Inilah titik lemah peran dan fungsi regulator di saat tak ada regulasi yang mengatur ekonomi baru ini. Institusi yang mengatur menjadi limbung karena memang perangkat aturannya belum ada.

Konsumen sangat diuntungkan dengan hadirnya kemudahan teknologi. Ke mana saja Go-Jek berjalan, posisinya dapat dipantau. Dengan teknologi itu Go-Jek dan kawan-kawan dapat mencegah kejahatan dan mengendalikan orang-orang jahat untuk menahan perbuatannya.

Tetapi dengan persaingan pasar bebas dan sengit sekarang ini, Go-Jek dan kawan-kawannya bisa menjadi jahat di pasar. Teori “creative destruction” Schumpeter berlaku sebagai bingkai ladang pembantaian pelaku-pelaku usaha sebelumnya.

Negara harus hadir. Go-Jek dan kawan-kawannya bisa dan harus bisa berbisnis dengan hati, mengajak ‘Go-Jek pinggiran’ itu masuk lebih dahulu ke dalam rangkulan teknologi canggihnya.

Ajak dengan baik, mari bersama masuk ke dalam kehidupan yang lebih mudah dengan teknologi. Jangan biarkan mereka cuma menonton kemudian dibantai habis dengan hadirnya teknologi canggih.

 

Sumber

https://news.detik.com/kolom/d-3448264/go-jek-yang-hebat-bukan-go-jek-yang-jahat

http://nasional.kompas.com/read/2016/03/15/08215211/Demo.Tolak.Taksi.Online.Potret.Gejolak.Era.Ekonomi.Digital

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Dian Sinaga

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  1

Kategori

Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0