Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Inovasi & Teknologi: Cara Batam Menjawab Tantangan Krisis Air
Inovasi & Teknologi: Cara Batam Menjawab Tantangan Krisis Air
0 Komentar | Dibaca 204 kali

Sebagai kota Industri yang berbatasan dengan dua negara, membuat Pulau Batam menjadi salah satu Kota Metropolis yang berkembang pesat.

Kota berpenduduk 1.164.352 jiwa (data Disdukcapil Batam tahun 2015) atau naik 158 kali lebih besar sejak dibangun oleh BP Batam pada tahun 1970-an ini, terus mengalami lonjakan jumlah penduduk sebanyak 7 hingga 10 persen setiap tahunnya.

Kondisi ini, menimbulkan kebutuhan air bersih yang cukup tinggi di kota berbentuk Kalajengking ini. Sementara Batam hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air bakunya yang ditampung dalam 5 waduk.

Selain itu, tingginya konsumsi air bersih warga Batam jauh melebihi rata-rata pemakaian kota-kota besar di Indonesia.

Menurut Robert M Sianipar, Deputi IV BP Batam sebagaimana dilansir media cetak mengatakan konsumsi air skala kota besar dalam satu harinya mencapai 150 liter per orang.

Sementara di Batam sendiri mencapai 199 liter perorang dalam satu hari. Sedangkan menurut data di WHO dan Permenkes terkait kebutuhan minimum atas air sebesar 60 liter per orang dalam satu harinya.

“Penggunaan air bersih di Batam sendiri setiap tahunnya selalu bertambah. Pada tahun 2015 mencapai 2.948 liter/detik. Sedangkan pada tahun 2016, mencapai 3.154 liter/detik. Dan diprediksi pada tahun 2017, 2018 dan 2019 pemakaian air di kota Batam bakal mencapai 3.375 liter/detik, 3.611 liter/detik dan 3.864 liter/detik,” terang Robert.

Menyikapi kondisi diatas PT Adhya Tirta Batam (ATB) melakukan langkah-langkah strategis agar dapat memperpanjang masa pakai air baku. Apalagi dengan jumlah pelanggan lebih dari 260 ribu dan cakupan pelayanan sebesar 99,5% tentunya bukan perkara yang mudah. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi angka kebocoran.

Perusahaan air terbaik di Indonesia ini telah mampu menekan angka kebocoran menggunakan berbagai teknologi yang dimiliki hingga mencapai pada posisi yang sangat fantastis. Yakni di angka 15,28 persen pada tahun 2016. Sehingga efisiensi, produktvfitas dan efektivitas dalam pengelolaan air bersih bisa le