Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Opini & Ide

Beranda / Opini & Ide / Memberdayakan Potensi Sastra Pesantren
Memberdayakan Potensi Sastra Pesantren
0 Komentar | Dibaca 201 kali
ASY'ARI @asyari1964
02 March 2017

Setidaknya ada tiga potensi yang memberi ruang bagi tumbuh-kembangnya krestivitas sastra di pesantren. Jika ketiga potensi ini diberdayakan dengan baik, santri akan mampu melahirkan karya sastra secara produktif dan kreatif. Ketiga potensi tersebut adalah energi al-Qur’an, tradisi nazam, dan suasana kehidupan pesantren yang sufistik-religius.

Semua sudah maklum bahwa al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Kitab ini menjadi referensi ritual, sumber hukum, dan mata air hikmah. Namun, lebih dari itu, kitab yang diturunkan Allah pada Nabi Muhammad ini juga memiliki energi estetis yang dahsyat, baik dari segi bentuk maupun isinya.

Dari segi bentuk, al-Qur’an terbukti memiliki struktur kebahasaan yang memesona. Setiap kata tertata secara efektif dan proporsional. Diksinya matang. Penuh daya pukau. Menghidupkan imajinasi. Menggugah emosi. Dengan segala kualitasnya itu, al-Qur’an niscaya memberi ruang tafsir estetis yang menggugah sekaligus daya rangsang kreatif  bagi lahirnya karya sastra, entah puisi entah prosa.

Bahwa al-Qur’an sangat potensial dalam menggugah dan merangsang pembacanya untuk melahirkan karya puisi, hal ini dinyatakan dengan tegas oleh Anniemarie Schimmel, seperti dikutip Abdul Hadi (1985). Menurutnya, al-Qur’an kaya akan simbol dan imajinasi serta merangsang pembacanya untuk mencipta puisi dan melakukan tafsir puitik. Citraan-citraannya dengan mudah dapat dialihkan menjadi simbol-simbol yang benar-benar puitik.

Fakta tentang potensi sastrawi al-Quran ini sejatinya menjadi inspirasi bagi para santri untuk melahirkan karya sastra. Santri tentu sangat dekat dan akrab dengan al-Qur’an. Setiap hari mereka berinteraksi dengan al-Quran. Kalau tidak membaca sendiri, mereka mendengarkannya lewat alunan pengeras suara atau bacaan teman. Dengan kata lain, al-Qur’an dan santri sudah menjadi pasangan sinergis yang selayaknya membuka pintu-pintu kreativitas.

Almarhum H.B. Yassin, sang kritikus besar sastra Indonesia, mengaku menemukan muara estetisnya pada al-Qur’an. Di dalamnya ia menangkap vibrasi dan energi puitik yang dahsyat. Sesuatu yang kemudian menggerakkannya untuk melakukan penerjemahan puitik terhadap kitab suci tersebut. Dari tangannya lahirlah terjemahan al-Qur’an berbentuk puisi, Al-Quran Bacaan Mulia. Padahal, ia tidak memahami bahasa Arab. Terjemahan yang ia lakukan lebih mengandalkan referensi terjemahan al-Qur’an berbahasa Inggris.  Sayang, tak lama setelah terbit dan menginjak pasar, buku ini lalu ditarik ulang. Karya besar ini dianggap tak lumrah, menyalahi kepakeman, dan dikhawatirkan menimbulkan kesalahan pemahaman terhadap al-Qur’an di kalangan masyarakat awam.

Potensi kedua adalah tradisi nazam. Tradisi ini sudah mengakar kuat di lembaga