Tutorial DasarSIAP Wacana

Artikel Kategori // Lain-Lain

Beranda / Lain-Lain / Terima Kasih Guruku
Terima Kasih Guruku
0 Komentar | Dibaca 125 kali

DALAM berbagai pelatihan guru, saya sering kali mengajak peserta untuk mengingat dan mengenang sosok-sosok guru yang paling dinyanyikan dan berjasa meraih kesuksesan hidup kita hari ini. Lalu, saya minta mereka memanggil nama dan pada strata sekolah apa, dan kelas berapa.

Banyak peserta terbagi tiga kategori. Ada yang jawabannya mengambang, tidak memiliki ingatan, dan kesan kuat terhadap guru gurunya. Lalu ada yang bisa panggil beberapa nama dan kenangan kuat yang masih terekam.

Ada lagi yang bisa menceritakan lebih detail, lebih banyak nama guru yang suka dan sosok sosok itu sangat terekam kuat dalam ingatan. Apakah kelebihan dan keunikan mereka sehingga pantas bagi kasih dan mendoakan mereka. Lihat lagi: penggunaan tabung pemadam api

Setelah selesai berbagi cerita tentang guru, lalu saya lontarkan pertanyaan; Andaikan murid-murid anda disurvei dibagi pertanyaan, apa kesan mereka tentang anda, apakah kira-kira jawaban mereka? Jangan-jangan tak berbekas di hati para siswa.

Jadi, ingat kepala sekolah semakin besar evaluasi untuk memotret respon murid terhadap guru dan sekolahnya. Ini penting dilakukan untuk peningkatan kualitas guru-guru, karena fase dan proses sekolah yang dijalani siswa dari tahun ke tahun ibarat menata batu bata untuk bangunan kepribadian seseorang yang akan berenergi kuat pada perjalanan hidup sampai tua. Jangan sampai bibit unggul siswa malah tidak berkembang karena gurunya yang salah asuh.

Saya merasa beruntung bertemu guru dan dosen yang mengukirkan kesan kuat dalam memoriku. Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, saya masih ingat bahkan hatiku catatan siapa guru dan dosen yang berjasa dan punya andil membentuk diriku.

Saat SD, dulunya namanya SR atau sekolah rakyat, saya pernah malas bersekolah. Protes pada kondisi keluarga yang tidak nyaman. Ibuku meninggal saat umurku masuk sembilan tahun. Entah selang berapa lama, ayahku kawin lagi, dan tidak lama ibu tiriku meninggal. Lalu, ayahku kawin lagi untuk yang ketiga kali.

Saya masih ingat waktu itu populer lagu ibu tiri yang cukup enak menyayat dan menyudutkan ibu tiri. Setelah besar, saya baru sadar lagu itu provokatif, tidak mendidik.

Tetapi yang pasti, dulu saya tidak betah di rumah karena kehilangan gravitasi seorang ibu kandung yang kata tetangga sangat memanjakan saya. Ketika saya enggan sekolah, Pak Suparmin, guruku kelas tiga SD, datang ke rumah membujuk agar saya bersekolah lagi. Dia orangnya lembut, wajahnya selalu senyum, dan sabar menghadapi anak didik.

Ada lagi guru-guruku lain di SD yang semuanya baik, melakukan pendekatan pribadi p