Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Pendidikan

Beranda / Pendidikan / Pendidikan “Tersembunyi” yang Diajarkan di Pondok Pesantren
Pendidikan “Tersembunyi” yang Diajarkan di Pondok Pesantren
0 Komentar | Dibaca 428 kali

Peran Pondok Pesantren tidak bisa diabaikan begitu saja dari sejarah dan budaya Indonesia, karena pondok memiliki peran penting dalam pendidikan dan penyebaran agama islam di indonesia. Pondok pesantren diketahui sebagai suatu tempat untuk para siswa/i-nya (santri) guna menimba ilmu keagamaan islam, dimana yang membedakannya dengan sekolah, karena biasanya para santrinya juga tinggal menetap di pondok tersebut hingga santri tersebut lulus dari pendidikannya.

Tempatnya juga memiliki ciri khas dimana kebanyakan suatu pondok itu adalah tertutup (memiliki tembok tinggi mengitari pondoknya) untuk mengatur keluar masuk ke pondok tersebut. Namun tahukah kalian tentang pendidikan tersirat yang ada di pondok pesantren yang belum tentu didapatkan di lembaga atau tempat lain? Inilah beberapa pendidikan tersembunyi yang tidak akan kalian dapatkan jika kalian belum mondok.

Belajar Gotong Royong dengan Budaya Ro’an (Bersih Bersih/Kerjabakti Bersama) yang Dilakukan Setiap Minggunya bahkan Setiap Hari

Gotong royong adalah budaya baik yang sudah menjalar dan turun temurun di indonesia dan harus selalu dilestarikan, karena dengan gotong royong tersebut, akan memupuk rasa empati dan saling bekerja sama bahkan menimbulkan sikap taling menolong sebagai mahluk sosial. Fitrah manusia adalah mahluk sosial, yang membutuhkan bantuan orang lain, sehingga dengan belajar gotong royong yang ditanamkan di pondok pesantren berupa ro’an maka nantinya ketika mereka telah lulus dan keluar dari pondok, akan terbiasa dengan budaya ini, dan tidak kagok dengan kehidupan nyata dalam bermasyarakat.

Pendidikan Untuk Selalu Ta’dhim (Menghormati) Para Pengasuh dan Ustadz serta yang Lebih Tua

Pendidikan pondok pesantren untuk selalu menghormati para Kyai (pengasuh pondok pesantren) bahkan kepada semua keluarga Ndalem (keluarga kyai) adalah pelajaran yang tidak banyak diajarkan atau tidak banyak dipraktekkan langsung di lembaga lembaga pendidikan. Dibuktikan dengan memang adanya mata pelajaran siswa/i terkait Moral, atau Akhlak. Namun kalian tau sendiri bahwa moral siswa/i tidak banyak berkembang dan bahkan semakin hancur karena berbagai pengaruh lingkungan. Hal ini berbeda dengan di pondok pesantren, dimana setiap santrinya walaupun tidak ada peraturan untuk mewajibkan Ta’dhim ke Kyai.

Namun sikap itu timbul sendirinya karena wibawa dan tinggi keilmuannya para Kyai, sehingga hampir tidak mungkin setiap santri tidak men-Ta’dhimii para Kyainya. Modal moral inilah yang bisa dibawa oleh para santri yang telah lulus dari pondoknya, untuk selalu mengamalkan dengan menghormati setiap orang yang lebih tua daripada mereka, sehingga tidak mudah menyombongkan diri, dan mudah merendahkan orang lain. Seperti halnya zaman sekarang ini yang semakin banyak kalian tahu.

Ngalap Barokah. Istilah Bahasa Jawa yang Berarti Berharap Mendapatkan Berkah Melalui Kyai di Pondok Pesantren

Ngalap Barokah. adalah bahasa jawa yang jika diindonesiakan artinya Berharap Mendapatkan Barokah. Hal ini biasa diimplementasikan dengan melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan di dalam pondok, semisal menyapu, membawakan kitab Kyai, membersihkan kamar mandi, membersihakn mushallah, dll. Dengan jalan aktifitas itu, para santri berharap akan mendapatkan barokah ilmu yang bermanfaat, atau setidaknya ketularan kealiman dari para Kyainya.

