Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Kisah Kartini Kernet Kopaja dan Pemulung Berjuang demi Keluarga
Kisah Kartini Kernet Kopaja dan Pemulung Berjuang demi Keluarga
0 Komentar | Dibaca 18 kali

Wasito (42), kernet wanita Kopaja 57 rute Blok M-Kampung Rambutan, gigih membantu suaminya yang merupakan sopir Kopaja. Ia mengatakan pekerjaannya sebagai kernet sekadar membantu suami.

“Ya kan pengen bantu suami saja,” kata Wasito saat ditemui detikcom di dalam Kopaja-nya yang melaju di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/4/2017).

Wasito mengatakan dia sudah 1 tahun menjalani profesi ini. Keempat anaknya ditinggalkan di rumah demi penghasilan keluarga tercukupi.
Ia mengaku bantuannya ini agar suami tidak membayar jasa kernet lagi. Alasannya, penghasilan suaminya hanya Rp 60.000 bila penumpang sedang sepi. Lihat Lagi : pembuatan tabung pemadam api

“Kopaja masih setoran kan, kalau dapat Rp 60.000, dibagi dua sama kernet, bedanya cuma 10 ribu, kita Rp 35.000, kernet dapat Rp 25.000,” ujarnya sambil mengetuk-ngetuk koin di kaca pintu Kopaja.

“Saya mah sudah 1 tahun, kalau anak-anak sekolah, saya punya 4 anak, yang paling besar mau bekerja, SMA, SMP, dan paling kecil IV SD,” ucapnya.

Suka-duka juga mewarnai pekerjaan Wasito sebagai kernet Kopaja. Ia bercerita pernah terjatuh dari tangga Kopaja, namun hal itu tak menggoyahkan semangatnya untuk terus bekerja demi keluarga tercinta.

“Harapannya ya pengen makmur, nggak dijajah lagi, pengen cukup saja, saya ikhlas menjalankan seperti ini,” tuturnya.

Sama halnya dengan Bandiyah, ibu 3 anak yang berumur 42 tahun. Ia memulung barang bekas di sekitar Blok M dan sekitarnya demi membantu suami.

“Saya pemulung, suami juga bawa gerobak, anak saya 3 di rumah dua. Ini yang terakhir saya bawa, kasihan kalau ditinggal,” kata Bandiyah saat ditemui detikcom di Jalan Senjaya 1, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/4).

Bandiyah mengatakan, walaupun penghasilannya pas-pasan, ia merasa senang dapat membantu suami. Bandiyah juga menyampaikan, sebagai perempuan, dia merasa bangga bisa bekerja sama dengan suami.

“Saya kerja sama dengan suami, saya senang, bangga, jauh-jauh dari Pulogadung, tapi bisa kerja sama sama suami,” tuturnya.

“Walau sehari dapat 30 ribu, tidak apa-apa, pengennya ya hidup layak, pengen kan kerja sama bantu suami saja,” kata Bandiyah.

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

Ayu Ningtias

Penulis ini masih malu-malu menuliskan sedikit tentang Biografinya
Daftar Artikel Terkait :  7
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0