Mencari keridhaan Allah itu bisa dicari dari hal apa saja, seperti hal nya aktifitas tersebut. Sehingga melalui aktifitas itu, Allah akan ridha kepada santrinya dan memberikan keberkahan ilmunya. Itulah pendidikan yang bisa diterapkan dikehidupan nyata di masyarakat oleh para santri ketika sudah terjun langsung di lingkungan masyarakatnya. Bahwa untuk mencapai segala sesuatu hal hal baik pun perlu dilakukan, sebagai cara untuk mencapai sesuatu yang dituju.

Talaman sebagai Pelajaran untuk Selalu Hidup Rukun dalam Keberagaman dan Kebersamaan di Lingkungan yang Heterogen

Berbeda dengan ro’an yang identik dengan sesuatu yang sering tidak disukai, karena malas bersih-bersih. heheheh… Namun Talaman ini sesuatu yang sering ditunggu tunggu oleh para santri akan kedatangannya. Talaman ini sendiri artinya makan bareng dalam satu nampan untuk dimakan bersama yang biasanya 5-7 orang atau lebih. Bahasa inipun berbeda-beda di berbagai daerah.

Seperti Bancaan/Mayoran/Lengseran dan lain lain. Kemudian hal ini mengajarkan apa? Hal ini mengajarkan bahwa dalam Talaman itu, mengajarkan untuk saling berbagi satu sama lain, apalagi berbagi rijeki, yang zaman sekarang jarang dilihat, karena keserakahan dan ketamakan setiap orang. Coba bayangkan jika setiap orang bisa berbagi rijeki satu sama lain, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, mungkin kemiskinan sudah tidak ada di negeri ini, atau bahkan tingkat korupsi tidak semakin meningkat. Budaya Talaman pun tidak mengenal kamu siapa atau seberapa tinggi pangkatnya. Jika kalian kelihatan, maka sebisa  mungkin santri yang lain akan mengajak bahkan sedikit meminta agar kamu juga ikut nimbrung dan ikut menikmati rijeki gratis tersebut. Bayangkan alangkah indahnya jika hal itu ada pada setiap moral anak bangsa.

Belajar Hidup Sederhana dan Bertanggungjawab di Pondok Pesantren

Kenapa harus belajar hidup sederhana? bukankah jika ingin menjadi orang besar, seseorang harus berfikir besar pula? Mungkin itu yang muncul dalam benak beberapa orang, sehingga dalam kehidupannya pun bergaya seperti orang kaya atau orang besar. Namun apakah kalian juga berfikir, bahwa sebelum seseorang itu benar benar menjadi orang besar dan kaya, mereka tidak serta merta langsung menjadi kaya, melainkan membuthkan proses dari bawah. Hal inilah yang ingin ditanamkan pada setiap santri yang menimba ilmu di pondok pesantren untuk hidup sederhana, guna belajar dan bisa merasakan rasanya menjadi orang yang kekurangan.

Sehingga seorang santri jika sudah lulus, bisa lebih prihatin dan tidak hidup dalam kemewah-mewahan atau berfoya-foya. Selain itu, para santri juga mau tidak mau ditanamkan untuk bertanggungjawab, seperti terkait pakaiannya yang harus dicuci sendiri, kebersihan kamarnya, dll. Hal tersebut untuk mendidik agar para santri nantinya tidak mengandalkan dan bergantung pada orang lain, sehingga bisa mandiri dan tanggungjawab terhadapat dirinya dan kebutuhannya sendiri. (FHF)

Sumber

Harap tunggu, laporan sedang dalam proses submit....

Anda harus login untuk berkomentar. Login Sekarang

Penulis Lainnya

KHAIRULLAH

Guru yang mengajar anak-anak desa, ingin membuat mereka trampil, berpengetahuan dan bersikap yang baik
Daftar Artikel Terkait :  4
Layanan ini diselenggarakan oleh PT. TELKOM INDONESIA untuk dunia pendidikan di Indonesia.
Mari kita majukan bangsa Indonesia, melalui pemanfaatan Teknologi Informasi yang tepat guna
pada dunia pendidikan Indonesia.
Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan
versi 2.0